Cari Pelaku Penembakan Mahasiswa, Polda Sultra Bentuk Tim Investigasi – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Cari Pelaku Penembakan Mahasiswa, Polda Sultra Bentuk Tim Investigasi

Brigjen Pol Iriyanto (tengah) didampingi Kabid Humas AKBP Harry Goldenhardt, dan Direktur Kriminal Umum Polda Sultra saat menjelaskan tentang pembentukan tim investigasi di Mapolda Sultra, kemarin.

KENDARIPOS.CO.ID — Kepolisian Daerah (Polda) Sultra membentuk tim investigasi guna menuntaskan kasus meninggalnya dua mahasiswa UHO saat aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Sultra. Tim investigasi dipimpin langsung Direktur Ditreskrimum Polda Sultra, Kombes Pol Asep Taufik. “Kami sudah bentuk tim investigasi. Berikan waktu untuk mengungkap kasus ini,” kata Brigjen Pol Iriyanto, Kapolda Sultra saat menggelar konferensi pers di Mapolda Sultra, kemarin (27/9).

Mantan Wadankorbrimob Polri meminta semua pihak menyerahkan kasus ini kepada Institusi Polri. Penyelidikan kata dia dibantu tim Mabes Polri. Pria dengan satu bintang di pundak ini, bakal menindak tegas jika peluru yang bersarang di dada korban bernama Randi adalah proyektil dari Kepolisian. “Pasti akan ditindak tegas,” ujarnya.

Iriyanto menambahkan, selain Randi, adapula Muhamad Yusuf Kardawi yang menjadi korban dalam aksi unjuk rasa tersebut. Korban bernama, Muhamad Yusuf Kardawi baru meninggal dunia pada pukul 04.05 wita, Jumat (27/9) dini hari setelah menjalani perawatan serius. Jenazah korban sudah dimakamkan di rumah duka di Kabupaten Muna.

Selain keduanya, Iriyanto juga menyebut ada juga ibu rumah tangga (IRT) bernama Putri (21), warga Kota Kendari yang turut terkena peluru nyasar. Ibu ini terkena peluru dengan kaliber sama seperti yang dialami Randi. Proyektil tersebut bersarang di betis perempuan tersebut saat aksi unjuk rasa berlangsung.

“Lokasi kediaman wanita itu di Jalan Supu Yusuf. Terkena bagian betis kanan. Kejadian ini masih kami dalami,” timpal Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt. Dalam insiden unjuk rasa 26 September, Harry mencatat ada 33 orang yang menjadi korban. Terdiri dari 19 mahasiswa (termasuk dua orang meninggal dunia), 10 anggota Polri, 3 dari pegawai DPRD Sultra dan 1 orang dari masyarakat. Selain itu adapula beberapa prasarana negara rusak, seperti Pos Polisi, Kantor DPRD Sultra dan lainnya. “Itu informasi yang bisa kami berikan,” ucapnya.

Sementara itu, dr Raja Alfat-H Widya Swara yang lakukan otopsi terhadap jenazah Randi mengatakan, tembakan dari dada Randi berasal dari belakang menembus dada depan. Penyebab kematiannya berasal dari pendarahan paru-paru bagian kiri dan bagian kanan. Sehingga, pria tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.

“Diameter luka bagian dada kiri di bawah ketiak berukuran 0,9 cm, kemudian menembus dada bagian kanan berukuran diameter 2,1 cm. Hasil otopsi menandakan bahwa luka tersebut disebabkan peluru tajam,” jelasnya, kemarin.

Sementara itu, Markas Besar (Mabes) Polri turun tangan atas insiden meninggalnya dua mahasiswa di Kendari. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah membentuk tim gabungan guna mengusut tuntas peristiwa ini. “Pak Kapolri sudah membentuk tim investigasi gabungan untuk mencari tahu siapa pelakunya,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol M Iqbal di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (27/9).

Iqbal menuturkan, tim gabungan ini tidak hanya diisi oleh aparat kepolisian. Melainkan akan melibatkan pihak universitas hingga mahasiswa. Sehingga , proses pengungkapan kasus ini bisa berjalan transparan. Sementara itu, polri menegaskan akan bersikap tegas terhadap pelaku penembakan. Sekalipun, pelaku merupakan anggota kepolisian, kasusnya akan tetap dibawa ke ranah pidana.

“Apabila pelakunya nanti terbukti secara scientific aparat, kita akan proses hukum, kita akan proses pidana sesuai mekanisme, kita akan tindak tegas. Tapi kita harus kedepankan asas praduga tak bersalah,” tegasnya.

Di sisi lain, mantan Wakapolda Jawa Timur itu mengatakan, dalam pengamanan unjuk rasa, aparat tidka dibekali oleh senjata api, baik yang beramunisi peluru tajam maupun peluru karet. Hal itu, sesuai dengan dengan instruksi Kapolri kepada seluruh jajarannya.

Akan tetapi, aparat tetap dibekali dengan perlengkapan perlindungan. Seperti tameng dan pentungan. Karena perlengkapan ini termasuk dalam standar pengamanan sebuah unjuk rasa. “Kita (polisi) juga manusia. Tidak sedikit yang luka parah bahkan gugur dalam pelaksanaan tugas mengamankan dan melayani demonstrasi,” katanya

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy