Opini

Mencari Dalang di Balik Bencana Banjir Sultra, Oleh : Rizkia Milida, SKM

KENDARIPOS.CO.ID — Banjir Konawe dan Konut memang sudah mulai surut. Namun banjir air mata para korban bencana belum juga surut.
Ada 7 Kecamatan dan ribuan orang mengungsi akibat bencana banjir yang melanda Sultra tahun ini.

Rizkia Milida, SKM

Banyak kalangan yang merasa iba. Sebagian mensupport lewat doa dan Tagar #PrayForKonawe di media sosial, dan sebagian turun langsung memberikan bantuan serta turut merasakan pedihnya luka menjadi tunawisma.

Benarkah bencana ini hanya semata-mata takdir dari Tuhan tanpa ada campur tangan manusia yang melakukan pengrusakan di muka bumi?
.
Dalam teori kesehatan lingkungan, banjir selalu diakibatkan oleh kerusakan hutan yang notabene berfungsi sebagai tempat menyerap dan menyimpan air.  Hutan tidak mungkin rusak dengan sendirinya. Selalu ada campur tangan manusia di dalamnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan Hutan bisa menjadi rusak adalah penebangan hutan dan aktivitas tambang.

Seperti kita tahu, Konut dan Konawe adalah dua daerah yang dikepung area yang masif menerbitkan izin tambang dan kelapa sawit.
Eksploitasi tambang dan wilayah perkebunan kelapa sawit tersebut diduga mengubah fungsi kawasan yang sebelumnya adalah bukit hijau penahan air hujan.

Sayangnya, Pemerintah daerah seolah-olah hanya pasrah dengan bencana banjir yang melanda Sultra tahun ini dan tidak berani transparan tentang eksploitasi tambang yang dituduhkan menyebabkan banjir.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan prasangka bahwa tambang yg menyebabkan banjir dikuasai sahamnya oleh elit penguasa. Sehingga ketika banjir besar melanda, para elite penguasa seolah-olah ingin lepas dari tanggung jawab dan menyalahkan siklus hujan yang unik di tahun ini.

Padahal secara kasat mata pun kita bisa melihat, betapa luasnya area konsesi tambang dikonut yang boleh jadi memperparah kondisi geografis lingkungan daerah tangkapan air sungai.

Lalu apa solusinya?

Solusi utamanya bukanlah normalisasi sungai. Sebab saluran air dari banyak daerah di Konawe dan Konut faktanya sudah tak sanggup lagi menampung air yang mengalir dari hulu jika hujan melanda.
Bukan pula menyalahkan siklus hujan yang mengguyur terus menerus belakangan ini.

Pemerintah daerah harus serius dan tegas dalam melakukan kajian teknis penyebab banjir di wilayah Sultra.

Pemberian izin pembukaan lahan pertambangan dan kelapa sawit jangan sembrono dan menihilkan dampak ekologis lingkungan.
Jangan hanya karena memikirkan untung yang besar dari pembukaan lahan tambang dan kelapa sawit tersebut, maka syarat-syarat pembukaan lahan hanyalah sekedar formalitas di atas meja semata.

Jika memang benar area pertambangan dan kelapa sawit tersebut melanggar IUP, maka Pemda harus tegas mencabut izin pertambangan dan perkebunan sawit, terutama yang berada di hulu sungai.

Banjir Sultra sejatinya adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah untuk membangun sesuai kaidah lingkungan dan menaati tata ruang.

Banjir bukanlah tontonan yang menarik untuk disajikan di setiap musim penghujan. Banjir adalah bencana yang harus segera dicari akar masalah dan solusinya.
Sebab banyak air mata yang mengalir setiap banjir melanda.

Empati dan pemberian bantuan saja tidak akan cukup mengobati trauma dan derita berbulan-bulan tinggal di lokasi pengungsian. Masyarakat butuh solusi yang konkrit, bukan tontonan viral para pejabat yang memikul beras dan menggendong nenek-nenek korban bencana.

Harus ada pihak yang bertanggung jawab mengganti kerugian harta benda para korban. Pemerintah daerah jangan hanya pasrah dan mengatakan penyebab banjir semata-mata karena sudah takdir yang Maha Kuasa. (**)

Penulis : Rizkia Milida, SKM (Alumni Kesehatan Lingkungan, FKM UHO)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy