Banjir di Konawe Makin Parah, 109 Desa Terendam, Dua Kecamatan Terisolasi – Kendari Pos
Konawe

Banjir di Konawe Makin Parah, 109 Desa Terendam, Dua Kecamatan Terisolasi

KENDARIPOS.CO.ID — Dampak banjir di Kabupaten Konawe dan Konawe Utara (Konut) makin parah. Jumlah desa yang terendam terus bertambah. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe, dari 15 kecamatan terdampak banjir, ada 109 desa/kelurahan terendam. Parahnya, ada dua kecamatan terisolasi, yakni Asinua dan Latoma. Akses menuju daerah itu harus menggunakan transportasi udara.

Rumah warga yang terendam banjir di Desa Asinua Kabupaten Konawe.

Kepala BPBD Konawe, Ameruddin menjelaskan, selain lokasi banjir meluas, juga sudah tiga korban jiwa akibat tenggelam. Jumlah pengungsi bertambah menjadi 1.365 kepala keluarga (KK) atau 4.095 jiwa. “Jumlahnya masih berpotensi bertambah. Karena proses evakuasi masih terus berlangsung. Sejauh ini ada 35 titik pengungsian,” ungkap Ameruddin.

Dia menambahkan, rumah tergenang dan terdampak banjir sebanyak 3.252 KK atau 9.756 jiwa. Korban banjir saat ini sangat membutuhkan bantuan, berupa makanan dan pakaian. Selain itu, kebutuhan mendesak lainnya yaitu obat-obatan dan air bersih, fasilitas pendukung operasional seperti perahu karet, tenda, matras, sleeping bag, dan peralatan dapur. “Logistik yang sudah disalurkan yakni 20 ton beras, 794 dos mie instan, 100 dos makanan siap saji, dan 236 dos minyak goreng. Masih akan terus bertambah,” jelasnya.

Bukan hanya manusia, dampak banjir juga meluluhlantahkan infrastruktur di Konawe. Jembatan Ameroro, Jembatan Ambekairi, Jembatan Padangguni, Jembatan Andabia, Jembatan Anggoro, dan Jembatan Asinua rusak parah. “Kami telah memberikan peringatan dini kepada masyarakat supaya tidak melewati jalur tersebut. Saat ini, BPBD juga sedang melakukan evakuasi, pendistribusian logistik, pelayanan kesehatan, pemasangan bronjong dan dumping stone di tanggul banjir di Bendung Wawotobi sepanjang 50 meter,” terangnya.

Tak hanya jembatan, jalan juga rusak parah Misalnya, jalan usaha tani sepanjang 6 kilometer, jalan kabupaten 353,52 kilometer, jalan provinsi sepanjang 46,54 kilometer, dan jalan nasional sepanjang 100 meter. Kemudian, dua bendungan rusak, jaringan irigasi 3.800 meter, tanggul 2.000 meter, 21 tempat ibadah, pipa distribusi PAM 200 M, pasar , dan tiang listrik. “Unit fasilitas pendidikan yang rusak 34 SD dan delapan SMP. Selain itu, ekonomi produktif lain yaitu 5.360,4 Ha persawahan, 500 Ha perkebunan, 440 ekor sapi, 9.918 ekor ayam, 490 ekor kambing, 566 ekor babi, dan 105,26 Ha empang perikanan air tawar,” katanya. Dari semua kerusakan infrastruktur, diperhitungkan nilai kerugian ekonomi produktif sebesar Rp 188 miliar. (b/hel)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top