Mengusul Oputa Yi Koo Jadi Pahlawan Nasional, Pejuang Tangguh dari Tanah Buton – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Mengusul Oputa Yi Koo Jadi Pahlawan Nasional, Pejuang Tangguh dari Tanah Buton

KENDARIPOS.CO.ID — Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo merupakan salah seorang pejuang tangguh di Tanah Wolio (Buton). Dia dengan gagah berani melawan agresi, invasi, dan imperialisme Belanda pada abad ke-18. Dia memimpin perlawanan terakhir di dalam benteng, dengan suara lantang memberikan semangat perlawanan kepada VOC. Dia adalah satu-satunya yang pernah memerintah Buton dua kali. Yakni, sebagai Sultan Buton ke-20 (1751-1752) dan ke-23 (1760-1763) dalam sejarah Kesultanan Buton. Semasa berkuasa, Himayatuddin hanya menghabiskan waktunya menentang dan melawan kekuasaan kolonial Belanda. Karena jasa-jasanya itu, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi dianggap sangat layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Hal itu disampaikan oleh pembicara yang hadir dalam kegiatan Seminar Nasional bertajuk “Heroisme Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo) sebagai kandidat Kuat Pahlawan Nasional Republik Indonesia dalam Ragam Perspektif (Diskresi Politik Pemerintahan, Filosofis, Hukum, Sejarah, dan Kebijakan Universitas)” bertempat di Auditorium Universitas Halu Oleo (UHO), Senin (22/7). Gubernur Sultra, H. Ali Mazi yang turut hadir menegaskan, mendukung penuh usulan tersebut dan memastikan akan mengawal prosesnya hingga selesai. Menurutnya, ada beberapa pejuang dari Sultra yang layak mendapat gelar Pahlawan Nasional termasuk Oputa Yi Koo. “Mari sama-sama mengupayakan agar ada tokoh pejuang Sultra diakui secara nasional,” imbau Ali Mazi.

Dukungan serupa juga datang dari Wali Kota Baubau, AS Tamrin. Dirinya mengaku optimis, kali ini usulan tersebut akan mendapat restu Dewan Gelar. Apalagi, kata dia, sejumlah tokoh seperti Ketua TP2GP Prof. Dr. Jimly AsShiddiqie, Sejarawan Indonesia Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Rektor UHO Prof. Dr. Muhammad Zamrun, dan Gubernur Sultra, H. Ali Mazi memberikan perhatian serius terkait persoalan itu.

“Tapi kita tidak boleh takabur. Tentu harus ada kesiapan dari masyarakat dan pemerintah Sultra,” ujarnya. Lanjut dia, dukungan dari masyarakat tidak boleh disepelekan. Jika pemerintah dengan otoritasnya bergerak secara paralel bersama masyarakat, harapan-harapan tersebut dapat terealisasi. Menurutnya, penetapan putra daerah Sultra sebagai Pahlawan Nasional akan memberikan pengaruh positif terhadap psikologi masyarakat Sultra. “Kita tentu akan merasa bangga bahwa ada orang Sultra diakui sebagai pahlawan,” terangnya.

Di kesempatan yang sama, Sejarawan Indonesia Susanto Zuhdi mengatakan, semua syarat pengusulan sudah lengkap dan tinggal menunggu pengesahan. “Sudah lolos dari Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementrian Sosial (Kemensos) pada tahun 2012. Namun, dari sebelas orang yang diusulkan, hanya Soekarno dan Mohammad Hatta yang sampai pada Dewan Gelar dan Presiden. Sisanya yang sembilan ditunda untuk dilanjutkan lagi,” beber Susanto.

Menurutnya, Oputa Yi Koo sangat layak dinobatkan sebagai pahlawan. Karena sikap dan tindakannya yang berani dalam membela kebenaran meskipun harus mengorbankan dirinya, sangat layak baginya disematkan gelar Pahlawan Nasional. Ketika sultan-sultan Buton di kala itu, memilih meneken kontrak dengan VOC yang berarti menggadaikan kemerdekaan rakyatnya, hanya dia yang mau melawan.

Itu menunjukkan, Oputa Yi Koo seorang pejuang yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk rakyat. Padahal, bisa saja Oputa menerima penawaran VOC dan hidup dengan aman. “Tapi dia melawan. Inilah sultan yang berani. Memang ada sultan lainnya yang melawan, tapi dia yang paling fenomenal,” terangnya.

Sementara itu, Jimly Asshiddiqie menjelaskan, Dewan Gelar akan mendiskusikan banyak aspek mengenai tokoh yang akan dijadikan pahlawan. “Soal gelar, biasanya calon yang lolos, sudah dianggap layak untuk dipertimbangkan sebagai Pahlawan Nasional. Nanti dewan akan mendiskusikan banyak aspek. Jika sudah dipilih, selanjutnya diserahkan kepada Presiden,” ujar Jimly.

Rektor UHO, Prof Muh Zamrun dalam sambutannya mengatakan, seminar tersebut sebagai wadah untuk membuka kembali sejarah perjuangan Oputa Yi Koo. Bukan hanya soal kekayaan alam, menurutnya, masyarakat Sultra perlu melihat sisi positif dari para pejuang kemerdekaan. “Oputa Yi Koo sangat layak mendapat gelar Pahlawan Nasional. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah provinsi yang telah bersungguh-sungguh mengawal proses ini,” ucapnya.

Untuk diketahui, seminar tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di Sultra. Mereka diantaranya, mahasiswa, guru, dosen, sejarawan, akademisi, serta anggota dewan. Sesi diskusi dimoderatori oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Asrun Lio. Beberapa peserta yang berkesempatan mengemukakan pendapat mengaku mendukung penuh usulan tersebut. Mereka juga berharap, di bawah kepemimpinan Ali Mazi, keinginan tersebut bisa terpenuhi. “Sudah banyak pejuang yang diusulkan tapi belum ada satu pun dari Sultra yang lolos. Kami berharap, kali ini ada yang bisa dinobatkan,” ucap salah seorang peserta dari kalangan guru. (b/m7)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy