Pariwara
Kolom

Kita, yang tak Lucu Lagi, Oleh: Darwin Sihombing

Darwin Sihombing

KENDARIPOS.CO.ID — Saya, kita, pasti lelah dengan situasi saat ini. Banyak yang berharap, Pemilu 17 April 2019 segera usai. Terlalu deras arus adu argumentasi, hujatan melahirkan kebencian, agitasi murahan, propaganda memuakkan, konfrontasi berlebihan, menjatuhkan martabat dengan menyebar hoax demi tujuan tertentu. Tensi begitu cepat terpacu. Terlalu dinamis, adrenalin memompa saraf encephalon. Itu nyata muncul di pelupuk mata, di dengung telinga, dalam ngiang benak.

Semua soal Pilpres dan Pilcaleg. Dua kubu pendukung calon pemimpin negeri atau simpatisan partai dan calon legislatif merasa pandai, namun tak pandai merasa. Urusannya menjadi soal memilih orang baik dan jahat. Akan masuk surga atau berada di kubu neraka. Entah kapan cebonger dan kampretos bersatu. Mungkin usai pesta demokrasi, 17 April nanti. Atau bisa jadi saat membahas perkara prostitusi artis Vanessa Angel, semua bisa satu frame berpikir dan pendapat.

Sampai di sini, memang belum cukup nampak bagaimana peran semua pihak, khususnya para penyelenggara pemilu dan aparat keamanan ataupun tokoh agama, bahkan cerdik pandai lainnya mengedukasi warga negara soal bagaimana para simpatisan berdamai. Khususnya kedewasaan dalam perbedaan pilihan.

KPU hanya sibuk mengurusi logistik dan menghabiskan tenaga merayu masyarakat agar nantinya memilih demi target partisipasi nasional. Bawaslu cukup pada posisi mengawasi baliho-baliho di atas pohon, memantau bagi-bagi sembako para Caleg, sampai mengintip tayangan iklan di media massa (padahal di media sosial bertebaran). Untuk aparat penegak hukum, lebih agresif memproses hukum para penebar ungkapan kebencian dan berita hoax. Yang lain, masih sibuk dengan tafsir masing-masing. Yang sedang berkomepetisipun, tak cukup berusaha meredam semua letupan.

Apatis atau pesimis. Nyatanya, sampai hampir separuh jatah hidup di dunia sesuai hitungan kitab suci dan tak layak lagi disebut generasi milenial, sesungguhnya belum ada pendidikan politik positif yang saya atau mungkin kebanyakan kita, bisa peroleh pada setiap siklus pesta lima tahunan ini. Dalam level apapun. Semua sama saja, tentang intrik dan tendensi.

Debat di pentas resmi, warung kopi sampai linimasa media sosial yang harusnya menjadi seni persuasi dengan kalimat dan pikiran terkonsolidasi, justru hanya meninggalkan amarah, saling lapor, bahkan embusan angin kesia-siaan. Tak ada kesan keindahan pikir. Demokrasi kita hari ini, menurut saya, berada dalam situasi demikian. Mungkin, frame berpikir ini terlalu praktis dan pragmatis. Tapi itu juga bukan logika yang salah, kan?

Padahal para Saintis berkesimpulan, bumi perlu waktu miliaran tahun untuk terbentuk, ditambah beberapa miliar tahun lagi, sampai betul-betul siap dihuni makhluk hidup. Setelah itu, manusia berhasil melewati semua evolusi hingga ke level teknologi saat ini. Sampai kita bisa membuat status di facebook, twitter atau lainnya, sekarang. Dalam kurun waktu belasan miliar tahun itu, pernahkah kita berpikir, jika bumi ini disiapkan Sang Pencipta untuk banyak tujuan. Bukan meributkan hal-hal remeh, seperti pilihan politik yang ngotot, dan kita merasa paling benar?. Bumi ini, rumah kita bersama. Mari bertoleransilah.

Pilihanmu, cukup menjadi urusanmu. Termasuk menjadi Golput sekalipun. Jangan sesekali memaksakan kehendak. Agar kita tetap dapat bersenda gurau dan menikmati lucunya hidup ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy