Potret Buram Guru Honorer : Tidak Manusiawi, Gaji Kecil Dituntut Bekerja Maksimal – Kendari Pos
Nasional

Potret Buram Guru Honorer : Tidak Manusiawi, Gaji Kecil Dituntut Bekerja Maksimal

Prof. Dr. Abdullah Alhadza

KENDARIPOS.CO.ID — 25 November ini adalah Hari Guru Nasional. Di tiap momentum serupa, kesejahteraan guru selalu menjadi sorotan. Pasalnya, masih banyak problematika kesejahteraan guru yang belum terpecahkan meski pergantian rezim telah berkali-kali. Khususnya guru honorer di tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) dan SMP.

Di Sultra, kehidupan guru honorer SD dan SMP masih jauh dari kata sejahtera. Suara pahlawan tanpa tanda jasa tersebut agar hidup sejahtera terus bergema. Berharap suara mereka mendapat perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.

Musdalifa adalah salah satunya. Guru honorer yang mengabdi di SDN 2 Lalembu, Kecamatan Lalembu, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Sejak tahun 2015 dia mengabdi di SD itu namun pendapatannya masih jauh dari kata memadai. Sebulan di beri jatah Rp.400 ribu. Honornya diterima saban tiga bulan atau sekira Rp.1,2 juta. Sebelum di SD Lalembu, Musdalifa mengajar di SD Tinanggea mulai tahun 2013

Musdalifa menafkahi dua orang anaknya dari pendapatannya sebagai guru honorer. “Tentu saja honorku tidak cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara beban kerja yang kita pikul sama dengan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yang berbeda hanya gaji kami,” ujarnya kepada Kendari Pos saat dihubungi, Minggu (24/11).

Dia berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan para guru honorer. “Melalui peringatan hari guru nasional ini, semoga pemerintah pusat maupun daerah memperhatikan kami para guru honorer yang setiap hari tanpa lelah memberikan ilmu pengetahuan kepada ratusan siswa yang ada dipelosok ini,” ungkapnya.

Berbanding terbalik dengan Musdalifa, Laode Ridwan Abdillah merasa lebih beruntung daripada guru honorer di pelosok.
Guru honorer SMKN 6 Kendari ini mengaku penghasilannya mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Sultra.”Mungkin saya sedikit lebih terbantu dengan insentif dari Pemprov Sultra. Sebab sejak 2018, saya mendapat penghasilan tambahan atau insentif sebanyak Rp.400 ribu per bulan. Honor guru honorer, saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di tengah harga kebutuhan terus naik. Tentu tidak cukup,” ungkapnya.

Laode Ridwan Abdillah punya harapan yang sama dengan Musdalifa agar perhatian pemerintah pusat khususnya guru honorer di daerah agar lebih ditingkatkan.

Ketua Dewan Pendidikan Sultra, Prof. Dr. Abdullah Alhadza, mengatakan, kondisi guru honorer atau guru tidak tetap di Sultra saat ini sangat memprihatinkan. “Guru PNS sudah ada tunjangan sertifikasi. Gajinya lumayan untuk memenuhi kebutuhan sebagai pengabdi di bidang pendidikan. Berbeda dengan guru honorer. Kondisinya masih memprihatinkan. Mereka dibayar belum sesuai dengan penghasilan layak bagi seorang pendidik,” ungkap Abdullah kepada Kendari Pos, Minggu (24/11).

Ini terjadi di seluruh daerah Sultra. Bahkan, di daerah-daerah pelosok ada yang diupah sekira Rp.300 ribu per bulan. Menurut Prof.Abdullah, sangat tidak manusiawi dengan gaji kecil itu, mereka dituntut bekerja maksimal. Terlebih lagi tak ada perbedaan antara pelamar umum dan pelamar dari kalangan honorer yang sudah lama mengabdi dalam seleksi CPNS. “Selama ini, mereka tidak keberatan mengabdi sebagai honorer karena ada harapan kelak diangkat menjadi PNS. Tapi dengan adanya kebijakan baru, ini tentu memberatkan mereka,” imbuhnya.

Dia juga menyoroti banyaknya beban administratif yang dibebankan kepada guru sehingga substansi dari tugas mengajar dan mendidik tidak menjadi prioritas. Tuntutan-tuntutan administrasi yang kurang efektif tersebut, kata dia, telah banyak menyita waktu guru tanpa menghasilkan kemajuan kualitas pendidikan. “Pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus bahu membahu mewujudkan kesejahteraan guru,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Sultra, Abdul Halim Momo mengatakan, jumlah guru homorer yang ada di Sultra masih cukup banyak. Kondisi ini menjadi persoalan kompleks terkait kesejahteraan guru honorer. “Kita terus menyuarakan kesejahteraan para tenaga guru honorer di Sultra. Gaji guru honorer masih sangat perlu ditambah,” ujarnya.

Salah satu dosen FKIP UHO ini mengimbau seluruh guru honorer di Sultra untuk terus mempesembahkan pengabdian dan karya terbaik kepada siswa. Abdul Halim meminta guru honorer terus meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam belajar mengajar. “Menjadi guru adalah pekerjaan sangat mulia,” ungkapnya.

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy