Pariwara
Kolom

Prestasi atau Prestisius, Oleh: Amal Fadly Senga

Amal Fadly Senga (Redaktur Olahraga Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Sportif atau sportifitas dalam kamus bahasa Indonesia artinya, kesatria dan jujur. Di dunia olahraga, kata ini sangat dijunjung. Tidak hanya di lapangan namun juga di luar arena baik atlet, perangkat pertandingan termasuk pengurus olahraga. Sebab dalam berkompetisi menang kalah adalah biasa. Namun jiwa sportifitas terkadang harus mengalah melawan ambisi untuk mengejar prestisius. Hanya untuk mencari “nama” atau sebuah pengakuan.

Ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sultra XIII Kolaka lalu ternyata masih menyimpan cerita miring. Kesepakatan untuk mengoptimalkan atlet lokal masih diindahkan. Masih ada pengurus cabor atau kontingen yang mengimpor pemain luar. Padahal komitmen awalnya sudah sepakat. Alhasil, ada beberapa dicoret. Itu pun yang ketahuan, bagaimana yang tidak ketahuan?

Isu adanya atlet impor yang lolos dari pencoretan di ajang pesta olahraga terakbar di Sultra ini kembali terdengar. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sultra mencium adanya indikasi kecurangan yang melibatkan sejumlah pengurus cabor. Hanya saja, pihak KONI tidak ingin terburu-buru memberi vonis. Namun bila terbukti, KONI mengancam akan memberi sanksi tegas.

Langkah KONI mengambil sikap tegas perlu diapresiasi. Sebab Porprov adalah panggung bagi atlet lokal menunjukan kemampuan. Untuk menempa atlet harus dimulai dari kompetisi lokal. Dengan begitu, akan lahir atlet Sultra yang mampu membanggakan daerah di kancah nasional maupun internasional. Apalah artinya sebuah pengakuan bila dilakukan dengan cara-cara yang tidak sportif.

Saat ini, KONI tengah bekerja. Oknumnya harus ditindak. Sebab tidak hanya melanggar komitmen, namun juga telah merampas hak putera-puteri Sultra untuk tampil. Alangkah ruginya daerah yang telah menggelontorkan anggaran miliar. Ajang yang seharusnya menjadi seleksi atlet di event yang lebih besar, tapi jadi ajang unjuk kebolehan atlet luar daerah.

Sudah menjadi rahasia umum, penggunaan atlet impor di ajang Porprov Sultra bukanlah hal baru. Jadi jangan heran, prestasi atlet Sultra tidak berkembang. Sultra hanya mampu unjuk gigi di beberapa cabor seperti Dayung dan bela diri. Belakangan, Softball muncul sebagai pembeda.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Yang penting, kita mampu menjaga komitmen. Pengurus olahraga yang curang jangan lagi diberi ruang. Hanya saja, isu ini jangan sampai dijadikan komoditi menjelang bursa pemilihan ketua KONI Sultra yang akan dilaksanakan pada bulan April 2019. Sebagai pencinta olahraga, kita tidak boleh suudzon. Jadi, mari kita tunggu hasil investigasi KONI Sultra. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy