Cingkrang Menggebrak, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Cingkrang Menggebrak, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Andai Presiden Jokowi mengenakan celana cingkrang, apakah negeri ini akan kiamat? Tidak. Akan kacau balau? Tidak. Andai Jokowi mengenakan celana cingkrang, apakah semua orang akan jadi radikal? Tidak. Apakah tindakan radikal hanya dilakukan oleh orang-orang bercelana cingkrang?

Sejak kapan “kata” Radikal dilahirkan? Dan, sejak kapan pula celana cingkrang dipakai. Mana yang duluan lahir di bumi ini, celana cingkrang atau kata Radikal?

Andai radikal itu disamakan dengan perbuatan nakal, maka Qabil-lah pelaku radikal pertama di dunia. Apakah ketika Qabil membunuh Habil, sudah ada celana cingkrang saat itu? Belum.
Lalu? Pemikiran apa yang melandasi hingga perilaku jahat yang sudah ada di zaman Qabil-Habil pada jutaan tahun silam, mau diatasi dengan menghapus celana cingkrang, dimana usia celana cingkrang ini kayaknya lebih tua usia kasuami (makanan khas berbahan singkong).

Sekarang kita balik. Tak ada hubungan antara cingkrang dengan kekacauan apalagi perang. Buktinya, ketika mula Belanda menjajah Indonesia, apakah karena Belanda banyak yang pakai cingkrang? Tidak.

Indonesia pernah dijajah Jepang, apakah orang-orang Jepang bercingkrang? Tidak. Kerusuhan Papua apakah karena celana cingkrang? Tidak juga. Terus, untuk apa kau urus celana cingkrang jika penyulut dari tindakan radikal, tindakan radikalis Papua yang disebut dengan kelompok bersenjata itu bukan faktor cingkrang?. Atau, apakah imbauan untuk tidak mengenakan celana cingkrang hanya berlaku dari Sabang sampai Halmahera, bukan Sabang sampai Merauke, mengingat pengacau Papua bukan radikalis tapi Organisasi Papua Merdeka (OPM)?.

Ingatlah ketika kemeja putih hanya dikenakan oleh anak-anak SD, SMP dan SMA. Masih ingat kan? Masih. Kapan itu? Sebelum Jokowi jadi presiden. Setelah Jokowi jadi presiden, dari sisi seragam PNS, apakah ada yang berubah? Ada. Apa yang berubah? Seragam putih ASN di hari (kalau tidak salah) Rabu dan Kamis. Kayaknya, seluruh pejabat ASN, dengan bangga mengikuti corak dan warna kostum Presiden Jokowi. Serentak, seketika dan, tanpa imbauan. Artinya, orang Indonesia ini sesungguhnya berbudaya taat dan patuh, selagi yang ditaati dan dipatuhi bersatu antara kata dan perbuatannya.

Andai Presiden Jokowi mengenakan cingkrang, maka pakai cingkranglah semua PNS. Kenapa? mengikuti presidennya. Andai Jokowi mengikuti busana Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin yang mengenakan sarung (di beberapa pertemuan), bisa jadi, cingkrang berubah jadi sarung.

Jika ini terjadi, bisa jadi, publik lebih menerima perubahan cingkrang ke sarung ketimbang menghilangkan cingkrang. Mestinya, soal agama, biarlah kitab ilahiah yang mengaturnya. Biarlah syariat masing-masing agama yang mengaturnya.

Bagi Islam, patokannya sudah ada Alquran dan Sunnah. Biarlah perintah Alquran dan Sunnah yang mengatur umat Islam dari sisi aqidahnya. Agama lain juga, biarlah kitab mereka yang mengaturnya. Ketika kata-kata Allah SWT dicampur dengan kata-kata pimpinan yang selanjutnya diumumkan ke umat untuk menaatinya, maka akan muncul 1001 macam bantahan.

Kenapa? Bagaimana mungkin perintah Allah SWT, perintahnya Yang Maha Kuasa mau dicampur aduk dengan perintahnya orang yang dikuasai. Bagaimana mungkin perintah nabi (orang yang super mulia, super jujur, super taat dan super super kebaikan lainnya) mau dikombinasi dengan perintah orang yang kalau dirajamkan belimbing keluar air liurnya. Tidak kena. Orang kampung yang baru masuk kota bilang: Ingga Mecing (tidak matching atau tidak sesuai,red). Bukan padanannya.
(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top