Kemenag Bentuk 7 Zonasi di Makkah, JCH Sultra Masuk Zonasi Syisyah – Kendari Pos
Metro Kendari

Kemenag Bentuk 7 Zonasi di Makkah, JCH Sultra Masuk Zonasi Syisyah

KENDARIPOS.CO.ID — Kementerian Agama (Kemenag) membagi tujuh zonasi untuk calon jamaah haji Indonesia (CJHI) di Makkah. Zonasi dibuat untuk mempermudah pengaturan serta pengelompokan ratusan ribu CJHI. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Nizar mengatakan, penerapan zonasi yang dilakukan pemerintah, demi memudahkan manajemen ratusan ribu jamaah saat berada di Makkah, Arab Saudi.

Sebanyak tujuh zonasi telah dibentuk pemerintah. Masing-masing zonasi akan dihuni oleh CJHI berdasarkan embarkasi. “Total terdapat tujuh zonasi di Makkah yang dibagi menjadi tujuh tempat,” katanya, saat konferensi pers sosialisasi penyelenggaraan ibadah haji 1440 Hijriah, di Jakarta, Kamis (18/7). Nizar merinci ketujuh zonasi tersebut, yaitu zonasi Azizah yang akan ditempati oleh CJHI asal Embarkasi Lombok.

Kedua, zonasi Raudhah ditempati Embarkasi Palembang dan Jakarta. Selanjutnya Misfalah yang akan ditempati dari Embarkasi Jakarta-Bekasi. Kemudian Jarwal ditempati Embarkasi Solo. “Lalu ada zonasi Mahbas Jin yang ditempati Embarkasi Surabaya, zonasi Rei Bakhsy untuk Embarkasi Banjarmasin dan Balikpapan, serta zonasi Syisyah yang ditempati Embarkasi Aceh, Medan, Padang, Batam, serta Makasar,” rincinya. Untuk embarkasi Makassar, termasuk di dalamnya JCH Sultra.

Menurutnya, kebijakan zonasi diterapkan karena beberapa pertimbangan pelayanan untuk jemaah seperti bahasa, budaya, adat istiadat.
“Salah satu contohnya, sistem zonasi memudahkan petugas untuk memberikan atau menyediakan makanan khas daerah,” katanya. Dijelaskannya, sebelum adanya penerapan sistem zonasi pada 2018, konsumsi jemaah haji yaitu konsep cita rasa nusantara. Namun, 2019 panitia atau koki menyediakan masakan kedaerahan berdasarkan zonasi.

“Contoh zonasi yang ditempati orang Jawa Barat, maka menunya beberapa hari akan diberikan makanan khas daerah itu juga,” ujarnya. Sistem zonasi tersebut juga berguna apabila calon jamaah haji tersesat. Nantinya, petugas dengan mudah mengantarkannya ke pemondokan karena sudah diketahui zonasi mana. “Contoh calon jamaah yang tersesat asal Cianjur, petugas hanya tinggal mengantarkannya ke zonasi Misfalah,” ujar dia. Dia juga menilai orang Indonesia yang ke luar negeri seperti menunaikan ibadah haji akan lebih merasa nyaman jika berkumpul dengan satu daerah asal, sehingga zonasi ini cukup bermanfaat.

Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Sultra, La Maidu membenarkan kalau jemaah haji embarkasi Makassar, termasuk di dalamnya JCH Sultra menempati sektor 2 Syisyah (Makkah) dan Markaziah di Madinah. “Pemondokan sengaja dikumpul supaya memudahkan mobilitas saat pelaksanakan haji,” jelasnya. Sementara itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Madinah berlakukan triase untuk hindari penumpukkan jemaah sakit. Dari data yang ada, 251 jemaah haji Indonesia telah mengunjungi Klinik KKHI Madinah, 19 diantaranya dirawat dan 35 lainnya dirujuk ke RSAS. Sementara tujuh lainnya dilaporkan wafat.

Kepala Seksi Layanan Kesehatan Daerah Kerja Madinah, dr Edi Supriyatna, mengatakan bahwa jemaah dengan triase kuning adalah mereka yang dirujuk ke KKHI. “Jemaah dengan triase kuning, kami usahakan supaya sembuh (triase hijau) dan kembali ke kloternya, kalau merah itu kita rujuk ke RSAS,” ujar Edi.

Ia menambahkan jemaah dengan triase merah dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) agar dapat memperoleh perawatan dengan fasilitas yang lebih baik. Jika jemaah mulai mengeluhkan sakit dapat menghubungi TKHI di masing-masing kloter dan Tim Gerak Cepat (TGC), untuk diberikan layanan kesehatan, jika tidak dapat ditangani akan diberikan rujukan ke KKHI. “Rujukan dari kloter ke kami (KKHI, red). Kemudian langsung ditangani oleh kami atau dirawat inap, jika keadaan memburuk, ditangani di RS Arab Saudi,” ujarnya.

Terpisah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Oman Faturrahman menginformasikan, jemaah haji mulai berdatangan di tanah suci. Ada tiga aktivitas utama jemaah haji di tanah suci. “Yang pertama itu aktivitas ibadah, yang kedua aktivitas ziarah, dan yang ketiga rihlah. Rihlah itu perjalanan,” ujar Oman. Menurutnya, aktivitas ibadah jemaah haji di tanah suci ada ibadah yang wajib dan yang sunah. “Di madinah, ibadah wajib yang terkait haji itu hanya satu, yaitu miqat di Bir Ali,” imbuhnya. (lyn/ful)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy