Vonis Adrianus Ringan dan Tidak Adil, Jaksa Harus Ajukan Banding – Kendari Pos
Nasional

Vonis Adrianus Ringan dan Tidak Adil, Jaksa Harus Ajukan Banding

KENDARIPOS.CO.ID — Majelis hakim Pengadilan Negeri Kendari cukup berani memutuskan 20 tahun penjara kepada Adrianus Pattian, pelaku penculikan dan pencabulan anak di bawah umur. Vonisnya lebih rendah dari tuntutan jaksa, penjara seumur hidup dan kebiri kimia.

Terpidana kasus pencabulan anak di bawah umur, Adrianus Pattian saat menjalani sidang pembacaan vonis. Hakim menjatuhkan vonis 20 tahun penjara. Lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni hukuman seumur hidup.

Vonis hakim kepada Adrianus dinilai rendah dan tidak memenuhi asas keadilan bagi korbannya. Begitu pandangan pakar hukum Sultra,
Dr.Laode Bariun SH, MH. Dari sisi kemanusiaan, putusan tersebut tidak setimpal dengan perbuatan yang dilakukan Adrianus. Seorang pedofil kata Bariun, memiliki perilaku seksual menyimpang yang sudah mendarah daging karena diturunkan dari gen.

Menurut Bariun, vonis 20 tahun penjara justru memantik membuat khawatiran masyarakat nantinya. Sebab, Adrianus berpotensi mengulangi perbuatannya ketika bebas kelak. Kejahatan seksual terhadap anak tidak termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) dan terpidana 20 tahun penjara mendapat hak-hak pembebasan bersyarat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). “Ini bakal membuat Adrianus Pattian mendapat potongan masa hukuman. Seandainya dia bebas nanti dan dapat dijamin tidak berbuat hal tersebut lagi mungkin (vonis itu) dapat dimaklumi. Tapi kan tidak ada jaminan dia tidak berbuat lagi,”kata Bariun kepada Kendari Pos, Rabu (9/10).

Seharusnya majelis hakim mengikuti sebagian tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), yang menerapkan hukuman seumur hidup, jika memang tidak sepakat dengan hukuman kebiri kimia. Menurut Bariun, hukuman seumur hidup untuk Adrianus Pattian sangat pantas diterapkan. Seorang pedofil harus jauh dari lingkungan anak-anak. Karena jika dia kembali berada di lingkungan anak-anak, maka berpotensi mengulangi perbuatanya. “Ini yang dikhawatirkan,” tegas Bariun.

Pengamat hukum Sultra, Dr.Hariman Satria. Vonis seumur hidup lebih pantas diberikan kepada Adrianus Pattian. Ia beralasan, tidak mudah menjatuhkan sanksi kebiri kepada pelaku kejahatan seksual. Sampai saat ini belum ada aturan teknis mengenai eksekusi hukumannya. “Ketika sanksi kebiri yang dijatuhkan, nanti tidak jelas siapa yang melakukan kebiri. Misalnya dokter. Dokter siapa? Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sendiri sudah menolak. Mereka belum punya sumpah profesi soal itu dan belum diatur dalam kode etik,” ujar Hariman saat dihubungi, kemarin.

Namun, bisa saja hakim menjatuhkan hukuman mati jika menggunakan pendekatan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak dan Kitab Hukum UU Pidana. Sangat rugi, kata dia, jika kejahatan pelaku benar-benar terbukti, sementara jaksa tidak menuntut dengan hukuman mati.
“Tapi, menjatuhkan hukuman mati bukan perkara mudah. Sekali menjatuhkan pidana mati pada seseorang, jika terjadi kesalahan dalam proses, tidak bisa diulang kembali,” imbuh akademisi Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) ini.

Laman: 1 2 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top