Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah, OJK Kordinasi dengan BI Perbaiki Neraca Perdagangan

Fredly M. Nasution

KENDARIPOS.CO.ID — Pelemahan nilai Rupiah yang menembus angka kurang lebih Rp 15 ribu per Dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra mengambil langkah atau mengatur strategi untuk memperbaiki neraca perdagangan dengan berkordinasi dengan Bank Indonesia.

“Berbicara mengenai neraca perdagangan, tentu tak lepas dari dua item didalamnya, yakni Impor dan Ekspor. Terkait pelemahan nilai Rupiah yang terjadi saat ini, kami dari OJK bersama BI mengambil langkah dengan berupaya mengendalikan impor dan mendorong ekspor dan investasi di Indonesia melalui regulasi yang kami buat,” ungkap Kepala OJK Sultra, Fredly M. Nasution, pekan lalu.

Lanjut dia, upaya yang dilakukan OJK dalam hal mengendalikan impor, seperti penggunaan biodiesel (B20) sebagai subtitusi impor per 1 september 2018, kenaikan tarif PPh 22 impor barang konsumsi, peningkatan penggunaan komponen lokal (TKDN) pada proyek infrastruktur, kepastian dan kemudahan e-commerce termasuk penyesuaian de minimis barang kiriman, assessment impor barang konsumsi melalui program sinergi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“OJK bersama BI berhasil mendorong Kemenkeu mengeluarkan kebijakan konkret yang dapat membantu menggairahkan ekspor berupa fasilitas fiskal dengan meniadakan pungutan perpajakan pada industri pengolahan barang yang berorientasi ekspor. Peniadaan pungutan perpajakan diharapkan menimbulkan multiplier effect berupa peningkatan investasi, peningkatan ekspor dan terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi nasional,” terang Fredly.

Sedangkan dalam mendorong ekspor dan investasi, kata Fredly, OJK dan BI terus mengupayakan pemberlakuan layanan online (OSS) dan pengelolaan dampak post-border, pengawasan dan pengamanan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dengan program sinergi DJP,DJBC dan BI.

“Berbagai skema kemudahan fiskal yang telah diberikan oleh pemerintah di antaranya Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) bagi perusahaan industri, serta Pusat Logistik Berikat untuk suplai bahan baku kepada perusahaan industri,” tambahnya.

Pengandi Widodo ini, mengimbau kepada masyarakat agar tetap berkepala dingin mendengar pergerakan kurs yang sempat mencapai Rp 15.000 per Dolar AS ini, apalagi jika ada masyarakat yang menyamakan dengan kondisi krisis monoter tahun 1998 yang lalu.

“Saya harap masyarakat tetap tenang. Sebab, Fundamental ekonomi tahun 1998 sangat berbeda dengan sekarang, dahulu nilai Rupiah terdepresiasi sampai mencapai 254 persen, sedangkan tahun ini Rupiah terdepresiasi hanya 11 persen saja. Apalagi saat ini BI dan OJK serta pihak terkait sudah berkolaborasi untuk memperbaiki neraca perdagangan,” pungkas pria ramah ini. (ags/b)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: [email protected] Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778