Khutbah Tanpa Khatib, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Khutbah Tanpa Khatib, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Menunggu pertemuan Jokowi-Prabowo. Begitu tagline talk show salah satu TV, kemarin. Ya, memungkinkan rekonsiliasi. Dan, yang namanya politik, rekonsiliasi berarti, ada deal-deal. Kita berandai ada rekonsiliasi bersyarat dari Prabowo. Siap mendukung pemerintahan dan seluruh upaya hukum lain pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) akan disetop. Niat ke Mahkamah Internasional juga dihentikan. Pokoknya, hanya satu kata: mendukung dengan syarat.

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Apa syaratnya? Berdasarkan isyarat langitan, dan demi kepentingan politik ke depan, saya minta jatah tiga jabatan. Saya harus menentukan siapa yang jadi Kepala ini, siapa yang harus jadi Pimpinan itu dan siapa yang harus jadi Menteri Super Penting. Andai Jokowi menginginkan rekonsiliasi. Dan, andai juga Prabowo bersedia rekonsiliasi maka, tokoh yang paling penting di sekitar Jokowi akan bergeser ke Prabowo.

Kemarin, pasca putusan MK, tokoh yang paling penting Si Ngana.
Si Ngana ini menggeser posisi Si Ngono saat di KPU. Dan Si Ngono menggeser posisi Si Nganu yang berpengaruh dalam penentuan pasangan Capres-Cawapres dan partai-partai pendukung. Dalam setiap etape proses Pilpres, muncul sosok penting yang baru oleh karena perannya seketika itu. Artinya bahwa, politik itu dinamis. Sangat dinamis.

Dan oleh karenanya, hindari fitnah dan jangan menyakiti perasaan siapa pun. Biarkan orang lain seperti itu, tapi, kamu jangan. Karena bisa jadi, putaran berikutnya, nasibmu amat sangat tergantung kepada orang yang kamu sakiti saat kampanye. Artinya, kelak terjadi koalisi antara Jokowi dan Prabowo, maka orang paling penting dalam tanjakan kariermu kini beralih ke tiga pejabat yang disyaratkan Prabowo.

Tapi memang, proses Pemilu baru-baru benar-benar menjadi ta’ziah tanpa dai, menjadi khutbah tanpa khatib. Menjadi bahan diskusi yang tak dibatasi ruang dan waktu. Dan, semua ramai. Di medsos misalnya, ada diskusi menyangkut kejujurannya, ada diskusi kebohongan, ada video jujur, video bohong. Ada diskusi dukungan Kyai, tokoh, dan lain sebagainya. Ending dari diskusinya, bahwa Pemilu lalu telah memberikan pengetahuan baru bahwa jangan terkecoh dengan nilai ketokohan. Karena ternyata, di Youtube ada tokoh plin plan, di Medsos ada tokoh jujur, di internet ada tokoh yang tergantung arah angin. Di FB bisa dibedakan mana tokoh yang patut dihormati dan mana tokoh yang kalau kita melintas di depannya sambil tolak pinggang pun tak apa-apa. Semua ketahuan setelah Pemilu.

Siapakah yang mulia dan siapa yang tak mulia? Siapa yang terhormat dan siapa yang tak terhormat? Kalau tak terhormat, panggilah yang tak mulia. Bahwa tunjukkan yang benar bahwa benar. Bahwa terhormat lantas tak terhormat, bahwa ndak usahlah itu dihirau. Karena banyak bahwanya, maka ini boleh dibilang bahwa kalimatnya agak rancu. Ya, terserah. Memang, ilmu pengetahuan dan teknologi telah pula membawa persegeran nilai-nilai.

Lihatlah, bendera-bendera kecil melambai dari tangan anak-anak SD yang berdiri berjejer di sepanjang Duriaasi. Semakin semangat dilambaikan ketika melintas orang yang disambut. Saat itu, pada Maret 1996, ada orang yang terhormat: Presiden Republik Indonesia, Soeharto akan melintas. Disambut karena kehormatan, bukan karena keterpaksaan. Disambut karena terhormat, karena memang terhormat. Disambut karena keseganan bukan karena ketakutan. Disambut karena syukur membawa nikmat, bukan karena ingke-ingkeho membawa nikmat.

Di sepanjang Ambaipua hingga Kota Kendari pun ada bendera-bendera kecil yang melambai. Ternyata, anak-anak SD itu menyambut kedatangan Rudini, Menteri Dalam Negeri ketika itu. Disambut karena terhormat bukan karena minta dihormati. Sungguh-sungguh terhormat dan ikhlas dihormati karena rakyat tahu bahwa, Rudini diangkat menjadi Menteri bukan dari hasil bagi kekuasaan tapi dari hasil istigharah, munajat dan taqarrub. Bendera kecil juga dilambaikan di poros Angata, Benua hingga Basala.

Ketika menyambut kedatangan Bupati Kendari, Abdul Razak Porosi. Bendera kecil itu dikibarkan untuk menyambut orang-orang terhormat. Ya, itu dulu. Sekarang, bendera-bendera kecil itu telah hilang. Tak ada lagi lambaian bendera kecil. Kalau toh ada: wani piro. Saya tidak tahu, apakah menghilangnya bendera kecil itu bisa diartikan dengan menghilangnya kehormatan atau tidak. Atau, menghilangnya bendera kecil itu karena kesibukan anak-anak SD yang lebih memilih menyelesaikan level game mobile legends.

Fenomena kehormatan memang seperti itu. Terhormat dan dihormati tidak lagi terletak pada subyek tetapi obyek. Kehormatan bukan dari orangnya tapi jabatannya. Dan, saat ini agak susah dibedakan mana sambutan penghormatan dan mana sambutan mundo-mundo. Umpamakanlah dua komisioner Jakarta ke daerah. Yang satu Komisioner KPU dan satu lagi Komisioner KPK. Sama-sama Komisioner yang mestinya penghormatannya sama. Tarolah kedua Komisoner itu mengundang semua pejabat pada hari yang sama. Yang Komisioner KPU bertempat di kantor Gubernur yang full AC sedangkan Komisioner KPK mengundang di Gedung yang sekarang dipakai Kantor PWI yang non AC itu. Undangan komisioner manakah yang akan dihadiri?

Bahwa saya ingin mengatakan, kalaulah kejujuran dan kehormatan masih dipegang teguh, maka penyebutan kata KORUPSI tak akan seramai pendengaranmu. Maksudnya, jika saja para pengelola keuangan negara jujur, maka KPK seketika lesu. Sepi. Kenapa sepi? Ndak ada korupsi. Dengan tidak adanya korupsi menjadikan KPK lesu dan sepi disatu sisi, disisi lain, jika pengelola uang negara jujur, yakin dan percaya, kedatangan komisioner KPK bakal sepi jemputan. Kenapa sepi penjemputan? Ya karena ndak ada urusan. Kenapa sepi acaranya? Karena semua jujur. Kenapa sepi? Karena ndak mungkin diusut. Kenapa sepi? Ya, karena disini ndak ada Pungli. Tapi kemarin salia rame sekaliee?(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy