Pariwara
Muna

Menggali Inspirasi dari Wakapolres Muna, Kompol Yusuf Mars, Keliling Masjid Berdakwah, Titip Pesan Kamtibmas

Wakapolres Muna, Kompol Yusuf Mars, saat berdakwah pada salah satu Masjid di Muna.

KENDARIPOS.CO.ID — Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kapolda Sultra Brigjen Pol Iriyanto pasti bangga punya perwira seperti Komisaris Polisi (Kompol) Yusuf Mars, Wakapolres Muna. Kiprahnya tak hanya sekadar menjalankan tugas negara. Membantu Kapolres Muna, AKBP Agung Ramos Paretongan Sinaga menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Tapi juga menjalankan perintah agama, menjadi Polisi Pendakwah. Dia telah memberikan inspirasi, bahwa perintah agama dan tugas negara bisa berpadu padan. Kini, Muna makin kondusif.

La Ode Alfin, Raha

Senyum Kompol Yusuf Mars seketika merekah dari balik pintu rumah jabatannya di Kelurahan Butung-Butung, Kecamatan Katobu Muna. Kendari Pos mengunjunginya Sabtu sore (24/11). Kompol Yusuf berpenampilan casual. Dia baru saja pulang dari Masjid Al Munajat, Raha. Di Masjid dekat pelabuhan nusantara Raha memang paginya sedang ada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Pemkab Muna. Kompol Yusuf hadir selain mengamankan acara, juga punya tugas lain. Ia memandu sekitar 2.000 jamaah melantunkan zikir Asmaul Husna.

Memimpin zikir atau berceramah bukan hal baru bagi pria kelahiran Palopo, 7 Januari 1974 itu. Lakon itu sudah diperankan sejak bertugas di Polres Kendari sebagai Kepala Satuan Pembinaan Masyarakat. Soal kebiasaan itu, ia punya motivasi tersendiri. “Menangkap atau menjerat pelaku kriminal itu tidak susah. Tapi membina masyarakat agar terhindar dari kasus hukum, itu yang mestinya diutamakan,” katanya. Menjadi polisi bukan semata menegakkan hukum. Dibalik seragam kebesaran tersebut, ada tugas maha mulia dimata agama dan negara. Polisi sebagai pelindung dan pengayom harus diwujudkan dengan mengajak masyarakat sadar hukum. Mencegah tindakan kriminal lebih utama dibanding menghakimi pelaku kriminal.

“Ruang paling baik itu di masjid. Memberi edukasi, bahwa menghindari kejahatan, bukan saja perintah polisi. Melainkan sudah lebih dulu dianjurkan dalam agama,” jelasnya. Setiap kali berceramah, Kompol Yusuf juga kerap menyampaikan pesan Kamtibmas. Satu hal paling serius, mayoritas kasus kriminal dijumpai karena minuman keras. Makanya, pesan menjauhi kebiasaan “melingkar” selalu disampaikan berulang-ulang. “Biasanya, kalau sudah mabuk, semua jadi masalah. Mulai penganiayaan, tawuran bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ini harus dihindari dan memang miras itu lebih banyak mudharatnya,” urainya. Kompol Yusuf bercerita, ada yang menarik saat dirinya ditugaskan pertama kali ke Muna. Awalnya ia sempat was-was. Muna sebagai daerah “keras” terlanjur melekat dibenaknya. Apalagi, presentasi Polda Sultra kerap menempatkan daerah ini sebagai penyumbang catatan kriminal rangking atas.

“Bukan saja saya, barangkali kebanyakan perwira kalau memilih pasti tidak mau ke sini. Bukan apa-apa, image dan data kriminal itu susah dihilangkan,” ungkapnya. Kendati sempat pesimis, namun perintah negara tak bisa ditolak. 31 Mei 2017, tepat 5 Ramadan, ia menjejakkan kaki ke Muna. Membayangkan betapa seramnya wilayah barunya, membuat Kompol Yusuf tak bisa tidur. Didampingi sang ajudan, ia lalu berpatroli setiap sudut Kota Raha. Mencoba meraba-raba keadaan wilayah barunya itu. “Saya jadi semangat setelah melihat masjid di sini besar-besar. Dan memang seiring berjalannya waktu. Ternyata image kalau daerah ini (Muna) keras ternyata keliru. Sekarang saya jatuh cinta dengan Muna. Daerah ini tidak akan saya lupakan dalam perjalanan karir,” ucapnya.

Kompol Yusuf juga menyanjung masyarakat Muna yang ia kenal cerdas. Seringkali berjumpa dengan tokoh besar di daerah lain datang dari Muna. Kendati belum berkembang seperti daerah lain, suatu saat ia optimis Muna akan maju. Makanya, dirinya sedikit ingin memberi andil dengan menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ada keyakinan jika itu terjaga maka investasi akan meningkat. “Saya sudah bincang juga dengan Pak Bupati (LM. Rusman Emba) dan beliau memang mendukung kamtibmas terjaga. Apalagi ini mau jadi daerah wisata,” sambungnya. Sudah 18 bulan bertugas di Polres Muna, Kompol Yusuf sudah bersafari dihampir semua wilayah hukum baik Muna, Muna Barat maupun Buton Utara. Kelak, jika berpindah tugas ia ingin meninggalkan kesan manis bagi masyarakat. Dirinya ingin, polisi sebagai pendakwah tetap ada di jajaran Polres Muna. Untuk itu, tugas Kompol Yusuf memikirkan regenerasi.

“Saya sudah buat konsep. Dalam waktu dekat, mengundang 22 Polsek yang ada. Saya akan minta satu orang setiap Polsek harus ada yang bisa berceramah. Tujuannya supaya kegiatan dakwah ini tetap berlanjut meskipun saya pindah tugas,” terangnya. Selain berguna bagi agama dan masyarakat, bersafari ceramah bisa meningkatkan kesan baik terhadap institusi Polri. Sebagai pimpinan yang punya karakter bersahabat, Kompol Yusuf berkeinginan anak buahnya menjalankan kegiatan berceramah bukan karena perintah atasan. Melainkan panggilan hati sebagai umat. “Sekarang pola pendekatan polisi lebih ramah. Ini inovasi dan harus dirawat oleh anggota Polsek. Kalau polisi terus ada dimimbar ceramah maka kepercayaan terhadap Polri ikut meningkat,” pungkasnya. (*/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy