Aktivitas Tambang Resahkan Warga Kolut : Sumber Air Tercemar, Picu Banjir – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Aktivitas Tambang Resahkan Warga Kolut : Sumber Air Tercemar, Picu Banjir

Sungai di Desa Latowo, Kecamatan Batu Putih, Kolaka Utara sudah tercemar akibat aktivitas perusahaan tambang. Awalnya jernih, kini warnanya jadi kemerahan. Laut di sekitar desa itu juga kondisinya tak jauh beda. Efeknya, mata pencaharian masyarakat terganggu. Tampak salah seorang warga sedang menaiki perahu untuk mencari nafkah.

KENDARIPOS.CO.ID — Kehadiran sejumlah perusahaan tambang di Kolaka Utara (Kolut) membuat resah masyarakat. Sebab, aktivitas mengeruk perut bumi membuat daerah sekitarnya rentan terjadi bencana. Saat musim hujan menjadi pemicu banjir. Sumber air dan sungai tercemar. Parahnya lagi, kontribusi perusahaan untuk masyarakat dan daerah sangat minim.

Kondisi itu sekarang dirasakan Warga Kecamatan Batuputih, Kolaka Utara. Terutama yang berdomisili di Desa Latowo. Sumber air mereka tercemar akibat aktivitas pengerukan yang dilakukan perusahaan tambang. “Air sungai di desa kami sudah tercemar. Warnanya jadi kemerahan. Kami duga ini akibat aktivitas pertambangan. Karena sebelum tambang masuk, airnya jernih. Kehadiran tambang ini, benar-benar merusak kehidupan kami (warga Kolut),” keluh Rudin, salah seorang warga Latowo yang diamini rekan-rekannya, Rabi (25/9.

Menurutnya, banyak warga yang menaruh harapan pencaharian dari menangkap ikan, tapi karena sungai dan laut tercemar, tak ada lagi ikan bisa didapat. “Ini yang kami khawatirkan. Bagaimana kehidupan masyarakat nelayan kalau ini dibiarkan. Bisa hancur kehidupan (mata pencaharian) kami,” ungkapnya.

Aktivitas pertambangan di Desa Lelewawo, Kecamatan Batu Putih. Ada beberapa perusahaan tambang beroperasi di sekitar wilayah itu. Dampaknya juga dirasakan warga di desa tetangga, termasuk Latowo.

Ada beberapa perusahaan tambang sedang beroperasi di Kecamatan Batu Putih. Diantaranya, ada PT. Tambang Mineral Maju (TMM), PT. Kasmar Tiar Raya (KTR), PT Alam Mitra Indah Nugraha (AMIN), dan PT. Kurnia Mining Resources (KMR). “Tak hanya merusak alam dan sumber penghidupan masyarakat, perusahaan tambang ini juga minim kontribusi. Sejauh pengetahuan kami, sejak 2018 belum ada bantuan untuk masyarakat,” jelas bapak tiga anak ini.

Keluhan serupa disampaikan Sarman, warga Desa Tetebawo, Kecamatan Batu Putih, Kolut. Menurutnya, aktivitas tambang telah mengganggu kehidupan masyarakat. Lalu lalang kendaraan proyek pengangkut ore hanya menyisakan debu untuk masyarakat. “Kami kesal sebenarnya. Setiap hari ‘makan’ debu. Pernah disiram jalanan, tapi hanya satu kali. Kalau begini terus, warga bisa marah dan memboikot aktivitas perusahaan,” tegas pria paruh baya itu.

Sarman menambahkan, awalnya tidak mempersoalkan kehadiran tambang di daerahnya. Terutama PT. TMM bersama PT. Raidili Pratama selaku Joint Operation (JO)-nya. Hanya saja, melihat dampak yang ditimbulkan, jadinya bikin geram. “Tambang ini sudah membawa penyakit. Dampak lingkungan yang ditimbulkan sangat berbahaya. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah. Kalau perlu dihentikan, jika tidak ada komitmen berkontribusi dan memperbaiki kerusakan,” terangnya.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kolut angkat tangan dengan persoalan tersebut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, urusan pertambangan sudah dikelola provinsi. Tepatnya, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sultra.

Laman: 1 2 3

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy