Obsesi 12 Bupati, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Obsesi 12 Bupati, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Kolom ini tidak akan cukup untuk menulis penjelasan 12 bupati di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ditemui saat safari jurnalistik dalam dua pekan terakhir. Perkenankan, saya hanya akan menulis kesimpulan dari cerita mereka. Ingin sekali rasanya menuliskan secara detail penjelasan para bupati dalam kolom yang sama, agar semua rakyat tahu bahwa: paling telat 2020 kita sudah masuk gerbang kesejahteraan bagi seluruh rakyat Sultra.

Tapi, yah, itu tadi. Kolom ini terlampau kecil, kecuali 24 halaman koran sekaligus. Kok bisa? Ya. Begitulah. Bayangkan, bait demi bait penjelasan setiap bupati yang ditemui, seluruhnya, nyaris bernilai berita. Karena itulah, saya hanya ingin menulis kesimpulannya bahwa: paling telat 2020, seluruh rakyat Sultra sudah memasuki gerbang kesejahteraan. Dah, itu aja.

Kenapa saya sebut sejahtera? Karena kesejahteraan itu perpaduan antara sehat jasmani dan rohani, tercukupi sandang papannya, uang dapur cukup, kantong kiri uang receh, kantong kanan duit jaga-jaga, kalau-kalau ada tamu yang datang minta uang, dan dompet tebal. Kok bisa? Tengoklah. Kita start di Buton, transit Konawe dan Finis di Konsel setelah mengitari Kolut-Kolaka-Bombana via Boepinang.

  1. Bupati Buton, La Bakry tahu bahwa tanah Buton kaya raya. Pegunungan yang membujur dari Lasalimu melintasi Kakenauwe hingga Sampolawa, penuh aspal kelas dunia dan mungkin juga emas. Tapi, La Bakry masih ingin fokus pada pemaksimalan pembangunan infrastruktur dan ingin menangkap peluang kemajuan dari akses pembangunan kabupaten tetangga seperti pariwisata Wakatobi dan Baubau.
  2. Wali Kota Baubau, AS Tamrin sudah masuk fase memantapkan falsafah hidup leluhur yang diyakini bisa membawa pemerintahan dan kemasyarakatan yang aman damai, sentosa dan bermartabat.
  3. Bupati Buton Selatan, La Ode Arusani berkomitmen dan menyadari bahwa rakyat Buton Selatan menginginkan kemajuan pembangunan dan pelayanan prima dan karena itu, Arusani: siap.
  4. Bupati Buton Tengah, Samahuddin, hanya dengan senyum simpul, tanpa suara yang meledak-ledak, ratusan kilometer jalan beraspal telah “merobek-robek” Buton Tengah. Waara-Tolandona tuntas. Poros jalan super lebar Lombe-Mawasangka nyaris rampung. Demikian poros-poros lainnya. Samahuddin menjelaskan ini hanya dengan suara bervolume rendah bercampur senyum. Dalam hatiku: bapak ini jalan tol ke periode kedua.
  5. Bupati Muna Barat, LM Rajiun Tumada menitikberatkan pada penyelesaian jalan lingkar Kota Laworo. Bayangkan, dua jalur sekaligus. Sasarannya, agar ibu kota Muna Barat bisa langsung terpancar dan kemajuannya setara dengan ibu kota di daerah perkotaan lainnya. Tentu, sektor lain juga menjadi perhatian seperti beberapa destinasi wisata, pertanian dan perikanan kelautan.
  6. Bupati Muna, LM Rusman Emba setengah menggenjot sektor pariwisata, sektor ke-PU-an, di penghujung periode ini ingin memulai project besar yang ia sebut: Trans Muna. Proyek ini akan melintasi Kota Raha, menyusur pinggir pantai via Kampung Lama dan mentok di Buton Tengah. Trans Muna juga akan menjangkau Muna Barat via Tampo.
  7. Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa menetapkan keyakinannya bahwa salah satu tangga mensejahterakan rakyat dan memajukan daerah adalah industri besar. Dan, Konawe telah dimasuki beberapa industri besar di antaranya adalah kawasan industri Morosi dan sebentar lagi, industri besar yang berpusat di Routa.
  8. Kolaka Timur. Bupati Tony Herbiasyah masih ingin memaksimalkan pembangunan yang telah ia canangkan selama ini. Yang rampung akan ditingkatkan, yang belum rampung akan dirampungkan, yang belum juga akan diadakan. Yang pasti, rakyat Koltim harus merasakan manfaat dan kemajuan oleh karena posisinya sebagai bupati.
  9. Bupati Kolaka, Ahmad Sjafei telah sukses merubah tatakota. Penampakan wajah kota yang benar-benar kota ia telah wujudkan. Datanglah di Kolaka dan: pasti kaget. Tapi, Sjafei tetap merendah. Prestasi pengaspalan jalan kabupaten yang menghubungkan dengan ibukota kecamatan, pengaspalan atar ibukota kecamatan, dan pengaspalan dari desa ke ibukota kecamatan, juga tak menjadi kebanggaannya. “Saya hanya mengemban amanah rakyat,” katanya.
  10. Bupati Kolaka Utara, Nur Rahman Umar berkesimpulan: dengan perekonomian rakyat yang meningkat, mereka dengan mudah menentukan cara hidupnya. Ekonomi yang meningkat, rakyat bebas mencari cara agar sejahtera. Karena itu, tahun ini, salah satu yang menjadi fokus perhatian adalah rehabilitasi kakao yang dianggap akrab dengan rakyat Kolut.
  11. Bombana. Dengan gaya khasnya, mimik yang meyakinkan, Bupati Tafdil langsung menunjuk rencana invetasi triliunan di pinggiran Bombana. “Tanah tandus, tapi dianggap strategis untuk lokasi pembangunan pabrik. Investasinya triliunan. Ini industri besar. Dan, saya yakin, inilah salah satu pintu kemajuan ekonomi rakyat Bombana. Bahan bakunya pabrik dari luar Sultra, di Sultra hanya fabrikasinya. Dan, itu ada di Bombana,” katanya.
  12. Bupati Konawe Selatan, Surunuddin Dangga, tetap istiqamah dengan tagline: Desa Maju Konsel Hebat. Ruas-ruas jalan yang menjadi akses desa ke kota telah diaspal. Jembatan telah dibangun. Petani telah tersentuh. Pokoknya, tagline Desa Maju Konsel Hebat belum bergeser. Bahkan, telah berasa manfaatnya di masyarakat. Saya kasi contoh salah satu kemajuan yang menggelengkan kepala. Dari Andoolo ke Kota Kendari yang dulu hanya ditempuh via Punggaluku dengan waktu tempuh 1,5 jam, ternyata telah dibangun jalan aspal penghubung Andoolo-Kota Kendari via Pudahoa yang waktu tempuh Andoolo-Bandara Haluoleo 45 menit. Dalam hatiku: Ini juga jalan tol ke periode kedua.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy