KENDARIPOS.CO.ID — Kerangkeng hanya mengurung fisik penjahat narkoba jera. Lamanya masa tahanan tak membuat mereka jera “bermain” narkoba. Peredaran ganja dan serbuk “setan” sabu-sabu masih saja bebas mereka kendalikan dari balik jeruji. Fisik boleh saja terkungkung jeruji. Anteknya terus bergerak mengedarkan narkoba. Pengendalinya
bebas memberi komando dari balik bui. Kurir yang tertangkap polisi atau BNN selalu mengaku dikendalikan napi narkoba diduga dari balik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Pola komunikasi sangat rapi. Bisa melalui kurir, memanfaatkan orang dalam hingga bebasnya menggunakan ponsel.

Semester pertama warsa ini saja, sekira 25 pelaku-kurir- tertangkap jajaran Polda Sultra. Kurir menyebut mendapat “perintah” dari Lapas Kendari. Tak berlebihan jika disebut kendali “setan” dari balik jeruji. Pesimisme pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba menyeruak ke permukaan. Para pengendali belum masih berada di tempat aman. Terungku justru menjadi tempat aman pemain narkoba mengendalikan kaki tangan dan mengeruk rupiah dari setiap gram sabu.

9 September lalu, NS (30) residivis narkoba tertangkap oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Kendari dalam komando Iptu Gusti Komang Sulastra membekuk NS di Kecamatan Kandai, Kendari. Barang bukti ditemukan yakni 76 paket kecil sabu dan 2 paket besar. NS mengaku sebagai kurir sabu yang mendapat perintah dari balik Lapas Kendari. Jasanya dihargai Rp.400 ribu antar paket 5 gram sabu.

4 Oktober 2019, tim Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra menciduk kurir sabu berinisial OP dan AAS yang diduga jaringan yang dikendalikan di balik Lapas Kendari. Mereka ditangkap di Kabupaten Kolaka. “Kami dalami terus, dan arahnya ternyata jaringan Lapas Kendari,” kata Plt.Kabid Pemberantasan BNNP Sultra, Kompol Anwar Toro saat itu. Pihak BNNP terus berkoordinasi dengan pihak Lapas Kendari, jika mendapatkan kurir yang dikendalikan dari Lapas.

Dari kerja keras itu, BNNP Sultra mengidentifikasi pelaku yang diduga menjadi pengendali dari balik Lapas Kendari. Mereka adalah Fajar Tamrin, dan Talis. BNNP juga berhasil mengungkap empat narapidana yang terlibat menyuplai narkoba di Lapas Kendari. “Kalau yang empat orang narapidana memang hanya niat memakai narkoba. Pihak Lapas yang mendapati, lalu menghubungi BNNP. Tapi kalau dua orangnya kami indikasikan sebagai pengendali,”ujar Kompol Anwar Toro.

Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt menyebut ada puluhan kilogram narkotika telah dimusnakan Polda Sultra. Sebagian barang bukti itu disita dari tangan kurir yang digerakkan pengendali dari Lapas Kendari. Data Polda Sultra ada 25 orang pelaku yang diamankan. 23 orang laki-laki dan 2 orang adalah wanita yang berstatus ibu rumah tangga. “Memang cukup banyak yang diamankan. 25 orang ini di luar dari pelaku yang ditangkap dan bukan sindikat Lapas Kendari,”ujarnya kepada Kendari Pos, beberapa waktu lalu.

Pengendali serbuk “setan” jika memanfaatkan kaum hawa sebagai kurir. 14 Agustus 2019, Ditresnarkoba Polda Sultra dalam Komando Kombes Pol Satria Adhi Permana menangkap seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial ML (42) yang diduga sebagai kurir. Dia hendak membawa 60 gram sabu ke Kabupaten Muna. ML mengaku diperintah seorang napi dari Lapas Kendari. Setelah pengembangan ditemukan sabu 794 gram yang di simpan di rumah ML. “Total paket sabu yang diamankan sekira 854 gram,” kata Wadir Ditresnarkoba Polda Sultra, AKBP La Ode Aris Elfatar ketika itu.

Awal September 2019, Ditres Narkoba Polda Sultra menangkap HI (41), seorang ibu rumah tangga saat membawa sabu. HI mengaku mendapat perintah dari seseorang di Lapas Kendari. “Kenapa ini dilakukan, pengendali berpikir polisi akan sedikit kesulitan jika mengidentifikasi perempuan,” timpal Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt. Selain itu, oknum orang dalam Lapas ikut “berkontribusi” mengedarkan narkoba. Diduga tergiur lembaran rupiah, oknum pegawai Lapas Kendari, KHR (34) rela menjadi kaki tangan bandar narkoba. Dia menyuplai narkoba jenis sabu ke dalam Lapas dan dibekuk tim BNNP Sultra, Selasa (30/7) lalu.

Enam kali KHR memasok sabu ke Lapas atas perintah napi Lapas bernama Arman dan Talis. Pengungkapan kasus itu tak lepas peran pimpinan Lapas yang berkoordinasi dengan BNNP Sultra. “Memang benar pegawai Lapas ditangkap BNNP berkat hasil koordinasi kami. Ternyata dari komunikasi melalui HP tersebut dia ditangkap,” ujar Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkuham Sultra, Muslim, ketika itu. Para napi narkoba seakan tak jera dengan hukuman.

Meski berada di balik jeruji, napi masih saja keranjingan dengan serbuk sabu. Oktober lalu, pengedar sabu, Aswar Jamaluddin diciduk saat memasok sabu ke dalam Rutan Kendari. Aswar adalah tahanan BNNP dan akan dilimpahkan ke Rutan Kendari. Sabu disembunyikan Aswar di dalam handuk yang diberikan keluarganya. Saat akan masuk sel, Aswar diperiksa, sabu terjatuh dari balik handuk. Kepala Rutan Kendari, Iwan M lalu melaporkan ke BNNP Sultra. Insiden seperti itu telah beberapa kali terjadi pada Oktober ini. Sebelumnya, pihak Rutan menemukan sabu di pelataran Rutan. “Pokoknya kami tidak main-main dengan narkotika,”kata Iwan saat itu. (ade/b)