“Alam Bertanya pada Kita”, Oleh: Prof Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Alam Bertanya pada Kita”, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Dua bulan terakhir, Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya Konawe dan Konawe Utara (Konut) dihantam banjir bandang. Sehingga, melumpuhkan ekonomi dan transportasi, menghancurkan jembatan, jalan raya, rumah penduduk, lahan pertaninan, dan infrastruktur lainnya. Pekan lalu, saya mewakili paguyuban Massenrempulu bersama Ketua KKSS Wilayah Sultra melakukan perjalanan untuk membawa donasi ke Konut.

Perjalanan kami dimulai dari Meluhu. Karena, jalan poros di Sampara putus, akibat terjangan air sungai. Dari Kendari ke Sampara, kami tempuh kurang lebih 4 jam perjalanan. Dan dari Sampara ke ibu kota Konawe Utara, ditempuh hampir 7 jam. Sehingga, perjalanan kami pergi pulang selama 21 jam. Ini sebuah tantangan yang luar biasa. Perjalanan yang melelahkan. Prinsip kami, penderitaan yang dirasakan, jauh lebih ringan dibanding penderitaan saudara kita yang terkena musibah di Konut.

Ketika sampai di Konut, kami merasa sangat sedih. Bupati Konawe Utara, Ruksamin menceritakan pada kami, betapa dahsyatnya baniir yang meratakan kampung mereka. Tanah longsor, air bah membawa harta benda masyarakat, dan sebagainya. Bupati menyuruh kami untuk merenung, bagaimana perasaannya, ketika banjir datang, sementara masyarakat dalam keadaan tidur. Dan saat ini, kondisi mereka yang sudah terbiasa hidup dengan kompor gas, terbiasa dengan listrik, terbiasa dengan seluler, namun semua itu hilang.

Kini, mereka hanya bisa bertahan hidup dari sumbangan pemerintah dan masyarakat. Ruksamin sangat memahami kondisi rakyatnya. Dia juga tak mau memaksa petugas yang kelelahan mengangkat bantuan yang begitu banyak dari penampungan ke lokasi. Dalam kondisi itu, didorong rasa keikhlasan, Ruksamin langsung buka baju dinas dan mengangkat bantuan masyarakat ke tempat tujuan.

Dalam perjalanan kami di tengah malam menuju Kendari, sejumlah pertanyaan muncul. Apakah ini adalah wujud dari dosa -dosa kita, atau ini sebuah ujian dari Allah? Sebagaimana bait lirik lagu Ebit G. Ade. Dalam salah satu lagunya, Ebit bertanya pada alam. Lagu tersebut mengajari kita, bahwa dalam kehidupan ini, tidak saja berhubungan dengan cinta anak muda, keharmonisan hubungan keluarga. Tapi juga berhubungan dengan alam, dan Sang Pencipta. Seperti bait lirik Ebit: Anugrah dan bencana adalah kehendaknya”.

Tentu saja, bencana itu bukan hukuman. Ada pembelajaran yang ingin diberikan Allah. Kita perlu memahami, apapun isi dunia dan fenomena alam ini, sejatinya hanya godaan keimanan kita. Jika bencana itu karena dosa manusia, tentu masih banyak di belahan dunia lain yang maksiatnya jauh di atas negeri kita. Kembali pada perjalanan kami. Karena merasa kelelahan, kami singga di warung-warung kecil yang menyediakan makanan seadanya. Sambil bertanya, mengapa peristiwa itu terjadi lalu rata-rata mengatakan, bahwa ini karena ulah manusia. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy