Pencurian Marak, Kinerja Polsek Landono Dipertanyakan – Kendari Pos
Hukum & Kriminal

Pencurian Marak, Kinerja Polsek Landono Dipertanyakan

KENDARIPOS.CO.ID — Aksi pencurian di sejumlah desa di Kecamatan Landono, Konawe Selatan (Konsel), marak dua bulan terakhir. Warga setempat resah dan ketakutan karena pelaku pencurian tak pernah tertangkap. Padahal hampir setiap malam, pelaku masuk ke kawasan pemukiman, khususnya di Desa Morini Mulya, Wata Benua, Lalonggapu dan Tridana Mulya dengan membawa senjata tajam.

Ilustrasi

Pelakunya diidentifikasi lebih dari satu orang. Warga setempat berinisiatif melakukan ronda. Sayangnya, pihak aparat keamanan di wilayah tersebut terkesan tak proaktif menjawab keresahan warga. Beberapa orang yang diduga pelaku pencurian berhasil diamankan warga saat hendak melakukan aksi pencurian. Sayangnya, saat diserahkan ke aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Landono, tidak ada proses hukum. “Pelaku pencurian bukan saja menyasar barang berharga, tapi juga mulai mengancam nyawa karena membawa senjata tajam. Kami harus berjaga-jaga terus setiap malam. Tidak tahu di mana aparat keamanan,” celutuk seorang warga Morini Mulya, yang enggan namanya ditulis, kepada Kendari Pos.

Dikonfirmasi terkait maraknya aksi pencurian di wilayah hukumnya, Kapolsek Landono, Inspektur Satu (Iptu) La Ondo, membenarkannya. “Memang ada pencuri ayam dan hasil pertanian, juga handphone. Kalo pencuri ayam dan jeruk sudah ditahan dan diproses,” versinya. La Ondo berargumen, pihaknya telah melakukan berbagai langkah pencegahan. Mulai dari meningkatkan patroli di desa-desa yang rawan pencurian.
Polisi juga baru akan membentuk Tim Crime Hunter untuk mengejar pelaku pencurian.

“Kami mengimbau masyarakat mengaktifkan kembali Siskamling atau pos ronda pada waktu malam hari guna mencegah terjadinya tindak pidana. Bila menangkap pelaku agar tidak melakukan kekerasan yang menimbulkan korban jiwa atau main hakim sendiri,” jelasnya. Soal adanya pelaku pencurian yang dibebaskan, Kapolsek Landono beralasan karena pelaku masih di bawah umur.

“Penyelesaiannya harus dimediasi dengan melibatkan pihak Bapas. Penyelesaian perkaranya melalui diversi yang melibatkan pihak korban, pelaku, tokoh masyarakat, aparat desa, pihak Bapas dan kepolisian. Bila sudah mencapai kesepakatan damai, maka perkara pidana dinyatakan clear. Jika tak mencapai kesepakatan damai, maka akan dilakukan proses hukum dan penahanannya hanya tujuh hari harus sudah selesai BAP-nya dan harus dilimpahkan ke kejaksaan,” alasan La Ondo ketika dihubungi. (b/kam)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top