Kemendagri Usul Evaluasi Pilkada Secara Mendalam

“Jika ada opsi (memberlakukan) pilkada asimetris. Ini semua harus jelas seperti apa asimetrisnya. Maksudnya mana daerah yang nantinya (bisa pilkada) langsung dan mana yang nantinya tidak langsung,” terang Bahtiar.

Lebih jauh, Bahtiar menyebut Pilkada secara asimetris itu jika merujuk kepada tiga contoh daerah di atas, ada tiga metode berbeda yang dapt digunakan. Jadi bukan hanya Pilkada langsung atau tidak langsung. “Artinya asimetris itu variannya bisa banyak. Bukan hanya pemilihan secara langsung (dengan kotak suara) dan tidak langsung (dipilih DPRD). Masih bisa kita modifikasi lain-lain,” tukas Bahtiar.

Sebelumnya, wacana Pilkada asimetris pertama kali diungkapkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Dia berharap adanya kajian indeks kedewasaan demokrasi pada tiap-tiap daerah terkait Pilkada langsung.

Tito mengatakan, hasil kajian indeks kedewasaan demokrasi itu akan menjadi opsi mekanisme pilkada dilakukan secara asimetris. “Salah satunya sistem asimetris, sistem yang tadi disampaikan. Kalau asimetris berarti kita harus membuat indeks democratic maturity, yaitu kedewasaan demokrasi tiap daerah,” kata Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11). (jpg)

Facebooktwittermail

Laman: 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.