Pariwara
Kolom

Belajar ke Singapura, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Saya bersama teman-teman dari ikatan alumni, serta Rektor IKIP/UNM Ujung Pandang melakukan kunjungan belajar ke beberapa pelaku usaha di Singapura. Hal ini dalam rangka meyiapkan dan memperkuat alumni agar mampu berperan dalam menghadapi persaingan era digital 4.0 dan 5.0. Kunjungan tersebut dipimpin langsung Ketua IKA Alumni IKIP-UNM, Andi Nurdin Halid. Pertanyaan mendasar, mengapa harus ke Singapura, bukan di tempat lain? Begini, seperti tercatat dalam sejarah, di masa silam, sekitar abad 14, Pulau Singapura merupakan sebagian kerajaan Sriwijaya. Dikenal sebagai Temasek “Kota Laut”. Singapura dipercaya sebagai pusat pemerintahan melayu sebelum diduduki Sir Stamford Rafless tahun 1819.

Dalam sejarah itu, Raffles menemukan perkampungan Melayu yang dikepalai seorang Temenggung Johor (Kesultanan Johor). Hanya, kondisi politik daerah tidak stabil kala itu. Pewaris Sultan Johor bernama Tengku Abd. Rahman dikuasai Belanda dan Bugis. Dalam tulisan Abdullah bin Abd Kadir Munsyi, menyatakan, ketika Singapura dibersihkan, ditemukan bukit larangan dan terdapat banyak pohon buah. Tentu saja, ini menjadi bukti kalau Singapura sebagai pusat pemerintahan administrasi sejak beberapa tahun sebelum Inggris tiba.

Dalam percakapan saya dengan Ahsan, seorang pemandu wisata, bahwa walaupun ibunya orang Ponorogo, dirinya sedikit mengetahui tentang Singapura. Menurutnya, salah seorang penemu Singapura berkebangsaan Bugis dan pernah memerintah sebelum pemerintahan Rafless. Oleh karena itu, untuk menghargai penemuan tersebut, diberikanlah satu kampung bernama Kalang Bugis. Ahsan menjelaskan, wilayah Singapura sangat kecil. Mungkin hanya seluas Surabaya. Luas wilayahnya hanya 647 Km persegi yang dihuni 4 juta penduduk asli kelahiran Singapura dan satu juta setengah pendatang.

Pemerintah Singapura memberlakukan kebijakan: Dua minggu dalam satu bulan, tenaga kerja harus diliburkan oleh majikan. Bagi majikan yang tidak taat, akan didenda sebanyak 3 juta dollar Singapura. Konsekuensi dari itu, setiap minggu pusat perbelanjaan di Kota Singapura dipadati TKW dari Bangladesh, Indonesia dan Philipina untuk melakukan pertemaun serantau. Saya mengamati, mengapa banyak diantara kita yang memimpikan mau berkunjung ke Singapura. Saya melihat, hal itu disebabkan sistem keamanan, ikon pembangunan, dan tata kota yang artistik, serta gedung-gedung pencakar langit. Keberhasilan ini, karena negara dan rakyat saling bahu membahu, mengawal regulasi yang ada. Keamanan misalnya, terbukti saat kami masuk di imigrasi, pemeriksaan begitu ketat. Walaupun negosiable, tapi yang paling ketat adalah saat memasuki wiayah X Ray, di mana sorang ibu berumur 60-an tahun memeriksa orang perorang tanpa basa basi. Semua isi koper minta dibuka termasuk menyuruh membuka laptop dan isinya. Hanya saja mungkin dengan negosiasi, bahwa file-file dalam laptop sangat privasi, sehingga hanya menyuruh onkan, tanpa harus buka file. Tentu saja kondisi ini berbeda dengan di negara kita.

Demikain juga, ketika kami berkunjung di Lao Pasad, satu tempat yang diperuntukkan pusat Kuliner Singapura. Tempat itu khusus kuliner r dari berbagai negara. Saat itu, kami memilih stand 7-8, yakni makanan Indonesia dan Thailand yang menyediakan khusus sate dan ikan. Hal paling menarik dari tempat ini adalah prilaku saling menghargai dan memahmi. Karena saat kami sudah duduk di tempat itu, sambil menunggu pesanan, berdatangan pedagang lain menjajakan jualan mereka. Hal yang tak masuk akal, pemilik warung tidak merasa keberatan. Malah dia mengatakan begini: mencari rezeki itu halal kepada semua orang dan tidak harus membenci orang lain. Rezeki warung ini tidak akan diambil orang lain. Begitu juga sebaliknya”. Pelajaran bisa diambil dari persitiwa ini adalah saling hidup dan menghidupi dalam kebaikan.

Kedisplinan menjadikan masalah bagi kita, tapi dijadikan kekuatan oleh pemerintah dan masyarakat Singapura. Contoh di mana-dimana seperti, tempat kuliner, restoran, perkantoran dan di jalan raya umum, tidak pernah saya melihat orang merokok, kecuali pada tempat-tempat yang dipersiapkan. Sehingga tidak jarang kita melihat perokok berhenti di pinggir jalan atau di bawah pohon dan di luar gedung yang tertulis disigned for semoking area. Disitulah mereka berkumul menghisap rokok sepuasnya lalu melanjutkan aktivitasnya. Bagi yang melanggar aturan akan dikenai denda.

Kedisplinan lain, seperti memarkir mobil. Itu sudah teratur, tidak bisa memarkir sembarangan. Aplikasi ini terkontrol melalui CCTV. Misalnya, saat mobil kami diparkir pada tempat yang sudah disiapkan khusus untuk pariwatasa, lalu ada mobil pribadi yang terpakir di situ, secara diam-diam sopir mobil yang kami tumpangi memfoto dan mengirim ke aplikasi pelanggaran parkir. Lima menit kemudian, petugas datang dan langsung menilang sopir mobil pribadi itu, dengan harga tilang sangat mahal. Mungkin inilah, sehingga masalah keimigrasian dan penyelundupan barang-barang terlarang, termasuk berita-berita kriminal di Singapura hampir jarang terdengar dan ada di media. Hal ini disebabkan, hak-hak setiap warga negara disadarkan melalui regulasi yang baik dan displin dalam menjalankan aturan itu.

Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki letak geografis strategis. Sebesar 87 persen adalah wilayah kepulauan, yang tentu saja keindahan alam lautnya termasuk keramhatamahan penduduknya, tidak kalah dengan Singapura. Namun apa yang menjadi program pembangunan belum menyentuh ke seluruhan. Padahal, ini bisa menjadi sumber kekukatan pembangunan daerah. Pemprov Sultra perlu memikirkan pembangunan yang membuat masyarakat menjadi produktif, bukan konsumtif. Sehingga, peran pendidikan vokasi dan enterpreneurship yang berbasis inovasi sangat diperlukan. Artinya tidak perlu kita muluk-muluk membuat program yang melangit tapi tidak aplikatif. Karena itu, sama halnya berpikir teoritis, padahal untuk mensejahterakan masyarakat harus didukung cara berpikir produktif.

Oleh karena itu, dalam membangun Sultra, perlu memikirkan konsep strategis, melalui regulasi, mengajak masyarakat taat aturan, budaya dan mempertahankan ciri khas ke Sultra-aan. Serta memfasilitasi masyaraat untuk mengembangkan inovasi produktif. Saya pernah berkunjung ke kantor gubernur di depan tangga naik, Nur Alam menulis begini: Saya tidak rela masyarakat Sulawesi Tenggara menjadi penjaga kebun”. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy