Pariwara
Politik

Petahana Dinilai Lemah Mengorganisir Basis Massa

Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) telah dinyatakan sah dan diterima pada tingkat nasional di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Rabu (15/5). Dapat dipastikan, empat wajah baru calon senator asal Sultra akan berkantor di Senayan. Mereka adalah Hj. Andi Nirwana, MZ Amirul Tamim, Wa Ode Rabia Al Adawia Ridwan dan dr. Dewa Putu Ardika Seputra.
   
Komposisi itu menarik perhatian Pengamat Politik Sultra, Eka Suaib. “Itu di luar dugaan saya bahwa figur petahana seperti Yusran Silondae dan Hamsinah Bolu gagal dalam kontestasi ini,” ujar Eka Suaib saat dihubungi, kemarin. Menurutnya, kegagalan dua sosok tersebut bukan karena kekecewaan masyarakat atas kinerja selama menjabat sebagai anggota DPD RI periode 2014-2019.
   
Dirinya menilai, selain dr. Dewa, keberhasilan tiga sosok lainnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni kedekatan dengan partai politik dan daerah teritori kekuasaan. Misalnya Rabia yang merupakan putri politikus Golkar senior, Ridwan, BAE yang juga maju dalam Pileg DPR RI. Sehingga dalam proses pemenangan Ridwan, juga ada upaya membangun kekuatan untuk putrinya. “Jadi kedekatan ini berpengaruh positif terhadap raihan suara Rabia,” argumennya.  
     
Sementara untuk Andi Nirwana, diyakini didorong oleh suaminya yang merupakan politikus dan Bupati di Bombana. Sama halnya dengan Amirul Tamim yang merupakan mantan Bupati Baubau. “Meski petahana memiliki pengalaman politik, mereka kalah dalam hal pengorganisasian basis massa,” tegas Guru Besar di Universitas Halu Oleo (UHO) ini. Sementara dr. Dewa, selain ditopang oleh politik identitas, juga karena profesinya yang dekat dengan masyarakat. “Sebagai dokter, dia tentu berusaha menjalin kedekatan dengan masyarakat,” papar Dosen Ilmu Politik FISIP UHO ini.
   
Pendapat yang sedikit berbeda diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Sultra, Muh. Najib Husain. Pria yang juga Dosen Ilmu Politik FISIP UHO ini justru meyakini bahwa kegagalan para petahana dikarenakan ada faktor kekecewaan dari masyarakat terhadap kinerja mereka selama menjabat. “Peran para incumbent ini belum terlihat. Apalagi sebagai anggota DPD, tidak begitu nampak apa sebenarnya fungsi mereka,” ungkap Najib Husain, kemarin. Kata dia, ada harapan bahwa anggota DPD terpilih hari ini bisa menunjukkan peran yang lebih maksimal.    Namun, Doktor lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menegaskan bahwa kekecewaan masyarakat bukan satu-satunya alasan ketidakterpilihan kembali dua petahana, Yusran Silondae dan Hamsinah Bolu. Dirinya melihat dalam konfigurasi empat figur baru ini, ada keterwakilan etnis di Sultra. Disamping itu, peran tim sukses juga patut diperhitungkan. “Mesin politik ini sebenarnya bukan partai politik, melainkan tim pemenangan di lapangan,” tandas Najib Husain.
   
Untuk diketahui, KPU belum mengumumkan secara resmi kandidat terpilih dalam Pemilu 2019 baik Pilpres maupun Pileg. Ketua KPU Sultra, La Ode Abdul Natsir Muthalib, menyatakan, KPU hingga hari ini baru menetapkan rekapitulasi penghitungan perolehan suara. Penetapan calon terpilih akan dilakukan jika tidak ada sengketa hasil Pemilu yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK). “Jika tidak ada gugatan ke MK, maka segera dilakukan pengumuman calon terpilih,” tegas Abdul Natsir, beberapa waktu lalu. (b/m7)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy