Suara Anak Bangsa, Oleh: Prof Hanna – Kendari Pos
Kolom

Suara Anak Bangsa, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Mendidik anak merupakan tantangan yang amat besar bagi orang tua. Apalagi dalam kondisi seperti saat ini. Situasinya, sangat jauh berbeda dengan zaman dulu. Sebagai orang tua, tentu saja sangat berharap bisa mendidik dan membesarkan anaknya seperti diinginkan. Namun, ekspektasi seperti ini, merupakan harapan keliru. Sebab, anak lahir dengan potensi yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bukan keinginan orang tua.

Orang tua, hanya dapat memberikan bimbingan serta arahan yang tepat agar menjadi manusia baik dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang kita inginkan kelak saat mereka dewasa. Di masa kecil, tentu saja masa-masa yang kritis bagi perkembangan otak sang anak. Pada tahap inilah anak mengalami masa-masa keemasan. Di mana perkembangan otaknya terjadi dengan cepat dan pesat.

Pada fase ini, otak anak memiliki kemampuan menyerap pengalaman-pengalaman baru lebih cepat dari anak berusia 3 tahun. Oleh sebab itu, jangan sampai salah dalam mendidik maupun memberikan contoh. Keberhasilan dalam proses pendidikan, tergantung “the man behind the gun”, dalam hal ini adalah orang tua.

Dalam mendidik anak, terkadang orang tua out of control melihat tingkah laku anaknya. Mereka emosi dan memberikan perintah yang tidak mendidik. Padahal, sebenarnya perilaku itu adalah hal biasa. Perilaku yang saya maksudkan antara lain: Pertama, sering terjadi kakak beradik bertengkar. Sehingga, bisa menimbulkan tantangan tersendiri bagi orangtua. Bukan pekerjaan mudah untuk membantu agar si kakak dan si adik bisa bermain dengan akur tanpa saling berebut.

Kedua, usia balita, biasanya anak mengalami fase egosentris. Yakni, fase di mana anak masih berpusat pada dirinya sendiri. Tak heran jika si kecil enggan meminjamkan barangnya pada orang lain. Bahkan, si kecil juga senang merebut barang milik temannya. Ketiga, mendisiplinkan merupakan kewajiban semua orang tua. Tidak ada kata terlalu cepat untuk mengajarkan disiplin pada anak. Justru semakin muda usia si kecil, semakin mudah untuk mendidiknya mengenai disiplin. Keempat, mengajarkan rasa empati pada anak usia dini memang susah-susah gampang.

Untuk mendidik anak yang perlu dipikirkan adalah membangun kreativitas. Mengajari anak, bukan berarti harus membuat peraturan-peraturan baru yang tidak menyenangkan baginya. Justru bisa menjadi bumerang. Hal paling efektif adalah dengan bermain bersama. Biarkan dia mempelajari sesuatu dengan cara yang jauh lebih menyenangkan, seperti bermain, menari atau bermain musik bersama.

Demikian juga dalam menegur anak dan memberikan instruksi kepadanya. Banyak orang tua, memberikan kalimat-kalimat yang justru menakuti si anak. Padahal, sebaiknya orang tua menghindari menggunakan kata “Jangan”. Sebab, kata ini, apabila terlalu sering diucapkan oleh orang tua kepada anaknya, justru dapat berakibat negatif. Bisa menyebabkan si anak tidak berkembang kreativitasnya.

Untuk mengganti kata “jangan”, sebaiknya menggunakan kata lain yang bermakna lebih positif. Ajarkan anak-anak untuk selalu menghormati siapa saja. Baik orang yang lebih tua maupun teman sebayanya. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa hormat sejak usia dini. Sebab, di kemudian hari, saat dia sudah dewasa bisa berlaku hormat kepada semua orang. Ajarkan juga rasa tanggung jawab terhadap dirinya. Misalnya, jika telah tiba waktunya untuk sekolah, dia harus berangkat. Jika dia bertanya mengapa harus demikian. Berikanlah alasan yang bisa dipahaminya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top