Warga yang Biarkan Ternaknya Berkeliaran Bakal Dipenjara – Kendari Pos
Kolaka Utara

Warga yang Biarkan Ternaknya Berkeliaran Bakal Dipenjara

KENDARIPOS.CO.ID — Para peternak di Kolaka Utara (Kolut) wajib menjaga hewan peliharaannya jika tak ingin diseret ke balik bui dan dikenakan sanksi administrasi. Ternak khususnya sapi dan kambing tidak boleh dibiarkan berkeliaran di lingkungan permukiman dan tempat-tempat umum. Pemerintah Kabupaten Kolut telah mengatur sanksi itu dalam peraturan daerah.

Kepala Satpol PP Kolut, Ramang (tengah) memberikan pemahaman kepada pemilik ternak secara door to door di Kecamatan Wawo agar tidak membiarkan ternaknya berkeliaran.

Bahkan disalah satu desa di Kecamatan Wawo, pemerintah desa (pemdes) dan masyarakat sepakat tembak mati hewan ternak yang berkeliaran. Tapi itu tidak efektif juga, karena rupanya ternak masih merusak kebun kakao petani. Itu dipandang dapat mengancam suksesnya program revitalisasi kakao.

Wakil Bupati (Wabup) Kolut, H. Abbas menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja menebar imbauan dan menertibkan hewan-hewan yang berkeliaran di ibu kota. Hewan-hewan itu mengganggu dan mengancam keselamatan pengguna jalan. “Ini perlu disikapi serius karena sangat tidak elok di dalam ibukota atau kota kecamatan ternak berkeliaran di mana-mana,” ujarnya, Kamis (1/8).

Kasatpol PP Kolut, Ramang segera merespons perintah atasannya. Bersama anak buahnya, Ramang terjun ke lapangan secara langsung menemui para pemilik ternak menyampaikan teguran, imbauan dan pemahaman pentingnya ternak dikandangkan. Kewajiban itu sudah termaktub dalam perda nomor 11 tahun 2018 menyangkut ketertiban umum.”Kami sudah jalan ke desa-desa dan sedang menyasar desa lainnya, “ujarnya.

Para pemilik ternak harus tahu sanksi pidana jika masih acuh dengan himbauan pemerintah. Pada pasal 59 poin (1) Perda nomor 11 tahun 2018 disebutkan selain sanksi administrasi juga pidana berupa kurungan tiga bulan atau denda maksimal Rp50 juta. “Ini juga bagian dari upaya menyukseskan revitalisasi kakao karena ternak sapi dan kambing ini sering dikeluhkan karena merusak tanaman kakao petani,” ujar Ramang. (rus/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top