Ada Dosa di Full Day, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Ada Dosa di Full Day, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Kamu selalu bilang: selamatkan generasi. Kamu bilang, selamatkan generasi dari bahaya ini itu. Tapi, kamu tak berbuat. Kalaupun kamu berbuat, paling hanya di satu sisi. Berpikir tak imbang. Tidak berbuat pada dua sisi. Dengan caramu yang timpang itu, generasi bisa selamat di satu kasus, tapi gagal di problem yang lain.

Kasus Wa Djowe misalnya. Puteranya selamat dari bahaya nikotin, selamat dari bahaya Narkoba, selamat dari arena judi, selamat dari dunia prostitusi, tapi gagal untuk hidup sehat karena telat makan siang. Puteranya mengidap maag akut. Tanpa diagnosa ilmu kedokteran, Wa Djowe menyimpulkan bahwa puteranya mengidap maag akut akibat penetapan waktu sekolah yang tak mempertimbangkan kemampuan ekonomi.

Berangkat pagi tanpa sarapan, pulang setengah 4 sore. Jangankan jajan di sekolah, mengatasi ongkos ojek saja kesulitan. Kamu bilang, ini sekolah full day. Siapa yang bayar mesin pendingin di Kantor Gubernur? Siapa yang beli mesin AC di kantor DPRD? Anggaran dari mana yang digunakan untuk membayar kenyamanan kerja di kantor-kantor dinas? Semua dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Siapa yang menggantang APBD? Kenapa mereka yang menggantang APBD hanya fokus menganggarkan untuk kenyamanan kerja, tidak menyinggung kenyamanan belajar?

Kamu bilang, selamatkan generasi. Kamu bilang, ini full day. Kamu bilang, ini demi prestasi. Lalu, kenapa tak sekelumitpun waktumu di DPRD untuk membahas kelangsungan belajar generasi? Betul, kamu telah berpihak kepada mereka dan memutuskan 20 persen anggaran pendidikan. Tapi mana? Mana keberpihakanmu kepada siswa-siswi, seperti juga keberpihakanmu terhadap gurunya dengan tunjangan yang macam-macam itu?

Kamu pikir, dengan tunjangan maka sejahteralah dunia pendidikan? Kata Wa Djowe, oh, tidak bro. Puteraku mengidap maag akut gara-gara durasi pendidikan yang begitu panjang tanpa kamu siapkan makan siang. Soal ini, dengan enteng kamu akan mengatatakan: bawa bekal to. He he he. Anakmu mau ndak menenteng bekal di kantong platik? Pikirkan ejekan temannya yang membawa sedompet duit sebagai pengganti bekal oleh karena orang tuanya sanggup.

Pikirkan bagaimana perasaan anak zaman now yang duduk sendirian di bawah pohon gersen untuk santap siang sementara di kejauhan sana, di kantin sekolah terdapat senda gurau anak-anak lain yang berkemampuan ekonomi bagus, minum juice dengan makanan cepat saji. Dengan sistem zonasi saat ini, yang membaurkan anak si kaya dan si miskin, menjadikan suasana jiwa si miskin tak karuan. Kamu anggap ini lucu? Bisa lucu jika orang tua para siswa itu rata-rata berkemampuan ekonomi seperti Liem Sio Liong atau minimal seperti Wa Foli, juragan jambu di Lambubalano. Siapa yang berkepentingan dengan waktu belajar yang begitu panjang? Kalau hanya untuk memenuhi kuota waktu mengajar para guru sesuai tuntutan sertifikasi, itu artinya kamu tak bijak berpikirnya. Artinya, mensejahterakan guru tapi menyiksa siswa. Bagi orang tua siswa yang sanggup, no problem. Tapi, bagi Wa Djowe, ini masalah besar.

Belum lagi jika berpikir mundur untuk maju dan berkembang. Sekarang kamu jadi Gubernur, Ketua DPRD, Kapolda, Danrem, Dirut, Direktur, Sekda, Kepala Dinas, Anggota DPRD yang dulu hanya sekolah setengah hari. Sekolah setengah hari, tapi kamu sehat, kamu kuat, ketika dewasa kamu berintegritas, memasuki dunia kerja kamu jadi pemimpin. Sekarang, sekolah seharian, pulang loyo, terancam demam tulang, tidak siap memasuki dunia kerja, masuk kerja banyak menguap, banyak a’laulau, banyak ndiwawa, momaa, lemah loyo lesu, tak produktif.

Ini sebagian dari hasil yang kamu bilangkah full day itu. Arti dari perbandingan itu bahwa, sekolah hingga jam 1.00 melahirkan generasi siap pakai. Belajar hingga pukul setengah 4 sore, melahirkan generasi manja dan tanda tanya besar untuk jadi harapan. Silakan. Silakan adopsi system pendidikan luar negeri yang maju itu. Tiru sistem pendidikan negara yang kamu anggap sukses, tapi kesuksesan untuk semua. Maju pendidikannya, sejahtera gurunya, cerdas siswanya, bahagia komitenya. Silakan tiru, tapi jangan sepotong-sepotong.

Kamu ambil full day-nya tapi kamu tak pedulikan ikutannya. Akibatnya, yang satu bahagia sejahtera yang lain menderita. Di benak saya, dari sisi agama, ini dosa. Dosa karena dalam proses menggapai kebahagiaanmu, terdapat insan yang menderita. Kamu sadari itu? Ndak kan? Tapi ini, pemikiran saya yang hanya hafal kuluhu dan inataena.

Kenapa kantor aparatur negara bisa full AC? Kenapa sekolah dengan warga belajarnya tidak mendapatkan perlakuan yang sama? Toh, mereka juga aparatur negara. Gelontorkanlah anggaran itu demi kemajuan bersama. Toh, porsi anggaran yang kalian bagi-bagi di berbagai sektor itu tak juga nampak hasilnya. Buktinya, lihatlah indeks kemajuan dari berbagai sektor yang tak memberikan angka korelasi signifikan dari gelontoran anggaran daerah dan negara.

Jikalau indeks kemajuan pendidikan di wilayahmu tak juga terdongkrak, itu artinya, ada yang salah dengan terapan sistem pendidikan secara menyeluruh, terutama dari sisi pembiayaan. Satu gagasan yang bisa dipikirkan bersama dan dilakukan dengan langkah-langkah ekstrim. Misalnya, kita sama-sama berpikir membangun sekolah, yang kita berharap, seluruh komponen di sekolah itu bisa merasakan one stop building.

Di gedung itu, murid tak usah direpotkan dengan membawa bekal, guru bisa mengajar full day, nyaman ruang belajarnya, riang gembira siswanya, dll. Kalau tak sanggup dan demi kemajuan bersama, hindari aturan yang menyenangkan satu pihak dan menyiksa pihak lain, yang artinya: kembalikan waktu pulang sekolah seperti dulu. (nebansi@yahoo.com)

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy