PPG Prajabatan Mandiri Pukulan Telak ke Guru Honorer – Kendari Pos
Nasional

PPG Prajabatan Mandiri Pukulan Telak ke Guru Honorer

KENDARIPOS.CO.ID — Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim mengkritisi program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Mandiri yang hanya untuk fresh graduate. Kebijakan itu dinilai diskriminatif karena menutup peluang guru honorer. “Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyatakan bahwa pendidikan profesi guru atau PPG hanya diperuntukkan bagi fresh graduate sesungguhnya adalah pukulan telak bagi guru-guru honorer yang sampai hari ini ini belum dinyatakan lulus PPG,” kata Ramli, Selasa (12/11).

IGI berharap pemerintah membuka kembali kesempatan para guru honorer yang tidak lagi dikategorikan sebagai fresh graduate untuk mengikuti PPG Prajabatan Mandiri. Pemerintah seharusnya membuka kesempatan sama atau bahkan lebih mendahulukan para honorer yang telah lama mengabdi untuk mengikuti PPG Prajabatan Mandiri yang sebenarnya biayanya ditanggung sendiri oleh peserta PPG.

Ramli juga memastikan bahwa IGI akan terus berupaya keras agar sistem honorer ini dihapuskan. Karena sesungguhnya sistem ini adalah bentuk penghinaan pemerintah terhadap profesi guru. “Dengan adanya kesempatan PPG yang hanya diberikan kepada fresh graduate maka semakin sempurna penghinaan tersebut terhadap para guru honorer yang selama ini dibayar murah oleh negara,” ujarnya.

Selain itu, dengan kejadian ini sesungguhnya harapan guru honorer untuk berkarir dalam dunia pendidikan semakin menipis. Padahal sudah puluhan tahun para guru honorer ini keberadaannya diandalkan dalam dunia pendidikan. Dia menilai berbagai kebijakan pemerintah semakin membuat peluang guru honorer memiliki status aparatur sipil negara (ASN) makin kecil. Padahal bertahun-tahun, pemerintah sudah diuntungkan secara finansial dengan mempekerjakan guru honorer yang digaji tidak layak. Ada yang Rp.100 ribu per bulan.

“Saya agak kecewa dengan kebijakan Kemendikbud soal Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Mandiri ini. Padahal itu peluang guru honorer mendapatkan sertifikat pendidik sebagai syarat dalam mengikuti seleksi ASN. Kalau prioritasnya guru fresh graduate, peluang guru honorer makin tipis dong,” kata Ramli.

Dengan harapan yang semakin tipis ini, lanjutnya, mungkin sebaiknya para guru honorer menyerahkan urusan pendidikan kepada negara dengan bersama-sama meninggalkan ruang ruang kelas dan memenuhi aturan pemerintah agar pengangkatan honorer dihentikan.
Dengan cara itu, lanjutnya, barangkali pemerintah akan tersadar betapa ruang-ruang kelas itu selama ini diisi oleh guru-guru honorer. Yang statusnya tidak jelas, pendapatannya tidak jelas tetapi jelas kinerjanya dalam meningkatkan pendidikan Indonesia.

“Karena itu akan jauh lebih baik jika guru guru honorer ini bersatu padu meninggalkan ruang ruang kelas sehingga pemerintah mengetahui seberapa besar kelumpuhan dunia pendidikan kita tanpa adanya guru-guru yang tidak dianggap oleh pemerintahnya,” tegasnya. “Jangankan harapan untuk menjadi PNS. Bahkan untuk mengikuti PPG Prajabatan Mandiri pun yang mereka bayar dengan uang yang tidak seberapa dari pendapatan mereka, juga tidak diberikan kesempatan,” sambungnya. IGI berharap para guru honorer yang masih memenuhi syarat usia, bisa berjuang menembus ketatnya persaingan menjadi PNS dalam seleksi CPNS 2019. (esy/jpnn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy