Pariwara
Muna

Kepiting Muna Bidik Pasar Cina

KENDARIPOS.CO.ID — Potensi komoditas kepiting bakau di Kabupaten Muna mulai dilirik investor. Makanan laut (seafood) itu akan merambah pasar internasional dengan negara tujuan ekspor utama, Cina. Prospek bisnis kepiting di Muna diproyeksikan akan menjadi penyuplai kebutuhan nasional dan dunia. Komitmen pengembangan kepiting tersebut diwujudkan dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) daerah tahun 2019. Forum itu dihadiri investor Habil Marati, putera asli Muna. Habil datang dengan memboyong tim ahli Institut Teknologi Bandung (ITB) yang akan meneliti prospek bisnis kepiting di Muna. “Kalau dibutuhkan, mereka akan memberi pendampingan, bahkan sampai menyiapkan relasi bisnisnya,” kata pengusaha nasional itu, Senin (18/3) saat Musrenbang.

Musrenbang Kabupaten Muna yang dibuka Bupati Muna, Rusman Emba dihadiri Habil Marati, pengusaha nasional. Habil Marati siap berinvestasi dalam produksi kepiting Kabupaten Muna dan membeli hasil panen kepiting.

Habil sebenarnya datang dengan peruntungan baru. Sebelum kepiting, ia telah menawarkan bisnis sapi pedaging dan bisnis perumahan. Dua tawaran bisnis itu gagal. Habil kembali “merayu” Pemda dengan eksploitasi komoditas laut. “Sebenarnya saya sudah kecewa. Tapi bisnis ini meyakinkan. Saya pastikan kalau serius, masyarakat tidak akan rugi,” ujarnya meyakinkan. Pasar kepiting, kata dia, terbuka lebar di negara Cina. Ada gaya hidup yang dikenal istilah baby face, dimana kebanyakan penduduk Cina menggandrungi konsumsi protein laut. Pangsa pasarnya bahkan mencapai ratusan ribu ton per tahun dengan nilai Rp 11 ribu triliun. Kata dia, bisnis ini lebih menguntungkan dibanding sawit maupun tambang mineral. “Kuncinya ada pada kemauan Pemkab berinvestasi pada infrastrukturnya dulu,” jelas Habil.

Hitung-hitungan Habil dirincikan tim ITB. Prospeknya, satu hektar tambak kepiting bakau bisa menghasilkan 50 ton kepiting dengan harga Rp 200 juta per ton. Paling minimal jika dikonversi ke rupiah, per hektar bisa meraup Rp 4 miliar. “Jika dipotong ongkos produksi Rp 1 miliar, maka keuntungannya bisa 70 persen,” kata Fauzi, akademisi ITB. Sementara itu, Bupati Muna LM. Rusman Emba mengataka ada 17 dari 22 kecamatan di otoritanya yang potensial komoditas kepiting. Namun bisnis itu belum banyak digeluti sebab masyarakat terkendala pemasaran. “Tapi kalau sudah jelas begini pasarnya, saya rasa ini akan kita tindak lanjuti,” ujarnya.

Rusman mengaku siap menggelontorkan Rp 10 miliar APBD untuk membangun balai benih kepiting. Jika telah berjalan, petani tambak akan didukung dengan infrastruktur. Rusman mengaku kedatangan Habil membuka ruang bagi mata pencaharian untuk warganya. “Insya allah Muna akan kita jadikan kabupaten penghasil kepiting nasional bahkan dunia,” imbuhnya. (ode/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy