Labbaika, Oleh: La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Labbaika, Oleh: La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Karena terkait haji. Wikipedia bilang, rukun haji yang wajib itu ada enam. Niat, tawaf, sa’i, wukuf, tahalul dan tertib. Keenam rukun haji tersebut coba kita dekati dengan kehidupan kita hari-hari. Pertama: Niat. Begitu kita mengenal dunia ini, pastilah kita punya niat dan cita-cita. Bahwa, saya ingin menjalani hidup ini dengan sakinah, mawaddah warahmah. Kedua: Tawaf. Dalam melewati kehidupan ini, sejatinya saya dan anda-anda semua telah bertawaf. Kita semua sudah berkeliling dunia ini dengan lingkaran masing-masing. Ada yang lingkaran pendek, seperti juga lingkaran pendek dalam tawaf yang mendekati Ka’bah, dan ada lingkaran jauh yang mejauh dari Ka’bah.

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Dalam pendekatan kehidupan dunia, berkeliling dengan lingkaran pendek ini, kira-kira mereka yang hanya sanggup melakukan perjalanan ke Gunung Jati, terus ke Alolama, ke Tobimeita, terus ke Lapulu kembali ke Gunung Jati. Bagi mereka yang agak sanggup bisa bertawaf dari Kendari ke Jakarta, Surabaya, Makassar kembali ke Kendari. Bagi yang banyak duit, bisa bertawaf dari Kendari, Jakarta, Singapura, Amerika, kembali ke Jakarta dan pulang ke Kendari. Ini semua memberi pengertian: keliling aliaf tawaf.

Ketiga: Sa’i. Sejatinya, kita semua ber-Sa’i tiap hari. Bagi orang kantoran, mereka sa’i dari rumah ke kantor dan kantor ke rumah. Bagi petani, mereka ber-sa’i dari rumah ke kebun dan dari kebun ke rumah. Bagi para anggota Fraksi Balkon, mereka juga ber-sa’i dari rumah ke DPRD. Keempat: Wukuf. Kira-kira, dalam kaitan dengan keseharian kita, Wukuf ini bisa didekati pemaknaannya dengan waktu tidur atau istirahat. Sebelum tidur, tentulah ada perenungan. Terserah mau merenungkan apa sebagai pengantar tidurmu. Kalau saya sih, sebelum tidur merenungkan; kira-kira tarsan siapa lagi yang akan datang ke kantor besok. Kalau temanku, merenungkan kenapa waktu main yoker, salah turun kartu. “Kalau saya turun As Klafer tadi pasti saya yang gem”. Bagi saya, kira-kira, begitu personifikasi gerakan-gerakan rukun haji dalam keseharian kita.

Soal haji, lain lagi. Haji itu adalah rukun Islam yang kelima. Disebutkan bahwa, Haji hanya diwajibkan bagi mereka yang sanggup. Sanggup kesehatannya dan sanggup uangnya. Disebutkan bahwa, menunaikan ibadah haji adalah memenuhi panggilan Allah. Karena itulah, lantunan Labbaik Allahumma Labbaik dst dari para Jamaah tak henti-hentinya.
Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Labbaik Allahummah Labbaik. Luar biasa jika ditelaah, direnungi dan disimak.

Bayangkan: Saya datang memenuhi panggilan-Mu. Dalam kehidupan dunia saya ibaratkan begini: Wahai Bapak Presiden, saya datang memenuhi panggilanmu. Bayangkan seorang yang dipanggil khusus oleh Presiden. Karena kamu tamunya Presiden, pasti bebas hambatan, pasti dapat duit banyak, dapat hadiah macam-macam. Paspamres tak berani menahan karena dipanggil khusus oleh Presiden. Keadaanmu saat itu sangat luar biasa karena kamu berstatus TAMU PRESIDEN.

Jangankan Presiden, dipanggil Gubernur saja sudah sangat luar biasa. Menjadi tamu khusus Gubernur, pastilah mendapat pengawalan khusus dari Pol PP. Dari jauh sudah disambut. Dikasi makan yang enak-enak, disuguhkan penganan apa saja yang kamu suka. Mau makan apa saja ada. Keadaanmu saat itu sangat luar biasa karena kamu berstatus TAMU GUBERNUR.

Lalu, bagaimana lagi jika kamu menjadi TAMUNYA YANG MAHA KUASA. Saat kamu berhaji berarti kamu berstatus tamunya ALLAH. Saat itu kamu begitu mulia karena kamu berstatus Tamunya yang MAHA MULIA. Saat itu, seluruh badan dan pakaianmu wajib suci karena kamu berstatus Tamunya yang MAHA SUCI. Terus? Apa yang koragukan jika semua menjadi urusan Allah? Terus, kamu sebagai keluarga, anak, saudara, sepupu, apa yang koragukan dengan kepergiannya memenuhi panggilan Allah, toh, semua sudah menjadi jaminan Yang Maha Kuasa? Oleh karena memenuhi panggilan Allah, maka keberangkatan Haji pun memiliki unsur ghaib.

Kenapa unsur ghaib? Karena tamunya Allah, maka hanya dengan hidayah Allah-lah untuk bisa menunaikan ibadah haji. Berhaji karena ada hidayah, bukan karena kaya raya. Jika ukurannya kaya raya, mestinya, setiap muslim yang kaya raya pasti naik haji. Tapi, kan, tidak. Karena tidak ada hidayah. Kenapa tak dapat hidayah? Karena bisa jadi, di banyak kekayaannya kebanyakan bernilai istidraj. Rejekinya tidak barokah.

Juga, berhaji bukan karena jabatan dan kekuasaan. Jika ukurannya jabatan, mestinya, semua yang menduduki jabatan berstatus haji. Tapi, kan, tidak. Kenapa? Karena bisa jadi, di benak mereka, menyandang status pejabat lebih bergengsi ketimbang menyandang status Haji. Di benak golongan istidraj, HAJI bukan ibadah tetapi status. Dia lalai, bahwa Haji adalah kemuliaan orang-orang yang memiliki kesanggupan dan hidayah Allah SWT. Merugilah orang-orang yang memiliki kesanggupan namun tak dapat hidayah haji.

Sebagai penutup, sejak saya mengarahkan pikiran pada status jamaah haji, ingin sekali rasanya ke Baitullah di musim haji. Kata Kyai, begitu hebatnya haji, hingga berniat pun sudah mendapat pahala. Dan ternyata, kata Kyai, menjalani proses haji sesungguhnya dimulai sejak menabung haji. Oh, kalau begitu: besok ke Bank. (nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy