Keturunan Penguasa di Parlemen : Sistem Pemilu Indonesia Beri Peluang Oligarki Politik

Menurut Dodi, fakta bahwa hanya orang-orang dengan sumber daya memadai, termasuk keluarga pejabat, yang berpeluang besar memenangkan kontestasi politik, bukan sepenuhnya salah para elite. Indonesia yang kini menganut sistem politik proporsional terbuka, dengan sistem pemilihan umum (Pemilu)-nya, memungkinkan terciptanya oligarki. “Secara konstitusi memang dibenarkan. Tahun 1999 hingga 2004, sistem Pemilu kita sudah bagus. Hanya orang-orang terpilih yang bisa jadi memimpin,” ungkapnya.

Ibarat parasit, maka butuh ramuan yang tepat untuk menghilangkannya. Satu-satunya cara, terang Dodi, yakni dengan merubah aturan Pemilu. Tidak boleh lagi ada aturan yang hanya memberi peluang figur-figur dengan resources memadai. Trah penguasa yang memiliki akses memadai akan memiliki kecakapan individu yang mupuni pula.

Namun, kata Dodi, para politisi muda masih memiliki peluang untuk melakukan investasi sosial selama menjabat saat ini. Sepanjang mau berpihak kepada rakyat, di masa depan ketika tampil dalam kontestasi politik, rakyat pasti akan memberikan dukungan. “Dengan sistem politik saat ini, hanya hati nurani yang bisa menuntun mereka agar memiliki etika yang baik dalam berpolitik. Kita tidak punya alat lain untuk mengontrol mereka. Sekali lagi, yang bermasalah adalah sistem Pemilu kita,” pungkasnya. (uli/b)

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *