Inspirasi Tiga Remaja Kolaka Juara Nasional Hifzil Quran : Motivasi Surga hingga Mimpi Jadi Ulama Besar – Kendari Pos
Kolaka

Inspirasi Tiga Remaja Kolaka Juara Nasional Hifzil Quran : Motivasi Surga hingga Mimpi Jadi Ulama Besar

KENDARIPOS.CO.ID — Kontingen Sultra berhasil meraih posisi ke empat pada ajang STQ XXV yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu. Utusan Sultra sukses merebut dua medali emas dan satu perunggu. Tiga medali itu seluruhnya diraih oleh santri yang menimba ilmu di Pondok Tahfiz Quran (PTQ) di Kabupaten Kolaka. Mereka adalah Asrar Abukhair, Ussy Pawennari, dan Fahrurrozi Zamzami.

Zulfadli Nur, Kolaka

Asrar Abukhair, Ussy Pawennari, dan Fahrurrozi Zamzami adalah remaja yang mengharumkan nama Sultra di pentas nasional pada lomba STQ XXV. Asrar Abukhair yang mengikuti lomba hifdzil Quran 10 juz putra berhasil meraih medali emas. Medali terbaik itu juga dipersembahkan Ussy Panwennari yang bertarung di lomba Hifdzil Quran kategori 20 juz putri. Sedangkan medali perunggu disumbangkan Fahrurrozi Zamzami yang turun dikategori hafalan 30 juz putra. Berkat raihan medali tersebut, untuk pertama kalinya Sultra berada di urutan ke empat. Dan itu adalah prestasi terbaik sepanjang gelaran pentas religi tersebut.

Fahrurrozi Zamzami dan Ussy Pawennari, remaja asal Kabupaten Kolaka memperlihatkan hadiah yang mereka dapatkan usai menjuarai STQ XXV tingkat Nasional yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat

Untuk mengikuti turnamen tingkat nasional itu, baik Asrar Abukhair, Ussy Pawennari, maupun Fahrurrozi Zamzami mengaku bekerja keras untuk memantapkan hafalan Alquran. Asrar Abukhair misalnya. Remaja yang akrab disapa Asrar ini mengaku dirinya baru pertama kali mengikuti lomba tingkat nasional. Di mana selama ini turnamen tertinggi yang diikutinya hanya tinggi provinsi saja. Untuk itu, remaja kelahiran Kolaka Utara, 27 November 2003 silam ini berlatih dan berdoa agar dapat tampil maksimal.

“Lawan terberat saya di turnamen tersebut adalah kontingen Riau dan tuan rumah Kalimantan Barat. Namun berkat latihan selama ini serta doa orangtua, guru dan teman-teman, Alhamdulillah saya bisa tampil tanpa grogi dan berhasil meraih medali emas. Sebelum berangkat, saya juga setiap hari dilatih oleh pembina kami di PTQ Khalilul Quran,” jelasnya, kemarin.

Putra dari pasangan Ismail dan Anti ini menuturkan, menghafal Quran merupakan cita-citanya sejak kecil. Sebab, dirinya bercita-cita menjadi dosen agama. Untuk itu, dirinya berlatih keras untuk menghafal Quran. “Saya mau jadi dosen agama yang mengajarkan Alquran. Makanya, saya harus menguasainya agar bisa mengajar dengan baik. Selain itu, menghafal Quran juga bisa memasukan kita dan orangtua ke dalam surga. Oleh pembina, kami diwajibkan menghafal satu halaman per hari,” terangnya.

Kemampuan Asrar menghafal Alquran mendapat pengakuan dari Pembina PTQ Khalilul Qur’an, Ustadz Muslimin. Kata dia, Asrar merupakan salah satu santri yang memiliki kemampuan menghafal sangat baik. “Semua santri, kami beri target menghafal satu halaman setiap hari. Asrar mampu memenuhi target tersebut. Bahkan, terkadang juga dia melewati target hafalan harian tersebut. Sehingga, baru sekitar setahun belajar di pondok, Asrar sudah mampu menghafal Alquran lebih dari 10 juz. Dia ini juga sudah beberapa kali memenangkan lomba hifdzil Quran tingkat kabupaten dan provinsi,” terangnya.

Asrar Abukhair

Semangat bertanding di STQ XXV juga diusung peraih medali lainnya, Ussy Pawennari dan Fahrurrozi Zamzami. Ussy Pawennari mengungkapkan, sebelum bertanding, dirinya berlatih dengan mengulang hafalannya sebanyak 7 hingga 10 juz setiap hari. Putri dari pasangan Abdul Kadir dan Suliwati ini mengaku, mendapat lawan berat ketika memasuki babak final pada STQ XXV di Pontianak. Walapun demikian, gadis 15 tahun ini mampu menyisihkan lawan-lawannya dan berhasil meraih medali emas. “Alhamdullilah, berkat latihan dan bimbingan yang diperoleh di PTQ Alhudzaifiyyah dan doa semuanya, saya bisa meraih medali emas,” ujarnya.

Ussy menambahkan, dirinya bertekad menghafal Quran. Untuk itu, sekitar tiga tahun terakhir gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini fokus menghafal Quran di PTQ Alhudzaifiyyah. “Dalam menghafal, kami diwajibkan sehari minimal satu halaman. Alhamdulillah, sejak tahun 2016 belajar, hingga saat ini saya sudah menghafal 27 juz dan sudah beberapa kali juara di tingkat nasional,” jelasnya.

Senada dengan Ussy, Fahrurrozi yang juga menimba ilmu di PTQ Alhudzaifiyyah mengaku telah mempersiapkan penampilannya saat mengikuti lomba hifdzil Quran 30 juz di STQ XXV di Pontianak. Remaja yang baru beranjak 17 tahun ini mengatakan, setiap hari gurunya melakukan simulasi lomba. “Jadi, setiap hari saya diuji hafalannya dengan menggunakan pengeras suara di hadapan pembimbing. Layaknya seperti perlombaan. Simulasi tersebut dilakukan setiap hari, bahkan menjelang pemberangkatan kami simulasi itu sampai tiga kali dalam sehari,” bebernya.

Fahrurrozi menambahkan, menghafal Quran bukan sekadar untuk menjuarai lomba. Namun menghafal kitab Allah merupakan cita-citanya sejak kecil untuk sukses di dunia dan di akhirat. “Saya bercita-cita menjadi ulama besar. Olehnya itu, saya ingin kuliah di Madinah dan syarat masuk kuliah di sana harus hafal Quran. Saya berusaha menghafal 30 juz. Alhamdulillah, akhir tahun 2017 lalu, saya sudah mengkhatamkannya,” terangnya.

Kecerdasan Ussy dan Fahrurrozi dalam menghafal Quran juga diakui Pembina TPQ Alhudzaifiyyah, Baharuddin. Pria yang akrab disapa Ustadz Bahar itu mengatakan, kedua santrinya memiliki daya tangkap yang bagus. Sehingga cepat dalam mencerna setiap materi yang diberikan. “Ussy dan Fahrurrozi ini sudah pengalaman dalam lomba tingkat nasional dan beberapa kali memenanginya. Bahkan, Fahrurrozi pernah meraih juara di tingkat internasional,” pungkasnya. (b/*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top