Greatest Enemy, Oleh : Prof.Hanna – Kendari Pos
Kolom

Greatest Enemy, Oleh : Prof.Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Teman saya, Sahirin Osman,pemilik block the fakawi Traveller adalah seorang penjelajah dunia asal Malaysia.Dia berkunjung ke Kendari dalam rangka bisnis dan sekaligus traveling di Sultra. Beberapa lokasi dinilainya sangat tepat untuk mengembangkan proyek bertaraf internasional. Sebagai seorang yang hobi berpetualangan dari satu negara kecil ke negara kecil lalu memasuki negara sebesar Indonesia, bagi Sahirin Osman adalah sebuah perubahan interpretasi dalam memahami kultur.

Ia banyak bercerita tentang negara yang ia kunjungi seperti Sudan, Simbabwe, Uganda, Ethopia, Kameron. Tidak ketinggalan cerita perbandingan perilaku kehidupan masyarakat dan keadaan kultur lingkungannya. Sebagai seorang travellers, Sahirin mengagumi Sulawesi Tenggara, tremasuk Kota Kendari dan Kabupaten Konsel dalam perspektif kehidupan budaya dan keramahtamahan masyarakat. Pandangannya tentang kondisi alam Sultra yang curam dan pegunungan tak luput dia ulas. “Mr.Hanna, how about the greatest enemy here?”tanya Sahirin.

Untuk menjawab itu, saya termenung untuk mencari benang merah dari kondisi alam beberapa dunia yang menurutnya curam, tapi tidak securam di Sultra. Demikan juga perilaku budaya di Sultra yang menurutnya sangat bersahaja, cuaca panas, dan aspek lain yang membuat dirinya betah tinggal beberapa hari di Kendari. Saya mencoba mencari makna Greatest Enemy itu yang menurut Sahirin adalah ”ego” tetapi di dalam kamus, istilah ini berarti “musuh besar”. Mungkin berangkat dari kedua makna inilah sehingga Jason Kasper menulis sebuah buku Greatest Enemy, lalu membuat film yang dibintangi David Rivers seorang Ranger Angkatan Darat–seorang veteran perang perang di Afghanistan dan Irak.

Prof Hanna

David Rivers hampir menyelesaikan tahun terakhirnya di West Point ketika dunianya terbalik lalu memilih keluar dari dinas militer. Marah dan bingung, David segera mencapai titik terendah. Dan saat itulah, tiga pria misterius muncul. Pria yang tahu rahasia gelap David–mereka tahu bahwa dia telah membunuh seseorang. Dan mereka ingin dia melakukannya lagi. “David Rivers setara dengan Jack Reacher atau Mitch Rapp.” Demikian sekilas yang saya baca dari serial American Mercenary. Jason Kasper mendidih dengan aksi berani, lokal eksotis, dan intrik memukau.

Mark Greaney, # 1 NYT Bestselling Penulis seri Grey Man mengatakan aksi itu “Membuatku kaget. Meledakkan genre pembunuh-aksi-anti pahlawan. Asli, berani, memukau di setiap level.” “Ini adalah pertama kalinya dalam 30 tahun aku diguncang oleh penulis baru.”Dari cerita di atas Jason Kasper memberikan pengalaman yang menegangkan dengan seri American Mercenary. Thriller yang tak terlupakan dan penuh aksi ini sangat cocok untuk penggemar Mitch Rapp, Jason Bourne, dan Jack Reacher.

Dalam kamus bahasa Indonesia kata musuh dan lawan merupakan dua istilah yang sama dari satu sudut pandang tetapi dalam pandangan lain kedua istilah ini sangta berbeda. Kata “musuh” adalah lawan yang dibiasanya digunakan pada saat-saat yang sangat mengenangkan akibat emosi seperti (berkelahi, bertengkar, berperang, berjudi, bertanding, dan sebagainya).

Kata musuh bisa diidentikkan dengan bandingan, imbangan, dan tandingan sehingga dapat dikatakan bahwa kata musuh adalah sesuatu yang mengancam (kesehatan, keselamatan); dan yang merusakkan. Sedangkan kata lawan dalam kamus umum bahasa Indonesia berati imbangan; bandingan; tandingan atau bisa juga berarti pasangan; teman: sehingga dapat dimaknai bahwa lawan adalah satu perbuatan yang menuju pada hal–hal positif yang diperlukan dalam melakukan suatu aktivitas pembanding atau tantangan untuk kesuksesan.

Jadi benarlah nasihat orang tua kita bahwa cari lawan tapi jangan cari musuh. Hal ini sangat tepat sebab musuh merupakan suatu yang sangat merusak baik dalam tatanan kultur kehidupan masyarakat maupun kultur politik. Oleh karena itu musuh perlu dihindari sedangkan lawan bisa dicari untuk meraih sukses. Kembali pada pertanyaan Sahirin Osman tadi, saya menjawab bahwa Greatest Enemy di Sultra belum saya temukan. Lalu saya meyakinkannya bahwa Sultra ini adalah miniatur Indonesia. Seluruh suku di Indonesai, ada di Sultra, seperti, Batak, Bali, Makssar, Sasak, Bugis dan suku-suku lainnya. Tak ada konflik. Sultra ini sangat aman untuk investasi.

Kami hidup rukun damai dalam bingkai kebhinekaan. Begitu juga dari sudut pandang agama, semua agama ada di sini. Masjid dan geraja satu dinding dan tidak ada perbedaan. Kami laksanakan agama dengan lakum dinukum waliyadin. Hampir 120 bahasa yang ada di Sultra hidup dan tidak saling menginterferensi. Saya paham akan pertanyaannya yang seakan-akan mengkhawatirkan Sultra dari aspek lawan dan musuh karena ia seorang utusan perusahaan tempatnya bekerja. Sehingga saya jelaskan bahwa jangan takut berinvestasi. Sultra ini aman, damai dan terjaga. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy