Keluhan di Pesisir Tambang, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Keluhan di Pesisir Tambang, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Hasdar, Ummeng dan Sennawi mengeluh. Endapan lumpur tanah merah sudah menimbun batu karang, tempat ikan berkumpul. Hasdar dkk memprediksi, ratusan hektare taman batu karang telah tertimbun oleh karena endapan sungai Muara Lapao-pao.

Sebagai nelayan, yang tadinya hanya dekat dan gampang mencari ikan, setelah tambang beroperasi di pesisir sungai dan muara, menjadikan kesulitan mencari ikan. Dan, jauh.

Bayangkan, pergerakan kapal nelayan Samaturu sudah melego jangkar di perairan Selayar. Suatu kawasan yang tak pernah terbayangkan ketika perusahaan tambang belum beroperasi di kawasan ini. Kata orang, dengan tambang bisa kaya dan sejahtera, tapi, bagi kami, tambang telah menyebabkan kemiskinan dan hidup susah. Ummeng dan Sennawi mengeluh. Nelayan Kelurahan Tonganapo lainnya pun seperti itu.

Tambang mana? Mereka tak tahu. Perusahaan apa? Juga tak tahu. Takut menyebut nama perusahaan tambang? Mungkin, ya. Yang mereka tahu hanyalah dari informasi liar seperti ini: izin tambangnya hanya batuan, tapi yang diolah tanah nikel.

Informasi liarnya begini: Yang mengolah adalah perusahaan tak berizin namun setelah pengapalan menggunakan perusahaan lain yang berizin.

Informasi liarnya: perusahaan pemilik izin seolah-olah diam tak beraktifitas. Sebaliknya, perusahaan tak berizin beraktivitas dan seolah-olah tak mengapalkan. Mengolah tanah nikel menggunakan izin pasir batu setelah dikapalkan menggunakan izin perusahaan lain.

Nelayan setempat hanya kagum berujar: “mereka cerdas.” Perusahaan apa? Mereka tak tahu persis. “Kan ada inspektur Tambang Pak. Kan ada Polisi Pak,” kata Hasdar.

Bukan saja Ummeng dan Sennawi yang mengeluh. Petani di pesisir tambang Torobulu juga begitu. Bedanya, tanah tempat mereka bermukim telah dikelilingi area tambang. Bila perusahaan tambang menutup akses jalan, pemukim di Desa Wonua Kongga pun bisa kesulitan akses masuk kota Torobulu. Tapi, sejauh ini, belum terjadi.

Yang terjadi hanyalah area-area galian yang jika musim penghujan menjadi tempat genangan air. Tidak sehat. Mau dijadikan lokasi cocok tanam juga tak bisa karena tanah tandus yang sudah terkikis humusnya maupun tanah-tanah permukaannya. Perusahaan apa? Petani juga tak berani menyebut nama. “Kan ada inspektur tambang”. Keluhan petani dan nelayan baru sebatas itu.

Keluhan pejabat di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral lain lagi. Banyak hal yang dikeluhkan, dan jika semua hal yang dikeluhkan itu ditulis, kira-kira sedikit kalau hanya 10 halaman koran. Satu item keluhan saja, sudah cukup banyak. Misalnya, item penggunaan BBM nonsubsidi. Nampaknya, daerah bisa meraup duit miliaran rupiah dari penggunaan BBM nonsubsidi ini. Dan, halal.

Dari penjelasan pejabat itu, dengan jumlah perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Sulawesi Tenggara, kira-kira, uang dari penggunaan BBM nonsubsidi, kalau hanya uang untuk membangun Rumah Sakit Jantung, sedikitlah.

Untuk melacak ini ternyata tidak sulit. Caranya, minta data keluaran BBM nonsubsidi di Pertamina lalu bandingkan dengan jumlah kuota tanah merah yang telah dikapalkan. Rasionya kan sudah ditentukan dalam rumus dan itu telah diteken dan berstempel. Artinya? Ditaati dapat duit, dilanggar dapat penjara.

Lalu siapa yang akan meluruskan prosedur tambang yang dibelo-bengkokan itu? Ada inspektur tambang. Ada petugas ESDM. Ada Tim terpadu. Ada KPK. Ada Polisi. Ada Polairud. Ada petugas Syahbandar dan kepelabuhanan. Ada bea cukai. Ada LSM lingkungan. Ada Green Peace. Ada Pemda. Ada Pemprov. Kata lirik lagu Oma Irama: “Dan, masih banyak yang lainnyaaaa.”

Sebenarnya, proses produksi dan tata niaga tambang nikel telah diatur untuk kebaikan semua. Hanya, kita masih mencari pejabat yang komit dan berintegritas serta pengusaha komit dan berintegritas pula untuk mewujudkan semua itu.

Nah, sekarang ini, saatnya untuk mewujudkan semua itu. Dari seluruh peringatan yang ada, baik langsung maupun tidak langsung, insya Allah, Allah telah menyadarkan kita semua.

Peringatan 1: Bahwa, pengolaan tambang yang tak hirau dengan Jamrek alias jaminan reklamasi, akan melahirkan banjir setinggi bumbungan rumah. Dan, itu sudah terjadi.

Peringatan 2: Bahwa uang tambang rawan dengan ketidak-halalan dan jika kita larut dengan dolar tambang maka kita hanya akan kaya sesaat setelah itu berakhir ngkima-ngkima. Apa itu Ngkima-ngkima? Ngkima-ngkima ialah: Bekas Orang Kaya Raya yang Sekarang Kerjanya Melamun Memikirkan Kapan Saya Kaya Lagi Namun Otak Sudah Linglung-linglung.

Peringatan 3: Bahwa musim panas sudah demikian panjangnya. Panasnya sudah tak ketulungan. Jangan-jangan, ini juga peringatan bahwa kita, terutama para pengambil kebijakan dianggap wewenang dan keputusannya tak lagi ramah lingkungan. Dia bilang Tuhan: Saya kasih kamu jabatan dalam rangka perbaikan dan kemakmuran semua, bukan hanya mengurus kemakmuranmu sendiri. Kalau hanya untuk dirimu sendiri, La Talo yang tak punya wewenang dan jabatan, tak punya stempel, tak punya ajudan, dia hanya tukang batu tapi bisa hidup rukun dan bahagia.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy