Hari Lapar Sedunia, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Hari Lapar Sedunia, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Setidaknya, saya pernah bertemu dengan tiga jenis petani. Pertama, petani di pesisir kampung/hutan. Kedua, petani di pesisir kota. Ketiga, petani di pesisir industri. Petani pertama dan kedua, sama saja. Sama-sama dekil, sama-sama kulit legam. Yang membedakan, petani di pesisir hutan telanjang kaki, sedangkan di pesisir kota bersepatu boat, bersepatu lumpur. Tapi, sama-sama legam. Sama-sama dekil.

Petani di pesisir kampung dan hutan, area tanamnya, luas, hasilnya minim karena perlakuan kampung. Petani di pesisir kota, area tanamnya sempit, hanya menggunakan bahu jalan, menggunakan tanah-tanah kosong di hehimpitan bangunan, tanah kosong di sepanjang rel kereta api, tapi hasilnya maksimal karena perlakuan kota. Tapi, sekali lagi, tetap sama-sama dekil, sama-sama legam matahari. Anak-anak mereka di sekolah juga sama-sama menutupi pekerjaan orang tua: tani tertulis swasta. Gengsi: katanya.

Nah, petani ketiga yang membanggakan. Tidak dekil, tidak legam, bangga dengan status petani, dan lebih terhormat dari mereka yang sering dipanggil : bapa-bapa yang terhormat.

Saya ingin memulai cerita dari petani yang membanggakan dirinya sebagai petani. Saya pernah ke Jerman. Naik kereta, menyusuri sungai Rhein dari Frankfurt ke Stutgart. Kadang-kadang masuk terowongan bawah gunung.

Di antara jarak itu, saya menyaksikan area perkebunan. Menghijau, indah dan teratur. Ada area tanaman yang hampir panen, ada area baru tanam, dan ada area garapan pasca panen. Kira-kira setiap luasan 1 Ha, digalinya tanah itu sedalam 1 meter, jadilah ada gundukan-gundukan tanah, mirip gundukan tanah nikel di pelabuhan-pelabuhan jeti di Sulawesi Tenggara.

Gundukan itu seperti diaduk dengan pupuk lalu ditimbunkan lagi ke dalam lubangan semula, lalu ditanami. Jangan bayangkan cara menanam petani jagung di pesisir hutan Sultra yang pakai patida (sabit), pacul, tugal, cari bibit susah, cari pupuk susah, mahal.

Petani di Jerman, hanya dengan menjalankan sebuah traktor semua pekerjaan selesai dengan sekali jalan. Traktor tak hanya berfungsi mengolah tanah tapi juga menugal, menanam, menggemburkan, bahkan sekaligus meng-ajir. Saya geleng kepala melihatnya.

Dalam hatiku: Harga alat ini terjangkau. Dalam hatiku: jangankan traktor yang besarnya hanya seukuran mobil sampah Pemkot Kendari, kapal Lambelu milik PT Pelni saja yang dibuat di Jerman bisa didatangkan di Baubau. Lalu, kenapa tak sanggup memfasilitasi petani dengan alat-alat mekanisasi seperti itu?

Memang, selama ini ada kemajuan Saprodi Pertanian. Dari patida alias kasinala, alias sabit, ke pacul, naik kelas ke traktor tangan, naik kelas lagi ke traktor seukuran motora. Sudah ada peningkatan hasil tapi ibarat pendidikan, petani Jerman setara pendapatan Sarjana, petani kita kira-kira setara B yang barusan tamat dari Paket A.

Andai petani Sultra difasilitasi dengan peralatan tani Stutgart, maka di saat itulah pertumbuhan ekonomi petani. Ketika ekonomi petani bertumbuh, maka akan diikuti pula dengan kesejahteraan. Ketika kesejahteraan telah direbut, maka saatnyalah anak-anak berbangga dengan status orang tuanya. Anak-anak akan berbondong-bondong membeli Tip-Ex, menghapus kata SWASTA menjadi PETANI di kolom PEKERJAAN ORANG TUA. Di saat itu, petani akan bangga dengan pertaniannya.Jangan bilang bahwa: Ah, itu kan petani di Eropa. Jangan. Tugasmu, fasilitasi petani agar mereka berproduksi sempurna dan jaminan pasarnya jelas. Kalau ada importir yang merasa terancam kenyamanannya, yakinkan mereka bahwa kenyamananmu hanya akan ter-delay, tak akan ter-cancel, karena sebentar nanti, kita akan berubah status dari negara pengimpor beras ke negara pengespor beras.

Status importir pun akan berubah menjadi eksportir. Statusnya berubah, uangnya tetap, hanya kenyamanannya yang terganggu beberapa waktu. Saya kira, ini fair. Karena petani telah lama berjibaku dengan kemiskinan. Saya kira, Allah pun tak akan ridha dengan kekayaan dan kenyamananmu di tengah banyaknya petani miskin.

Jangan bilang bahwa: Ah, itu kan petani di Eropa. Kita belum memiliki kesanggupan APBD/APBN. Jangan. Kenapa? Hanya dengan men-delete program pembangunan satu ruas jalan tol saja, sudah teratasi. Kiraan saya, 100 unit traktor petani Jerman, setara dengan 1 Km Jalan tol. Artinya, Indonesia dengan jumlah 34 provinsi, maka dengan mengorbankan pembangunan 34 Km jalan tol, akan terbayar dengan kesejahteraan petani seluruh Indonesia.

Oh, ternyata, simpel dan sederhana, yah mencapai sejahtera?. Ya. Sederhana dan simpel. Tapi, harus ikhlas. Dengan ikhlas akan melahirkan pangan sedunia. Tanpa ikhlas, lapar sedunia mengancam. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy