Pariwara
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Melemah, Tembus Rp 14.610 Per Dolar AS

ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dalam kondisi tertekan. Jelang akhir Agustus 2018, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS bergerak pada kisaran Rp 14.400 hingga Rp 14.600 per Dolar. Bahkan, Jumat (24/8) lalu, posisi nilai tukar rupiah semakin melemah hingga dilevel Rp 14.655.

Bank Indonesia (BI) melalui Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2018 yang dipublis di laman resminya, bi.go.id, menyatakan nilai tukar rupiah masih mengalami depresiasi pada kuartal II 2018. Faktor utama penyebab depresiasi adalah tekanan dari penguatan Dolar AS yang terjadi secara luas.

“Pada kuartal II 2018, secara point to point Rupiah melemah 3,94 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi Rp 14.330 per dollar AS. Depresiasi nilai tukar Rupiah berlanjut pada Juli 2018 dengan volatilitas yang menurun, meskipun dollar AS terus mengalami penguatan secara luas,” demikian keterangan dari laporan BI yang dikutip Kendari Pos, Senin (27/8).

Jika dibandingkan dengan posisi Juli 2018, Rupiah secara point to point melemah 0,62 persen menjadi Rp 14.420 per Dolar AS. Faktor pemicu penguatan Dolar AS disebut dari semakin tegangnya hubungan dagang AS dengan China dan menguatnya ekspetasi percepatan normalisasi di AS. Pelemahan Rupiah juga turut dipengaruhi oleh sentimen pelemahan ekonomi China,” sebut BI.

Lantas, seberapa parah depresiasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak dan dinamika kondisi global terkini? BI mencatat, depresiasi nilai tukar rupiah secara point to point pada Juli 2018 lebih rendah dibanding lira Turki, yuan Tiongkok, dan baht Thailand.

Secara rata-rata, depresiasi nilai tukar rupiah pada Juli 2018 masih lebih rendah dibandingkan negara sekawasan lain, yaitu yuan Tiongkok, won Korea, dan lira Turki. Kemudian jika dilihat lebih rinci, depresiasi rupiah secara year to date (per 24 Agustus 2018) sebesar 7,04 persen atau lebih rendah dibanding rupee India (8,66 persen), real Brazil (14,72 persen), rand Afrika Selatan (14,39 persen), dan rubel Rusia (15,36 persen).

“Depresiasi nilai tukar Rupiah disertai dengan volatilitas yang menurun sehingga pergerakan nilai tukar Rupiah relatif stabil,” tambah BI.
Menurut BI, volatilitas Rupiah didapati kembali menurun pada Juli 2018 di mana pelemahan nilai tukar rupiah masih ada pada level yang lebih baik dibandingkan dengan negara seperti Turki, Brazil, Afrika Selatan, dan Korea. Sehingga, BI meyakini turunnya volatilitas akan membuat aliran modal asing kembali masuk.

“Aliran modal asing kembali masuk ke semua jenis aset pasar keuangan domestik, terutama SBN (Surat Berharga Negara), sejalan denganyield yang meningkat. Pada bulan Juli juga, saham mencatat aliran modal asing masuk untuk pertama kalinya pada tahun 2018, meski masih terbatas,” demikian dijelaskan pihak BI.

Dengan begitu, BI memandang pelemahan nilai tukar Rupiah masih bersumber lebih banyak dari tekanan eksternal. BI memastikan untuk terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global sekaligus menempuh langkah untuk stabilisasi nilai tukar.

BI juga meningkatkan penyediaan layanan swap valas dengan tingkat harga yang lebih murah dalam rangka meningkatkan minat peserta lelang. Misalnya, biaya swap valas dari 4,85 persen jadi 4,62 persen untuk tenor 1 bulan dan dari 5,18 persen jadi 4,96 persen untuk tenor 1 tahun. (rls/Ags)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: [email protected] Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778