Mata Kuliah Kedaluwarsa, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Mata Kuliah Kedaluwarsa, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Sekarang, penerimaan mahasiswa baru lagi. Gelombang pertama sudah diumumkan. Bagi yang tak lolos, masih ada waktu pendaftaran. Berbagai macam jurusan dan fakultas tersedia. Pilih. Silakan daftar di mana jurusan yang kamu senangi. Tapi, saran saya, sesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Untuk mengetahui mata kuliah yang dibutuhkan, gampang cara melacaknya. Caranya? Begini. Korang baca koran atau nonton televisi. Berita apa pernah ditampilkan koran, dan sarjana apa yang pernah pula tampil fotonya di koran. Pilihlah jurusan yang dibahas di berita itu, atau pilihlah jurusan seperti penjelasan orang yang ada fotonya di koran atau yang tampil di televisi.

Artinya apa? Kalau jurusan dan matakuliah yang diajarkan di kampus acap kali menghiasi berita headline koran dan televisi, itu artinya, kamu kelak akan dibutuhkan. Pilihlah jurusan itu. Belajar seriuslah dengan mata kuliah itu. Tapi jikalau jurusanmu tak pernah nongol di TV, bahkan ketersediaan lapangan kerja yang linier dengan disiplin ilmumu nyaris tak ditemukan di koran-koran dan televisi, sebaiknya tinggalkan jurusan itu. Tapi, kan, yang penting sarjana. Oh, kalau gitu silahkan. Hanya risikonya, kamu harus bekerja ekstra, ketika kelak masuk dunia kerja.

Kenapa? Tertutama swasta yang mengedepankan prestasi dan kinerja, mereka membutuhkan angkatan kerja yang memiliki kemampuan atas dasar ilmu dan pengalaman, bukan angkatan kerja yang berijazah. Korporasi tidak butuh ijazah tapi dia butuh kecerdasan dan kemampuanmu bekerja. Korporasi tidak butuh IP tinggi, karena itu dimaklumi bisa dipesan di BAK. Tapi membutuhkan orang-orang cerdas walaupun IP-mu tak tercatat di BAK. Dalam konteks ini, instansi pemerintah tidak berlaku karena orientasi lembaga pemerintah berbeda dengan orientasi swasta. Pemerintah mendahulukan kebenaran proses, sedangkan korporasi/swasta berorientasi hasil dan kinerja. Persetan dengan proses.

Oleh karena minimnya serapan angkatan kerja di lembaga pemerintah dan banyaknya kebutuhan tenaga kerja di lembaga swasta, sebaiknya, kampus pun merubah haluan. Cobalah sekali-sekali keluar dari kebiasaan. Umpamanya begini, suatu daerah diprediksi akan banyak membutuhkan tenaga kerja tukang keba atau pembuat gula aren. Kampus sebagai lembaga penelitian bisa meneliti kebutuhan dunia kerja, sekaligus meneliti populasi pohon enau yang menjadi mitra tukang keba.

Di sisi lain, kampus yang sebelumnya, misalnya, memiliki jurusan imala, jurusan pantun jenaka, walaupun Kemenristek Dikti mempersilahkan kampus menerima mahasiswa baru jurusan imala, mahasiswa baru jurusan pantun jenaka, di sini kosong di sana kosong, atau jurusan yang membahas cerita kancil dan buaya, sebaiknya jangan dijalankan.
Tinggalkan, dan perbanyak kuota jurusan tukang keba alias pengrajin aren.

Menumpuk pengangguran kan juga dosa. Dia sarjana tapi tak punya skill. Diibaratkan sarjana adalah baju, maka yang paling dibutuh dunia kerja adalah baju yang dijual di Senayan City. Bukan baju yang dijual di Pasar Tongkoea, bukan di pasar Langgikima. Bukan baju yang dijual di pasar Kadolokatapi. Kita ambil contoh misalnya, Sultra yang daerah maritim, agraris dan daerah tambang. Bukankah memperbanyak kuota jurusan maritim dan tambang akan dapat ridha? Dan kayaknya, Tuhan akan geleng kepala, jika kampus memperbanyak jurusan Imala atau jurusan pantun jenaka.

Jangan sampai kalian belum tembus berpikir, izinkan untuk saya to the point: sebaiknya tutupmi itu jurusan kedaluwarsa. Tapi, ini andaikata. Ini umpamanya. Atau seumpama. Umpama kata. Dll.
Keluar dari jalur. Tinggalkan kebiasaan, toh tak bakal maso penjara. Orang yang di penjara kan kecuali korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Kenapa harus keilmuan linear? Karena fenomena saat ini, orientasi kuliah bukan lagi kecerdasan akademik, tapi upaya memperoleh ijazah sarjana. Kalau perlu membeli ijazah. Mengharapkan masyarakat pencari perguruan tinggi yang berubah, rasa-rasanya sulit dan karena itu, kampus mestinya reorientasi. Ini penting, agar di group-group medsos tak lagi dihiasi dengan komen-komen salah dari otak yang tak linear keilmuannya.

Dalam lembaran resmi lembaga pemerintah pun acap kali ditemukan. Dengan percaya diri mereka menulis TERMAKSUD, yang seharusnya TERMASUK. Bangga memberitahu jangan KOPELE, yang maksudnya jangan MENGHALANGI. Dengan gaya meyakinkan ngomong DOMORANG padahal MEREKA. (nebansi@yahoo.com)

Penulis :
La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy