Move On To Disrupsion, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Move On To Disrupsion, Oleh : Prof. Hanna

Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Halu Oleo (UHO) berinovasi membawa jurusan ini ke arah yang lebih baik dengan melakukam berbagai macam kegiatan. Salah satunya mengundang pakar Pendidikan Bahasa Inggris sekaligus Dekan Fakultas Bahasa Universitas Malang pada Senin, 9 September 2019. Saya sebenarnya ingin mempertanyakan kepada kita semua pendidik bahwa apakah kita betul-betul melaksanakan pendidikan dengan baik atau hanya mengejar target atau menggugurkan kewajiban.

Kekhawatiran ini mungkin dipertanyakan oleh masyaraat yang mencintai jaminan mutu yang berkualitas. Yang pasti bahwa secara konseptual yang diamanahkan oleh regulasi para pendidik kita di Sultra secara all out telah mengantarkan anak didiknya untuk mencapai potensi diri anak didik kita, terkait daya saing kita juga berada pada menengah dibandingkan dengan provinsi lain.

Dalam konsep pendidikan suatu istilah baru yang untuk pertama kali saya dengar pada saat itu dan sekaligus membuat saya bertanya tentang arti distruptif itu, tentu saja mungkin pendidik lain dalam ruangan itu juga belum memahaminya. Begitu rasa ingin tahu saya mencoba membuka beberapa literatur, termasuk kamus Bahasa Indonesia. Kata distruptif pun belum diberikan penjelasan yang benar. Lalu saya coba membuka kamus Bahasa Inggris. Di situ saya temukan kata Disrupsion yang diartikan sebagai gangguan.

Jika kata distrupsion ini diartikan sebagai gangguan maka peran guru akan semakin ruwet melihat banyaknya variabel-variabel pengganggu dalam proses pendidikan. Padahal dalam KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Inti pendidikan di sekolah adalah prosesnya melalui pembelajaran yang berlangsung di kelas.

Hal itu menyebabkan mutu proses pembelajaran di kelas menjadi prioritas. Kalau kita melihat konsep ini maka seorang guru sangat susah untuk menuju pembelajaran yang berkualitas jika pengganggu itu ada. Namun jika saya melihat secara harfiah dari pandangan kata disrupsi (disruption) berarti hal tercabut dari akarnya. Ruang kelas mengalami evolusi dengan pembelajaran digital yang memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kreatif, beragam, dan menyeluruh. Artinya bahwa tidak ada alasan seorang guru hadir dalam kelas tanpa membawa pesan keilmuan kepada siswanya apalagi kurikulum sekarang menyebabkan peran guru di kelas tidak lagi seperti dahulu.

Sebagian dari kita dahulu mungkin pernah mengalami menjadi siswa. Ketika sang guru menerangkan sambil menuliskan kata/kalimat materi di papan tulis. Setelah selesai, guru meminta siswa menyalinnya. Atau kita pernah diminta oleh guru menyalin buku teks ke papan tulis dan semua teman sekelas menyalinnya ke dalam buku catatan masing-masing. Tentu saja model itu dianggap sudah using.

Kehadiran teori disruption pertama kali diperkenalkan oleh Christensen. Disruption menggantikan “pasar lama” industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative. Tentu saja kehadirian teknologi pembelajaran menjadi catatan bagi seorang guru yang tidak bisa ditawar lagi. Jika seorang guru tidak peduli akan hal itu maka guru lah yang ditinggalkan oleh zaman.

Dalam zaman ini masalah teknologisasi sudah merambah ke dunia nyata.Banyak diantara kita yang seakan-akan belum siap menerima itu. Akhirnya juga menerima dengan keterpaksaan. Kita lihat bersama saat kasus taksi yang pernah ramai di Indonesia. Ada Gojek yang pernah mendapat pertentangan di daerah-daerah. Ada e-tol yang menggantikan tenaga manusia. Ada parkir online yang menggantikan petugas parkir. Berkurangnya kartu ucapan yang berwujud kertas, digantikan dengan HP atau android. Ada pendaftaran online yang menggantikan petugas administrasi semua hadir karena inovasi.

Inovasi yang dibutuhkan dalam disruption adalah renewal atau kebaruan-kebaruan terhadap bergesernya “produk lama”. Lalu pertanyaan kita adalah nilai kebaruan apa yang perlu kita perlu lakukan dari sebuah disruption itu. Tidak ada jalan lain. Disruption harus dihadapi. Guru harus menjemput disrupsion ini dengan teknologi karena jika tidak mampu teknologi, maka kita akan ditinggalkan oleh zaman dan anak didik akan jauh lebih hebat dibanding guru.

Hal ini disebabkan karena anak didik kita sekarang dijemput dengan teknologi, sedangkan kita di zaman dulu dijemput dengan produk lama. Hanya saja teknologi digital perlu menjadi satu catatan yang dapat menambah kemjauan pengetahuan, sikap dan keterampilan anak didik kita. Faktor agama, etika dan budaya ketimuran kita tetapi mengiringi kehadiran teknologi digital dalam pembelajaran, tidak serta merta dengan teknologi ini semua dapat diselesaikan.

Agung Kuswantoro, dosen Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, guru disruption, pasti bisa microsoftoffice. Ia tak sekadar berbicara di depan kelas. Ia mampu mengelola kelas secara manual atau online. Ia mampu meng-upload materi/bahan ajar ke sistem. Tidak menyuruh siswanya yang meng-upload-kan. Ia juga aktif dalam pembelajaran secara online dengan membuat grup-grup diskusi. Ia aktif menjawab setiap pertanyaan oleh siswa di grupnya. Jika gurunya tidak siap di era disruption, pastinya akan terjadi petaka di dunia pendidikan. Pendidikan akan hanya menjadi copy paste saat membuat makalah. Buku hanya sekadar tumpukan koleksi, tanpa dibaca. Jurnal penelitian kependidikan dicari saat dibutuhkan. Workshop dilakukan saat mengumpulkan angka kredit saja.

Saya sependapat dengan Agung, hemat saya solusi disruption bagi guru di Sultra adalah pengembangan diri. Inovasi dan pembaruan itulah kuncinya. Mengajar dengan inovasi. Mengajar tidak hanya dengan ceramah, menggunakan LKS, dan penugasan. Lalu, selesai. Itu bukan guru disruption.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top