KPK dan Gubernur Kaget Ada Tambang Nikel Dekat SD, Seluruh Desa Torobulu Masuk IUP PT.WIN – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

KPK dan Gubernur Kaget Ada Tambang Nikel Dekat SD, Seluruh Desa Torobulu Masuk IUP PT.WIN

KENDARIPOS.CO.ID — Publik di Sultra terhenyak dengan aktivitas penambangan PT. Wijaya Inti Nusantara (WIN) di sekitar SDN 12 Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan. Raungan alat berat menggangu konsentrasi generasi bangsa yang sedang belajar. Belum lagi dari sisi kesehatan, mereka terpapar debu. Aktivis lingkungan, Gubernur Sultra Ali Mazi hingga lembaga sekaliber KPK pun kaget. Usai membaca Kendari Pos edisi 7 Agustus 2019, Koordinator Koordinasi Supervisi dan Pencegahan (Kosupgah) KPK Wilayah VIII Sultra, Edi Suryanto langsung mempertanyakan kondisi itu kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sultra. “Saya juga dapat pesan Whatsapp dari Pak Edi (Kosupgah KPK), yang minta penjelasan soal berita headline Kendari Pos, dan langsung dikirimkan foto korannya juga,” ujar Andi Aziz, Plt. Kepala Dinas ESDM Sultra di ruang kerjanya, Rabu (7/8).

Lokasi pertambangan PT.WIN yang begitu dekat dengan SD Torobulu ditanggapi Gubernur Sultra, Ali Mazi. Dengan raut terkejut, ia mengaku mendengar aktivitas tambang itu dari wartawan. Suami Agista Aryani itu akan memanggil Direksi PT. WIN untuk diminta penjelasan detail.
“PT. WIN yah? Nanti saya panggil direksinya. Saya akan pertanyakan itu seperti apa. Daerah kita kan berkembang dan sedang melakukan pembangunan. Jangan kita emosi dulu. Kita harus santai, kita tanya dulu,” ungkap Ali Mazi kepada Kendari Pos, Rabu (7/8).

Pasangan Wakil Gubernur Sultra, Lukman Abunawas itu yakin semua perusahaan yang beroperasi di Sultra pasti sudah tahu mekanisme perundang-undangan yang berlaku. “Kita lihat apakah sudah sesuai aturan, karena mereka juga sudah pasti tahu undang-undangnya seperti apa. Sebagai pemerintah kita juga jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Semua harus dilihat aspek regulasinya dulu,” ungkap Ali Mazi.

Di tempat terpisah, Plt. Kepala Dinas ESDM Sultra, Andi Aziz menjelaskan PT.WIN punya kesepakatan dengan pihak sekolah dan warga. Ceritanya kata dia, pihak sekolah ingin memperluas area bermain anak di sekolah itu. Sebab, topografi tanah di sana berbukit, sehingga untuk meratakannya butuh alat berat. “Ide menarik juga itu, mereka (pihak sekolah-red) meminta bantuan perusahaan, agar diratakan lahan berbukit. Itu informasi sementara,” jelasnya.

Anak SD di lokasi tambang.

Apapun alasannya, Andi Aziz menyayangkan kesepakatan yang dibangun tanpa konfirmasi sebelumnya kepada pemerintah provinsi. Sejatinya, itu perlu diketahui ESDM agar dibuatkan pernyataan resmi pihak-pihak terkait. “Katanya ada perjanjian, semacam MoU. Kalau ada kesepakatan begitu konfirmasi ke kami dong. Saya sedang minta naskah perjanjiannya,” kesal Andi Aziz. Meski begitu, Dinas ESDM akan memanggil semua pihak untuk membahas persoalan itu. “Kita akan buatkan pernyataan resmi terkait batasan-batasan apa dan dimana soal itu (penambangan-red), pengawasnya akan kita panggil, inspekturnya, dan pihak sekolah,” tegas Andi Aziz.

Senada dengan Andi Aziz, General Manager PT. WIN, Ahmat Hidayat mengklaim aktivitas pertambangan di sekitar SDN 12 Torobulu dilandasi kesepakatan antara berbagai pihak, baik camat, pemerintah desa dan pihak sekolah. “Sebenarnya tidak ada rencana menambang di situ. Hanya karena ada komunikasi dengan warga dan pemerintah, mereka meminta agar bukit itu bisa digusur biar rata. Karena ini juga membantu pihak sekolah,” ungkapnya saat ditemui lokasi pertambangan, kemarin.

Pria kelahiran tahun 1971 ini mengaku saat menggerus bukit di belakang SDN itu, rupanya mengandung kadar nikel. PT.WIN tetap mengangkat ore dan menimbun bekas galian lalu diratakan. “Karena warga takut kalau terjadi longsor jadi kita timbun kembali,” jelasnya. Adapun untuk dampak debu, Ahmad mengaku perusahaan sudah menyiapkan water tank dan menyiram area berdebu. “Kami mulai operasi saat siswa libur. Saat ini sedang tahap finalisasi. Kami perintahkan tenaga operator alat berat untuk tutup lubang tersebut,” aku Ahmat.

Mantan karyawan salah satu maskapai penerbangan swasta itu, wilayah IUP PT.WIN bukan hanya sekitar sekolah, tetapi seluruh Desa Torobulu itu masih wilayah IUP. Itu berdasarkan hasil takover dari PT. Bily. “Kami baru dua tahun beroperasi setelah ambil alih dari PT Bily,” ungkapnya. Sesuai aturan pertambangan, minimal radius 500 meter dari permukiman sesungguhnya sudah pernah disinggung Bupati Konsel, Surunuddin Dangga, beberapa waktu lalu. “Sejumlah IUP di Konsel harus segera dievaluasi. Sebab, ada beberapa perusahaan yang masuk area permukiman bahkan satu kecamatan di Konsel,” ujar Surunuddin Dangga. (lyn/rah/yog/kam/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy