Pariwara
Kolom

“Negara Genderuwo”, Oleh: Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Diantara pembaca, pasti ada yang penasaran dengan judul ini. Apa itu Negara Genderuwo? Begini, istilah itu saya dengar di salah satu warung pojok, samping Hotel Klagaan di daerah Manggatal Sabah, Malaysia. Saya datang ke Negeri Jiran itu selaku pemateri dalam Konferensi Internasional bertajuk “Together Tranforming Education 2018”. Di lokasi itu, kami diinapkan selama 3 hari. Hotel ini, hanya sekitar 10 menit dari ruang Auditorium Univerisitas Sabah Malaysia.

Universitas ini adalah salah satu yang terbaik di Semenajung Malaysia. Saya sendiri tidak tahu persis, pertimbangan apa sehingga diundang Kementerian Pendidikan Malaysia wilayah kerja Sabah untuk menjadi pembicara dalam acara itu. Saya membawakan materi tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan Higher Order Tingking Skills (HOTS) menuju abad 21. Ceritanya, setelah penat memberikan materi pada konferensi internasional tersebut, saya meluangkan waktu untuk ngopi di salah satu warung pojok. Tepatnya, samping hotel Klagan (kira-kira selevel dengan Hotel Clarion di Kendari). Dalam warung pojok, ada beberapa pengunjung. Mereka kebanyakan sopir taksi yang sedang menunggu giliran mengantar tamu hotel. Rupanya, mereka berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Ada dari Jawa, Bugis, Makassar, Mandar hingga Philipina.

Meski bukan asli Malaysia, pemilik warung mengaku sudah 47 tahun tinggal di Manggatal. Sehingga mengenal betul daerah tersebut. Malah, dia sudah diberikan tanah oleh kerajaaan sama dengan para pengunjung (sopir taksi). Mereka semua sudah menjadi warga negara Malaysia. Sebab, rata -rata mereka sudah tinggal di daerah itu, 30-40 tahun. Sambil meneguk secangkir kopi, saya mendengar mereka bercerita tentang negara ideal.
“Negara ini bukan Negara Genderuwo,” celetuk salah seorang pengunjung.

Dia pengagum Mahatir Mohammad. Dia banyak bercerita tentang kehebatan pembangunan Malaysia yang dibangun berdasarkan multikultural. Kebijakannya berpihak pada rakyat, dan mampu mengembalikan kejayaan Malaysia. Mampu membangun tanpa bantuan Cina. Walaupun Cina banyak di Malaysia khususnya Sabah. Melalui android, saya mencoba mencari definisi tentang kata “genderuwo”. Ternyata istilah Genderuwo adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia. Mirip kera bertubuh besar dan kekar. Warna kulit hitam kemerahan. Tubuhnya ditutupi rambut lebat di sekujur tubuh.

Genderuwo paling banyak ditemukan dalam cerita masyarakat di Pulau Jawa. Clifford Geertz, seorang peneliti antropolog dari Amerika Serikat pernah melakuan penelitian tentang genderuwo. Dalam beberapa catatannya, dia memahami kalau Genderuwo merupakan sejenis makhluk Jin yang sangat menakutkan. Dia percaya kalau mahluk itu benar-benar ada. Tapi bukan itu, maksud tulisan ini. Jika dianalogikan dengan negara, maka certa Genderuwo sama dengan suatu negara yang sangat menakutkan bagi rakyatnya. Sehingga, rakyat jadi apatis dan hanya fokus mengurus profesi masing-masing. Bukan negaranya yang menakutkan, tapi kebijakan pemimpinnya yang membuat rakyar ketakutan dan menderita.

Setiap negara pasti ingin menyejahterakan rakyatnya. Makanya, negara perlu melakukan pembangunan untuk mencapai tujuannya. Tolok ukur kemajuan negara, dapat dilihat dari keberhasilan dalam proses pembangunan. Adapun tingkat kemajuan suatu negara dapat dilihat dari dua segi. Yakni, segi kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, suatu negara dapat dianggap maju atau berkembang jika pendapatan per kapita, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, tingkat inflasi, serta laju pertumbuhan penduduk meningkat. Sementara dari segi kualitatif, suatu negara dikategorikan maju apabila pertumbuhan ekonomi tinggi disertai pemerataan pendapatan. Indonesia kini sudah berusia 73 tahun. Rakyatnya hidup rukun dan damai, dalam satu bingkai Pancasila. Kemerdekaan yang sudah diraih bukanlah pemberian, tapi hasil perjuangan. Banyak pahlawan gugur di medan juang. Mereka banyak berkorban, tapi tidak mengaharapkan jabatan, apalagi materi. Pemerintah dan masyarakat saat ini harus mencontoh keteladanan mereka. Jangan lagi ada “Negara Genderuwo”. (*)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: [email protected] Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778