Pariwara
Politik

Pemilu Dua Bulan Lagi, Sosialisasi KPU Sultra Belum Memuaskan

KENDARIPOS.CO.ID — Puncak perhelatan pesta demokrasi 2019 akan digelar dua bulan lagi. Namun, sosialisasi pada masyarakat khususnya bagi pemilih pemula, belum memperlihatkan hasil memuaskan. Pasalnya, sampai hari ini, masih ada pemilih yang bahkan belum mengetahui kapan pemungutan suara dilakukan. Hal itu diungkapkan Pengamat Politik Sulawesi Tenggara (Sultra), M. Najib Husain. “Dari hasil survei yang kami lakukan di tingkat pemilih pemula, masih banyak yang tidak mengetahui tanggal berapa pencoblosan Pemilu 2019 dilakukan,” ungkap Najib, saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo (UHO), Senin (18/2).

Sehingga, kata Dosen Ilmu Politik UHO ini, dengan semakin dekatnya hari H Pemilu, penyelenggara perlu lebih intensif melakukan sosialisasi. Salah satu upaya yang dilakukan, kata dia, dengan melaksanakan seminar-seminar melibatkan langsung pemilih yang baru akan menyalurkan haknya pada Pemilu tahun ini.

“Salah satu bentuknya adalah seperti yang kita lakukan hari ini. Bagaimana kemudian kita menghadirkan pemilih pemula dalam forum-forum yang membahas tentang Pemilu. Karena itu lebih dekat ikatan emosionalnya,” terangnya. Najib menilai, salah satu tantangan pemilih hari ini adalah banyaknya berita-berita bohong yang membingungkan. Bagi para pemilih pemula, cukup sulit untuk memastikan keabsahan informasi tentang Capres dan Cawapres. “Itu juga yang berusaha diantisipasi oleh penyelenggara Pemilu. Yakni, bagaimana menghentikan strategi-strategi yang dijalankan tim sukses dari kedua kubu menggunakan strategi pendekatan hoaks,” imbuh Doktor lulusan terbaik Universitas Gadjah Mada tersebut.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sultra, La Ode Abdul Natsir Muthalib, mengakui, informasi Pemilu belum menjangkau semua masyarakat, terutama di pelosok. Namun, kata dia, upaya untuk menjangkau semua segmen pemilih terus dilakukan. Ia juga mengajak agar pendidikan pemilih tidak hanya diserahkan semata-mata kepada penyelenggara Pemilu. Banyak aktor yang harus terlibat dalam mewujudkan Pemilu berkualitas. “Sosialisasi tetap kita lakukan. Namun, ini harus menjadi tanggung jawab kita semua,” kata Natsir.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titie Anggraeni, berharap agar potensi pemilih pemula bisa menjadi politik harapan bagi demokrasi Indonesia saat ini. “Dari konfigurasinya, jumlah pemilih muda yang sangat besar yakni mencapai angka 50 persen, bisa menjadi dua kemungkinan. Bisa sekadar angka, atau sebaliknya menjadi politik harapan,” ujarnya, kemarin. Artinya, jumlah yang besar ini mampu mendongkrak partisipasi Pemilu berkualitas. Bukan hanya dari sisi kuantitas, namun juga kepahaman terhadap figur yang akan dipilih nanti. Ia menjelaskan, karakteristik pemilih pemula cenderung kritis, argumentatif, serta lebih mampu memilah informasi dengan baik. Untuk itu, partisipasi mereka dalam kontestasi lima tahunan yang puncaknya 17 April 2019 nanti, diharapkan maksimal. (a/m7)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy