Sultra Kekurangan Tenaga Teknis Kefarmasian – Kendari Pos
Metro Kendari

Sultra Kekurangan Tenaga Teknis Kefarmasian

KENDARIPOS.CO.ID — Sebanyak 222 Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) mengikuti workshop yang digelar Pengurus Daerah Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Sultra, di Fortune FrontOne Hotel Kendari. Kegiatan yang berlangsung 20 hingga 21 Juli tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II Pengurus Daerah (PD) PAFI Sultra yang diikuti pengurus di kabupaten/kota se-Sultra.


Ketua PD PAFI Sultra Muhammad Idham (lima dari kiri), Sekretaris Dinkes Provinsi Sultra M Ilyas (lima dari kanan), Ketua Umum PAFI Martani Hadi (empat dari kanan), Anggota I Dewan Pengawas Pusat PAFI Dr. Faiq Bahven (kanan), Ketua PC IAI Kendari Dr. Adryan fristiohadi Lubis (empat dari kiri), Kepala Instalasi Farmasi RS Pusat Kanker Dharmais Jakarta Dra. Yuri Pertamasari Apt Mars (tiga dari kanan) saat kegiatan workshop penyetaraan kompetensi Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK).

Ketua PD PAFI Sultra Muhammad Idham S.Farm M.Kes mengatakan, penyetaraan kompetensi TTK diselenggarakan setiap tahun untuk mengakomodasi kebutuhan anggota dalam memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR). Sebab kata dia, STR TTK wajib diperpanjang setiap lima tahun sekali. Untuk kewenangan penerbitan STR itu, lanjut Idham, masih diakomodir oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra atas nama Menteri Kesehatan RI. “Harus dipahami dulu bahwa tenaga kefarmasian itu terbagi dua. Yakni apoteker dan TTK. TTK tidak bisa melakukan pelayanan kesehatan kalau dia tidak punya STR. Sama dengan tenaga kesehatan lain semisal perawat dan bidan,” ujar Muhammad Idham.

Pria yang karib disapa Idham itu menambahkan, syarat mengantongi STR adalah memiliki sertifikasi kompetensi serta telah mengikuti penyumpahan. Sementara perpanjangan STR, sambungnya, TTK harus mengumpulkan 25 Satuan Kredit Partisipatif (SKP). Jadi kata Idham, kalau TTK tidak memenuhi 25 SKP, maka STR-nya tidak akan berlaku lagi.
“SKP dapat diperoleh dengan melakukan beberapa pekerjaan kefarmasian. Mengikuti seminar, aktif di organisasi profesi (OP) serta melakukan pengabdian kepada masyarakat. Jika semua itu terpenuhi, pada tahun kelima STR-nya bisa diperpanjang,” urainya.

Katanya, setiap puskemas minimal harus diisi oleh 2-3 orang TTK. Dengan begitu, pelayanan kefarmasian bisa berjalan maksimal. Ia pun menilai, saat ini pemenuhan TTK pada pusat pelayanan kesehatan masih jauh panggang dari api. Belum lagi, TTK yang bekerja di daerah terpencil jumlahnya terbatas. Bukan itu saja, sebagian pemilik apotek mempekerjakan karyawan diluar TTK, padahal dilarang.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Sultra, M Ilyas menyebut, jumlah TTK yang memasuki dunia kerja di Bumi Anoa memang masih kurang. Apalagi, yang bertugas di apotek, puskesmas dan daerah terpencil. Untuk itu dalam waktu dekat, ia berjanji akan mengundang pihak terkait untuk membahas pemenuhan formasi TTK disetiap daerah.

“Nanti kita akan hearing bersama operator kesehatan termasuk pemangku kepentingan di Sultra. Insya Allah, TTK ini punya peluang besar bekerja di sektor pemerintahan maupun swasta,” ucap Ilyas. (m1/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy