Belajar Beretika di Jeneponto, Oleh: Prof Hanna – Kendari Pos
Kolom

Belajar Beretika di Jeneponto, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Belum lama ini, saya ditugaskan melakukan evaluasi kinerja akademik di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejujurnya, ketika LLDIKTI (dulu namanya Kopertis) menugasi saya bersama tim 6, sempat merasa ciut dan kurang termotivasi. Namun, karena ini amanah dari pimpinan, maka saya harus memotivasi diri. Ini demi membangun PTS kapabel dan akuntabel di tengah masyarakat yang kritis, melalui jaminan mutunya.

Motivasi saya berkurang. Mengingat, kondisi sosiologi masyarakat dan keadaan geografis Jeneponto sudah saya kenal sejak dulu. Ketika kami tiba di salah satu PTS yang bakal divisitasi, sempat bertanya-tanya tentang kondisi yang akan terjadi dalam pertemuan. Sebab, bisa saja tidak diterima dengan baik. Karena akan melakukan evaluasi kinerja, mengubah cara pandang mereka terhadap pengelolaan PTS sudah pasti tak mudah.

Kehadiran kami disambut Ketua PTS, bersama pimpinan dan dosen. Mereka ternyata sangat ramah, berjabat tangan, membungkukkan badan sambil senyum. Ini perilaku yang sangat sopan menurut saya, dalam tata krama pergaulan. Lalu mereka mengucapkan: Selamat datang Karaeng di Turatea. Dalam pertemuan itu, sambil duduk berhadapan, ketua, dengan sopan membuka pertemuan dengan mengucapkan tabe lompo karaeng.

Mendengar kalimat pembuka ini, membuat saya merasa aneh karena baru pertama kali. Singkat cerita, pertemuan itu sangat akomodatif dan kondusif. Ketua PTS dengan jujur mengemukakan segala permasalahan yang terjadi di kampusnya. Juga dengan senang hati menerima saran dan petunjuk dari time EKA LLDIKTI. Ini sesuatu yang tidak kami duga.

Mereka juga sangat memahami saat kami menolak ajakan berbuka puasa bersama. Sambil menutup pertemuan itu, Ketua PTS kembali mengucapkan: Terima kasih Lompo Karaeng. Setelahnya, kami pergi mencari makanan kuliner khas Jeneponto yang biasa orang katakan coto kuda. Di warung kecil itu, kami disuguhi menu, seorang ibu-ibu paruh baya membungkuk sambil berkata: tabe lompo karaeng sambil menunjukkan daftar menu. Namun karena ketidakbiasaan sehingga hanya satu porsi yang kami pesan. Selebihnya ayam goreng. Sambil menunggu pesanan kami, seorang tamu juga datang dan disambut degan ucapan: Tabe Karaeng, lalu menunjukkan menu.

Perjalanan kami lanjutkan ke masjid untuk salat Magrib dan Isya. Ada pemandangan menarik saat protokol naik mimbar. Dia mengawali penyampainnya dengan mengucapkan: Tabe Lompo Karaeng, Tabe Karaeng. Hampir semua pengumuman di masjid itu, ternyata rata-rata kalimat diakhiri dengan bahasa: Terima Kasih Karaeng.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata “Karaeng” didefinisikan sebagai gelar bangsawan suku Makassar. Sehingga, secara otomatis tidak harus memanggil seperti itu. Karena mereka tidak tahu siapa kami. Artinya, tidak semua orang bisa dipanggil Karaeng. Sama halnya dengan Andi di tanah Bugis, anakia di dalam suku Tolaki dan La Ode disuku Muna dan Buton. Jika kita berbicara tentang Karaeng pada suku Makassar dan Puang pada suku Bugis di Sulawesi Selatan, kalau dahulu orang bertanya, itu anaknya karaeng siapa? Ketika disebut bahwa orang tersebut anaknya Karaeng A atau Karaeng B, maka orang langsung hormat dan segan terhadapnya.

Apalagi kalau orang tuanya Mapparenta (Karaeng Maggau’). Kini, jika pertanyaan serupa diajukan, tentu jawabannya akan lain. Dalam konteks penilaian seseorang terhadap status sosialnya. Status sosial seseorang itu telah tereduksi. Orang kini lebih banyak mempertanyakan status sosial seseorang dalam hubungannya dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, kekayaan, jabatan serta predikat haji.

Keadaan tersebut mengalami pergeseran di beberapa daerah. Contoh di daerah lain, mana ada orang mau memandang dan menghormati seorang ”Andi” (anak Karaeng) jika hanya berpendidikan rendah, tinggal di rumah reot, sehari – hari menghidupi keluarganya dengan penghasilan tidak menentu. Kalaupun ada paling hanya segelintir orang saja. Dengan kata lain, hanya sedikit orang memandang seseorang dalam perspektif agama, bahwa tidak seseorang lebih mulia atas orang lain, kecuali iman dan taqwanya di mata Tuhan.

Inti utama dalam tulisan ini adalah bukan menu makanan atau kondisi Jeneponto secara umum. Tapi lebih pada etika dan perilaku berbahasa di Jeneponto. Etika berkomunikasi dengan lawan bicara sangat luar biasa. Patut dijadikan contoh. Mereka sangat menghargai dan menghormati lawan bicaranya. Mereka perlakukan seperti seorang raja. Dalam diskusi saya dengan seorang ibu pelayan di warung yang menggunakan kalimat berbeda pada dua kelompok tamu, ternyata juga punya maksud baik. Dia mengatakan, penggunaan sapaan: Tabe Lompo Karaeng kepada bapak (saya dan kawan-kawan), karena belum dikenal.

Bisa saja , kata dia, bapak adalah seorang raja di kampungnya. Sedangkan, kata Tabe Karaeng yang menghilangkan kata Lompo, saya tahu persis maknanya. Bahwa, seorang pelayan selalu menganggap semua tamu sebagai raja. Menurut ibu itu, jika kita mau dihargai dan dihormati maka yang utama adalah menghomati orang lain. Salah satunya melalui sapaan yang baik. Olehnya itu, memang perlu belajar beretika seperti masyarakat Jeneponto.

Dimulai dengan perilaku berbahasa di rumah, di masyarakat dan di tempat kerja masing-masing. Ini adalah karakter masyarakat yang menghormati budaya. Membudayakan etika sebagai karakter bangsa Indonesia yang dikenal keramahtamahannya. Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah salah satu provinsi yang memiliki kekayaan kebudayaan. Namun ujaran-ujaran serupa seperti di Jeneponto jarang ditemui. Padahal, mestinya ini digunakan untuk menunjukkan ciri khas kita. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top