KENDARIPOS.CO.ID — Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang, termasuk untuk menyembuhkan si sakit. Itulah yang dibutuhkan Raya Yunita saat ini. Ibu muda itu tidak punya cukup uang untuk mengobati Alysha di Makassar.

Zulfadli Nur, Kolaka

Raya Yunita hanya pasrah melihat penderitaan putrinya, Alysha. Hanya untuk memenuhi oksigen ke rongga paru-parunya, bayi berusia 7 bulan itu sangat kesulitan. Sesungguhnya, sang ibu Raya Yunita tak tega melihat kesulitan anaknya. Namun apa daya, kondisi finansialnya yang seret, sehingga anaknya tak mampu dirujuknya ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Kala dokter menyodorkan lembar rujukan, Raya Yunita hanya bisa tafakur. Alysha didiagnosa mengidap infeksi paru-paru dan gangguan jantung. Dokter Rumah Sakit Benyamin Galuh Kolaka BG merujuk Alysha berobat di Makassar. Karena kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, Raya Yunita hanya bisa pasrah dan terpaksa tidak menuruti rujukan dokter tersebut. Bayi Alysha kini berbaring lemah di RS Benyamin Galuh.

Sesekali tangis Alysha pecah di Ruang Melati Kamar 04 RS Benyamin Guluh (RSBG) kala koresponden Kendari Pos menengoknya, siang kemarin. Sang ibu, Raya Yunita dan dua perawat sontak sibuk menenangkannya. Sejurus kemudian, Alysha tidur dengan tangan terinfus. Raya Yunita menuturkan akibat penyakit diderita Alysha, anak ke empatnya itu sering mengalami demam tinggi, batuk yang lama, hingga sesak napas. “Gangguan jantung sejak lahir. Sedangkan infeksi paru-paru ini diderita saat Alysha masih berumur 1 bulan,” ungkapnya, Minggu (3/11).

Alisyah terbaring di Rumah Sakit.

Wanita kelahiran Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan ini mengatakan, selama enam hari menjalani perawatan di RS Benyamin Guluh, Alysha sedikit membaik. Tapi untuk urusan gangguan jantung, pihak rumah sakit tidak punya dokter spesialis jantung dan peralatan penanganan jantung belum memadai sehingga merujuk Alysha ke Makassar. “Batuknya sudah sedikit reda dan tidurnya sudah mulai baik. Sebelumnya, sekali batuk itu lama berhenti dan kalau dia bernapas terdengar seperti orang yang sedang mendengkur. Kalau soal gangguan jantung, dokter meminta harus di rujuk ke Makassar, tapi saya tidak mau. Karena kondisi keuangan saya tidak memungkinkan,” tutur.

Raya Yunita menuturkan, untuk biaya pemberangkatan dan pengobatan Alysha ke Makassar ditanggung oleh BPJS. Namun untuk kebutuhan sehari-hari dia dan putrinya selama perawatan di Makassar tidak ada yang menanggung. Apalagi tak punya keluarga di Makassar. Wanita 33 tahun ini pun meminta dokter untuk menunda rujukan putrinya. “Untuk memenuhi kebutuhan makan, beli tisu, susu dan lain-lain itu yang susah karena saya tidak punya uang sama sekali. Saya dari keluarga miskin. Ibu saya tukang urut, saudara-saudara saya itu pekerja serabutan. Jadi jangankan di Makassar, untuk biaya hari-hari di Kolaka saja, saya kesulitan. Kadang para perawat memberi uang untuk beli susu dan kebutuhan lain buat Alysha,” ungkap Raya Yunita. Raut wajah sedih tak kuasa disembunyikan sang ibu. Bulir bening nyaris tumpah dari kelopak matanya.

Kata Raya, sebelum menjalani perawatan di Kolaka, Alysha sudah sering keluar masuk rumah sakit saat masih di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Terbatasnya keuangan membuat Raya memutuskan membawa anaknya ke Bumi Mekongga dan tinggal bersama ibunya. “Di Balikpapan saya berjuang sendiri menanggung biaya pengobatan Alysha karena saya dan bapaknya Alysha sudah pisah sejak Alysha masih umur 1 bulan. Sebenarnya perawatan di sana lebih bagus daripada disini karena fasilitasnya lengkap dan rumah sakitnya dekat dari tempat tinggal kami. Tapi karena uang kami habis, terpaksa saya pulang sama orang tua di Kolaka. Kami di sini belum genap sebulan,” tutur wanita yang tercacat berdomisili di Jalan Dermaga Kelurahan Kolakaasi, Kecamatan Latambaga.

Lanjut Raya, perpindahannya dari Balikpapan ke Kolaka tidak sertamerta mendapatkan pelayanan kesehatan yang gratis. Sebab dirinya harus mengurus berbagai macam administrasi untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis di Bumi Mekongga. Apalagi tempat tinggal orangtuanya di bagian pesisir menyebabkan kesehatan Alysha semakin menurun. “Jadi kami datang di Kolaka itu awal Oktober dan menumpang di rumah mama saya di Jalan Dermaga. Posisi rumah di dekat laut dan padat penduduk bisa jadi membuat Alysha sering sesak. Saya lengkapi dulu administrasi sebagai penduduk Kolaka agar bisa mendapatkan layanan kesehatan gratis. Sambil berdoa, saya hanya berharap bantuan dari dermawan,” imbuh Raya Yunita.

Sementara itu, Plh. Direktur RS Benyamin Guluh Kolaka, drg.Dewi mengatakan penyembuhan gangguan jantung Alysha harus dirujuk ke Makassar. Sebab pihaknya belum memiliki dokter spesialis jantung. Namun, pihak keluarga pasien meminta agar rujukan tersebut ditunda. Sebab, belum punya biaya untuk mengongkosi kebutuhan sehari-hari selama Alysha dirawat di Makassar. “Untuk sementara Alysha dirawat di sini. Namun itu hanya untuk mengurangi rasa sakitnya, sedangkan untuk penyembuhannya harus dirujuk ke Makassar,” jelas wanita yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pelayanan RSBG Kolaka itu.

Camat Latambaga, Moch. Aldi Rakhmadi mengaku prihatin atas kondisi yang dialami warganya. Aldi mengatakan sudah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Latambaga. “Berdasarkan hasil koordinasi, Dinas Kesehatan Kolaka akan membantu biaya transportasi dan pendampingan termasuk makan selama dirawat di Makassar,” ujarnya. (*)