Pariwara
Metro Kendari

Semarak Karnaval Tenun saat HUT ke 55 Sultra

KENDARIPOS.CO.ID — Senyum Gubernur Sultra Ali Mazi merekah. Wajahnya berseri saat melihat ragam tenun Sultra yang dipamerakan. Semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Sultra makin menggema. Ribuan defile dari kabupaten, kota dan OPD Pemprov Sultra saat karnaval tenun Rabu (24/4) begitu memukau pengunjung.

Meski sempat diguyur hujan, semangat peserta pawai budaya itu tak surut. Defile Kabupaten Konawe Utara dan Konawe Selatan saat karnaval begitu kece. Dua kabupaten itu memperlihatkan pakaian yang terbuat dari tenun khas daerah itu. Seluruh peserta pawai berjalan mengintasi kawasan MTQ Squere dengan penuh percaya diri. Ada pertunjukan silat, yel-yel penghormatan, ada pula tarian adat.

Ali Mazi mengapresiasi partisipasi peserta karnaval tenun. Dia menyebut semua elemen telah bekerja keras untuk menyelenggarakan acara tahunan itu. “Kita sangat apresiasi baik itu panitia, peserta dan pemerintah kabupaten kota yang memberikan dukungan,” katanya.
Kedatangan Ali Mazi sore itu menyaksikan karnaval tenun didampingi sang istri Agista Ariany, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Sulta Yati Lukman, Asisten II Nur Endang Abbas, termasuk bupati dan wali kota. Ali Mazi terus melambaikan tangan dan membalas hormat para peserta. Menyunggingkan senyuman dan tampak sangat menikmati pertunjukan.

“Kita bangga, walaupun hujan, peserta gak bubar. Artinya mereka sangat serius dalam berpartisipasi di ulang tahun daerah ini,” lanjutnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Sultra Syahrudin Nurdin mengatakan, sesuai dengan data terdaftar, peserta yang berpartisipasi dalam acara itu sekira 3.800 orang. Ada tiga kelompok kategori lomba, tingkat OPD, umum dan kabupaten/kota. “Yang terbaik nanti akan kita umumkan di malam penutupan. Juri sudah menilai dengan objektif,” jelasnya.

Pemkab Konawe Selatan (Konsel) turut berpartisipasi dalam kegiatan Pesona Halo Sultra dan Sultra Expo. Menampilkan karya dan sejumlah produk kerajinan tangan kain tenun dan dari limbah kayu berupa mainan edukasi, olahan makanan rumahan (keripik) dan Kopi Tolaki, serta unggulan hasil pertanian, perkebunan dan peternakan, juga potensi objek wisata dalam bentuk video multi media.

“Model kerajinan ini sangat unik, saya senang sekaligus bangga perajin kita bisa menghasilkan kreasi dengan memamfaatkan limbah kayu, yang memiliki potensi menjanjikan karena bisa kita eksport keluar,” puji Ali Mazi saat melihat mainan edukasi yang dipamerkan di stan Konsel.

Ali Mazi mengatakan akan mendorong pengembangannya. Salah satunya melalui sosialisasi pada setiap kesempatan, namun harus lebih inovatif lagi, dengan menambah jenis variasi dan model mainan serta di desain semenarik mungkin, tetapi ini sudah lebih dari cukup. Ketua PKK Sultra, Hj. Agista Ariyani Ali Mazi mengamini gubernur. “Kita minta Play Group atau TK yang ada di Sultra untuk menggunakan mainan edukasi ini, sekaligus membantu meningkatkan produksi dan pendapatan perajinnya,” kata Agista.

Kepada Gubernur, Bupati Konsel Surunuddin Dangga menyampaikan bahwa mainan edukasi ini murni hasil karya perajin Konsel bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang memiliki dua rumah produksi yakni di Desa Iwoi Mendoro. Kecamatan Basala dan Desa Pangan Jaya, Kecamatan Lainea.

“Untuk mendukung peningkatan produksi, Pemkab Konsel juga telah membantu dari segi pemasaran dengan mengikutkan pada setiap event, sosialisasi, serta mengeluarkan surat edaran agar sekolah wajib memiliki mainan edukasi ini,” ungkap Surunuddin.

Ia berharap Pemprov bisa turut membantu dari segi pemasarannya dengan memerintahkan setiap sekolah di Sultra menggunakan mainan edukasi karya perajin Konsel. “Kita harapkan ada sinergitas antara Pemkab dan Pemprov agar karya ini bisa lebih cepat berkembang, juga demi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat, khususnya perajin,” tutur Surunuddin.

Katanya, mainan edukasi yang tergabung dalam komunitas Anoart ini sangat bermamfaat bagi anak dan membantu mencerdaskan anak bangsa. Karena mainan ini melatih pengenalan warna, bentuk, tingkat kesabaran serta merangsang pengembangan keterampilan motorik kasar dan halus anak agar lebih tumbuh berkembang dengan baik.

Sementara itu, saat Karnaval Tenun, kontingen Konawe Utara mengusung tema berlatar belakang legenda Oheo-Anawaingguluri.

Bupati Konut, Ruksamin mengatakan tema yang diusung cerita rakyat Oheo Anawaingguluri untuk memberikan informasi pada publik masyarakat Sultra tentang legenda Oheo. Sehingga gunung Oheo yang menjulang tinggi yang berada didaratan Kecamatan Oheo itu diabadikan sebagai lambang daerah.

“Oheo adalah seorang pemuda tampan dan memiliki kesaktian yang mandraguna dan dipercaya sebagai manusia pertama yang mendiami daratan bumi Konawe Utara,”ujarnya.

Kebudayaan dengan cerita gunung Oheo itupun tetap dilestarikan sebagai bentuk perhatian Pemkab Konut. Apalagi deretan gunung Oheo yang dikelililingi telaga tiga warna dijadikan sebagai objek wisata unggulan di Konut.

Selain mengusung tema Oheo-Anawaingguluri, Pemkab Konut melalui Dekranasda juga menampilkan sejumlah kreativitas home industri melalui kerajinan tangan. Tentunya wisata pulau Labengki, air panas Wawolesea dan pantai Taipa yang dikenal dengan segi tiga berlian turut dipajang dalam stand pameran milik Konut. (lyn/kam/min/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy