Pariwara
Kolom

Menggugat Tuhan, Oleh: La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Anak muda berkulit gelap itu berdiri di depan TV, menepuk tangan berkali-kali, sesekali juga menghentakkan kakinya ke lantai sambil meneriakkan “NEEEVEZ… NEEEEVEZ”. Oh, rupanya ia memberi support kepada club kesayangannya Manchester City. Malam itu, City kalah atas Southampton dengan skor 3:1. Penonton lain tersenyum melihat gelora dan mendengar gegap gempitanya si Anak muda yang terus-terusan meneriakkan kata “NEEEVEZ… NEEEVEZ”.

Disela semua orang terperangah dengan kekalahan City, ada seseorang nyeletuk, memberi pertanyaan dan juga dijawabnya sendiri. “Sebutkan sepuluh nama buah yang huruf awalnya “N”. Dia jawab sendiri. Nangka, Nenas, Nambutan, Nunian, Nuku, Nenonong, dst. Saya jadi ngeh dengan kata “NEVEZ”. Rupanya, yang dimaksud adalah TEVEZ, bintang City dalam pertandingan tersebut. Memang, Anak muda si kulit gelap itu, tak sempurna menyebut huruf konsonan karena bekas operasi bibir sumbing. Teves dibacanya Neves dan semua buah disebutnya berawalan “N”.

Itu kejadian, kira-kira pada 2013 lalu, saat Carlos Tevez belum lama ditrasfer City. Diskusi viral pada awal Maret ini, soal kata KAFIR dan NON MUSLIM, saya hanya teringat pada si Anak Muda berkulit gelap tadi. Ia pasti sangat setuju jika kata KAFIR diganti dengan NON MUSLIM. Diskusi di kalangan non intelek, di kalangan orang tak berijazah, seruan merubah Kafir menjadi non muslim menjadi sangat seru, menarik, dan viral. Saking serunya, orang yang kerjanya main song, main kartu remi, main domino gusur, dll, terpaksa larut dalam diskusi soal kata KAFIR. Tak jarang para pemain Joker sekalipun sudah mendiskusikan Juz Amma. Membahas conten Surah Al-Kafirun dalam Alquran.

Kesimpulannya, orang Islam atau Muslim, kalau menyebut orang yang tidak beragama Islam dengan kata: KAFIR atau non muslim.
Persoalannya sekarang: untuk apa harus pakai penegasan segala? Kenapa KAFIR harus diumumkan di telepisi dan minta dirubah dengan kata Non Muslim? Oleh karena yang meminta hanya organisasi, ya, tentulah juga tak serta merta diikuti kalau itu mau diikuti. Tapi kalau saya: Ndak. Tidak. Ntuapaku. Saya pilih lidah Arab dengan sebutan KAFIR, ketimbang NON-MUSLIM yang setengah Inggris dan setengah Arab.

Sebagai orang Islam yang ber-kitab-sucikan Alquran, saya kira sudah tegas. Alquran menyebut kaafirin, Al-Kafirun. Bahkan, sebagai orang Muslim, kata terakhir dari surat Al Baqarah: “Fanshurna ‘Alal Qaumil Kaafirin”. Tau ndak artinya? Kira-kira begini: (Ya Allah) Tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang kafir. Tegas to?

Adalagi penegasan dalam Alquran. Dimana? Di Juz Amma, surah Al Kafirun. Arabnya begini: Qul, yaa ayuhal kaafirun. Indonesianya: Katakanlah, hai orang-orang kafir. Di dalam surat ini pun jika ditelaah sesungguhnya begitu amat jelas. Ketika muncul himbauan agar kata Kafir dihilangkan dan diganti dengan kata Non Muslim, saya lantas memelototi Surat Al Kafirun. Saya simak sungguh-sungguh. Saya renungkan makna artinya. Kesimpulanku begini: bagi internal kaum muslim, dalam surat Al Kafirun itu,
memberi penegasan begini: Saya Muslim kamu Kafir. Kamu Kafir, saya Muslim. Soal keimanan, saya tidak urus kamu, dan kamu ndak usah urus saya. Soal aqidah, urusanku urusanku, urusanmu urusanmu. Untukmu agamamu, untukku agamaku.

Artinya apa? Kata Kafir susah untuk dihilangkan karena Allah sudah memberi ketetapan. Susah untuk dihilangkan karena Tuhannya orang Islam sudah mewahyukan dalam Alquran bahwa untuk menyebut orang yang tidak seagama dengan kalian maka sebutlah: Kafir. Allah saja memberi perintah seperti itu, masa kamu yang melarang. Saya curiga, ide untuk menghilangkan kata kafir menjadi non muslim, terilhami dengan perubahan kata Pribumi, Non Pri menjadi “Warga Keturunan”.

Bro, kalau ingin merubah sesuatu, carilah sesuatu itu yang tak ada dalam Alquran. Atau, tak ada dalam kitab suci. Misalnya, jambu air komoroba jadi manggopa, silahkan. Ndak ada yang protes. Misalnya, Poniman komoroba namanya menjadi Michael Jack, silahkan. Misalnya,
Undur-undur komoroba namanya menjadi Pempuli, silahkan.
Misalnya, LGBT komoroba menjadi Calabai, silahkan. Ndak akan ada yang urus. Kenapa? Karena semua itu adalah karya lidah dan lisan manusia. Tapi kalau kata dan kalimat itu terdapat kalam Allah, maka ketika ingin dirubah, menurut saya: itu sama artinya dengan menggugat Tuhan.(nebansi@yahoo.com).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy