Pustaka Kabanti Kendari : Dari Panggung Teater Hingga Koleksi Buku Pribadi – Kendari Pos
Aneka

Pustaka Kabanti Kendari : Dari Panggung Teater Hingga Koleksi Buku Pribadi

Penggagas Komunitas Pustaka Kabanti Kendari, Syaifuddin Gani memerlihatkan koleksi buku bacaan yang ada. DOK. PUSTAKA KABANTI KENDARI FOR KENDARI POS

KENDARIPOS.CO.ID — Pustaka Kabanti adalah sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan program seni, budaya, perpustakaan, pendidikan, pelatihan, penerbitan, dan pengarsipan. Komunitas ini berpusat di Kompleks BTN Puri Tawang Alun 2 Kendari, Sulawesi Tenggara. Taman bacaan ini sehari-harinya ramai dikunjungi anak-anak kompleks perumahan. Adalah Syaifuddin Gani yang mencetuskan ide pendirian Pustaka Kabanti. Sebelum Pustaka Kabanti terbentuk, Syaifuddin Gani merupakan anggota komunitas teater selama 15 tahun. Sejak menjadi mahawasiswa Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas Halu Oleo (UHO) pada tahun 1997, ia sudah bercita-cita untuk bergabung di teater. Ia pernah, mengikuti pentas teater pada beberapa kota di Indonesia. Saat di teater, setiap anggota termasuk dirinya diwajibkan membaca, menulis dan mempublikasikan karya. Sebagaimana anggota lainnya, ia juga mulai mengoleksi berbagai buku bacaan. Hingga akhirnya ia menjadi seorang penulis. Satu hal yang paling menonjol ia dapati pada setiap seniman adalah koleksi buku yang seabrek. Mulailah ia mengoleksi berbagai jenis buku.

“Ternyata buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi mereka (para seniman) itu menjadi koleksi komunitas dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum,” ujar Syaifuddin Gani, kemarin. Pria yang juga bekerja di Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara ini pun berikhtiar agar koleksi pribadinya dapat diakses banyak orang. Bercita-cita sejak 2014, barulah akhir tahun 2016 mimpi itu terealisasi. Awalnya, buku-buku pribadi ia letakkan ke teras rumah. Bersama istri tercinta, Windasari dan kawannya bernama Iwan yang merupakan seorang penyair, Syaifuddin mendirikan perpustakaan yang kemudian diberi nama Pustaka Kabanti.

Seiring berjalannya waktu, sumbangan buku dari berbagai pihak mulai berdatangan. Koleksi buku Pustaka Kabanti semakin bertambah. Para penyumbang tersebut terdiri dari penulis, penyair dan kenalannya baik yang ada di Kendari maupun di luar kota. “Pohon-pohon di halaman rumah, saya tebang dan mendirikan bangunan sederhana berukuran 4×8 meter. Dengan harapan, pohon-pohon hijau itu digantikan dengan hadirnya pohon ilmu,” kenangnya.

Beberapa waktu kemudian, pertemuan-pertemuan dan diskusi-diskusi kecil mulai dilakukan di ruang mini tersebut. Ia ingin Pustaka Kabanti dikenal masyarakat umum, bukan hanya rekan-rekannya. Untuk itu, ia mulai memperkenalkan Pustaka Kabanti secara langsung kepada warga kompleks dan juga warganet melalui media sosial. “Sasaran pertama saya adalah para tetangga. Saya sampaikan, di rumah ada koleksi buku yang dapat dibaca mereka,” tuturnya. Dipikirnya, para sastrawan dan pegiat komunitas yang akan menjadi pengunjung utama Pustaka Kabanti. Ia keliru. Ternyata, pengunjung paling banyak dan intens adalah anak-anak kecil usia sekolah dasar hingga menengah pertama. “Dari situ ia mulai memperkaya koleksinya dengan buku bacaan anak-anak. Respon para orang tua di kompleks juga cukup antusias.

Selain memperkenalkan secara lisan, publikasi melalui media sosial juga dilakukan oleh Duta Baca Provinsi Sulawesi Tenggara periode 2018-2020 ini. “Lebih efektif melalui media sosial karena informasi dapat sampai ke lebih banyak orang. Ini kan era digital,” terangnya. Sejak saat itu, Pustaka Kabanti mulai dikenal banyak orang. Pustaka Kabanti telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan baik di tingkat lokal maupun nasional. Di Kendari misalnya diundang dalam kegiatan-kegiatan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk menghadiri acara seminar pengembangan perpustakaan bekerja sama dengan perpustakaan nasional, serta diundang dalam berbagai diskusi komunitas di Kota Kendari. Kegiatan nasional juga sering. Misalnya di Palu dan Jawa Barat.

Koleksi Pustaka Kabanti sudah mencapai 5.000 lebih. Ada buku, majalah dan jurnal. Ada pula beberapa koleksi video. Para ibu di kompleks rupanya cukup sering meminjam buku dari Pustaka Kabanti untuk dibaca di rumah. Tak ada biaya peminjaman, melainkan hanya bermodal kepercayaan. Sejak berdiri hingga sekarang, Pustaka Kabanti masih diketuai oleh Syaifuddin Gani. Nama Kabanti dipilihnya sebagai bentuk penghargaan terhadap kebudayaan Buton dan Muna. “Saya merasa perlu menghargai pencapaian budaya itu. Makanya saya abadikan sebagai nama komunitas,” paparnya. Kabanti berarti syair yang dinyanyikan dalam tradisi lisan Buton dan Muna. Begitu kata Syaifuddin. (b/m7/cok)

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy