Dewan Riset Daerah Kaji Penyebab Utama Banjir di Sultra – Kendari Pos
Metro Kendari

Dewan Riset Daerah Kaji Penyebab Utama Banjir di Sultra

KENDARIPOS.CO.ID — Banjir melanda sejumlah wilayah di Sultra. Banyak kalangan yang menilai banjir itu disebabkan pengalihfungsian lahan. Meski begitu, Dewan Riset Daerah (DRD) Sultra masih mengkaji guna memastikan penyebab utama banjir yang terjadi di Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Kolaka Timur dan Konawe Selatan. Ketua DRD Sulawesi Tenggara (Sultra) Prof. Dr. Andi Bahrun mengatakan bencana tersebut tidak bisa langsung menyalahkan salah satu pihak saja. Sebab untuk memastikan penyebab banjir, kata dia, butuh kajian komprehensif untuk menentukan tingkat atau presentase dari kontribusi masing-masing faktor penyebab banjir.

Prof. Dr. Andi Bahrun

Jika dilihat dari faktor-faktor yang ada, Andi Bahrun, menjelaskan penyebab banjir beragam, seperti curah hujan yang terus menerus terjadi, termasuk penggunaan ruang terbuka. Di antaranya pembukaan lahan perkebunan, pertanian, pertambangan, perumahan, pembuatan jalan, pemukiman di pinggir sungai. Belum lagi perambahan hutan di wilayah Konawe Utara dan sekitarnya. “Drainase di daerah banjir itu pasti jelek, sampah dari masyarakat berserakan, dan etika dari pemegang izin usaha terhadap perbaikan lingkungan belum ada,” jelasnya.

Sebagai akademisi yang melakukan riset dari banjir sepekan lebih di Konut dan sekitarnya, dia menegaskan, bahwa bencana ini butuh kajian/assesment komprehensif untuk menentukan mana yang paling besar kontribusinya terhadap banjir kali ini. “Kalau sudah terkumpul seluruh data, itu bisa berguna untuk menentukan solusi atasi banjir selanjutnya dengan resep jangka pendek, menengah dan jangka panjang,” paparnya.

Menurutnya, ada beberapa kemungkinan rekomendasi solusi, kata Professor bidang pertanian ini, misalnya pemetaan rawan banjir se-Sultra. Perlunya peringatan dini akan kejadian banjir sangat dibutuhkan, melihat kondisi lingkungan Sultra saat ini sangat ini berpotensi besar jika musim hujan. “Perlunya kajian lingkungan hidup strategis, revisi tata ruang, ada wilayah dengan perbaikan lingkungan dengan pendekatan kontruksi dan wilayah dengan pendekatan reboisasi. Pendisplinan ketataatan para pemegang izin usaha perkebunan, pertambangan dan developer harus dilakukan,” tambahnya. (m6/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top