Pariwara
Hukum & Kriminal

Tiga Tersangka, Polres Konawe Amankan 441 Batang Kayu Rimba Campuran

KENDARIPOS.CO.ID — Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Konawe yang dipimpin langsung Kasat Reskrim Iptu Rachmat Zam Zam mengungkap kasus dugaan ilegal loging, Minggu (3/2) lalu, sekira pukul 22.00 Wita. Dalam perkara tindak pidana kehutanan, polisi menetapkan tiga tersangka, yakni Juanda (41), warga Desa Momea Kecamatan Tonggauna, Ahmad Tanga (53), warga Kelurahaan Puunaha Kecamatan Unaaha, dan Lukman (25), warga Desa Momea Kecamatan Unaaha.

Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Konawe mengamankan ratusan batang kayu tak bertuan. Dari perkara ini, polisi juga menetapkan tiga tersangka kasus tindak pidana kehutanan.

Kapolres Konawe, AKBP Muh Nur Akbar, melalui Kasat Reskrim, Iptu Rachmat Zam Zam mengatakan, saat ini tersangka dan barang bukti satu unit mobil truk dan kayu sebanyak 441 batang dibawa ke Polres Konawe untuk diproses lebih lanjut. “Sebelum melakukan penangkapan, kami lebih dulu melakukan penyelidikan terhadap kasus ilegal loging di Desa Waworoda Jaya, Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe,”ujarnya kepada Kendari Pos.

Setelah itu, pihaknya berhasil menemukan truk merk Toyota Dyna 130 HT dengan nomor polisi DT 9184 FE sedang memuat kayu jenis rimba campuran berjumlah 36 batang yang tidak dilengkapi dokumen angkutan berupa Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu (SKSHHK). “Di lokasi tersebut, tim juga menemukan kayu sebanyak 405 batang, tanpa dokumen surat keterangan sahnya hasil hutan kayu,” kata Rachmat Zam Zam.

Selanjutnya, mobil truk dan temuan kayu dengan jumlah total sebanyak 441 batang yang tidak dilengkapi dokumen SKSHHK itu dibawa ke Polres Konawe. “Sebelum menetapkan tersangka, tim terlebih dahulu melakukan pemeriksaan lokasi tebang kayu bersama ahli di bidang kehutanan. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, diketahui bahwa kayu tersebut ditebang di dalam wilayah kawasan hutan produksi tanpa izin dari pejabat yang berwenang,” tuturnya. Katanya, polisi sudah periksa saksi-saksi, ahli kehutanan dengan memeriksa lokasi tebang kayu dan termasuk tersangka.

Setiap pengangkutan, penguasaan, atau pemilikan hasil hutan kayu wajib dilengkapi bersama-sama dengan dokumen angkutan SKSHHK. Dokumen ini hanya berlaku untuk sekali pengangkutan dengan satu tujuan. “Pengirim, pengangkut dan penerima bertanggung jawab atas kebenaran dokumen angkutan maupun fisik kayu yang dikirim, diangkut atau diterima. Itu tertuang dalam pasal 10 PerMenLHK No. P.43/Menlhk-Setjen/2015,” pungkasnya. (hel/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy