Kampus Harus Independen – Kendari Pos
Nasional

Kampus Harus Independen

KENDARIPOS.CO.ID — Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) mengsulkan, agar sebaiknya Peguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak berada di bawah bayang-bayang pemerintah. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai, Perguruan Tinggi Negeri sudah harus berdiri secara independen atau otonom.

“Kampus bukan kantor kementerian. Maka itu, kampus harus sudah Otonom, agar kampus punya independensi,” kata Satryo di Jakarta, Kamis (17/10). Terlebih lagi kata Satryo, dengan sistem kampus berdiri secara mandiri dapat mengoptimalkan pengelolaan anggaran. Menurutnya, sudah saatnya rektor diberi kepercayaan penuh untuk kelola kampus.

“Kalau sudah otonom anggaran akan utuh, kampus silakan menggunakan anggaran yang sudah diberikan,” ujarnya. “Masak dosen diurus oleh pusat. Saya rasa, profesor-profesor sudah jago untuk menentukan dosen yang berkualitas,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menyarankan, independensi kampus harus berpijak pada desain awal, yakni membentuk mahasiswa yang bisa beradaptasi dengan revolusi Industri 4.0. “Masing-masing punya cara, silakan dilakukan. Jika ingin melihat keberhasilan Kemenristekdikti dapat berkaca pada kampus-kampus yang berada di bawah naunganya. Apakah kampus tersebut mengalami perubahan atau justru penurunan. Tolak ukurnya itu,” tuturnya.

Selain itu, Satryo juga menyoroti permasalahan akreditasi perguruan tinggi yang tidak sesuai standar dan sistem perguruan tinggi belum berdiri secara mandiri.”Kami kerap kali memberikan masukan kepada pihak terkait bahwa mekanisme akreditasi harus segera diubah. Sebab, akreditasi perguruan tinggi di Indonesia tidak sesuai dengan standar internasional,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menjelaskan, terkait kebijakan penggunaan 200 dosen asing pada Pergutuan Tinggi tersebut, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing.

Menurutnya, dosen-dosen asing sebagai satu dari beragam kebijakan dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi agar berdaya saing dunia. Menurut dia, para dosen undangan tersebut akan bekerja di Indonesia minimal setahun.”Kami akan mengutamakan profesor asing yang terkoneksi dengan sumber pendanaan baru. Jadi, selain mengajar, mereka juga membawa dana dari funding (lembaga pendanaan) luar negeri, untuk membiayai penelitian bersama dengan dosen-dosen Indonesia,” terangnya.

Ghufron juga memastikan, kehadiran dosen asing tidak akan mengancam eksistensi dosen nasional. “Daya saing pendidikan tinggi nasional belum memuaskan meskipun trennya terus meningkat. Saya kira tidak akan mengancam karena kita punya 277.000 dosen lebih. Yang diundang hanya 200,”katanya.

Ghufron juga menilai, jumlah profesor nasional yang mencapai 5.500 orang masih kurang ideal, mengingat jumlah perguruan tinggi yang mencapai sekitar 4.500 kampus.”Masih banyaknya profesor nasional yang tidak produktif dalam menulis jurnal ilmiah internasional juga menjadi salah satu pertimbangan,” pungkasnya. (der/fin)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy