Pariwara
Kolom

Move On: Kutu Loncat atau Loncat Kutu, Oleh : Prof Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Tulisan ini terilhami dari dua tulisan di Kendari Pos edisi, Senin, 30 Juli 2018. Pertama, tulisan bung Irwan Zainuddin yang mengangkat topik “Kegagalan Partai Menyiapkan Kader”. Kedua, tajuk rencana menulis “Memilih Jalur Politik” yang seakan-akan jalur ini memberikan peluang lebih baik. Kedua tulisan ini memiliki makna yang berbeda. Bung Irwan mengklaim partai gagal membentuk kader politik, sedangkan tajuk rencana sepertinya memilih jalur politik itu membahagiakan. Itulah yang saya katakan “Move On, Kutu Loncat atau Loncat Kutu”.

“Move on” merupakan bahasa gaul yang saat ini viral di sosial media (sosmed) maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para remaja, penggunaan kata “move on” memiliki arti berpindah, bergeser dan sebagainya. Di Indonesia, istilah ini lebih mengarah kepada perpindahan cinta atau berpaling dari pasangan yang lama ke pasangan yang baru. Misalnya kalimat berikut ini “Aku harus bisa melupakannya, karena dia tidak mencintaiku” maka bahasa gaulnya “Aku harus segera Move On dari dia, karena dia tidak mencintaiku”. Inti dari “move on” adalah perpindahan dari suatu tempat karena kegagalan atau perpindahan karena mencari aktivitas yang lebih baik dalam mengejar suatu keberhasilan. Mungkin ini juga yang dikatakan dalam Bahasa Toraja, “rambu tuka” dalam arti literasinya asap ke atas.

Di dunia politik, sering terdengar istilah “move politik”. Maknanya sama dengan “move on”. Salah satu konsep perpindahan dari satu partai politik ke partai yang lain melalui jalur komunikasi politik. Karena berbeda cara pandang, maka banyak orang “move politik”. Bahkan banyak orang-orang yang bukan kader partai bisa nyaleg di partai tersebut, kata bung Irwan Zanuddin dalam tulisannya “Partai Gagal Siapkan Kader” (Spirit: Inspirational Story). Tak jarang pula PNS “move on” menjadi politisi dengan harapan memperluas pengabdian seperti makna dalam “Tajuk Rencana” Kendari Pos.

Jadi, seorang politisi memilih pindah partai politik ketika terjadi perbedaan pendapat di partainya. Padahal, fungsi partai seharusnya mampu mengolaborasi perbedaan-perbedaan tersebut menjadi sebuah kekuatan. Tak hanya perbedaan pendapat di internal partai, namun juga menghubungkan pemikiran politik yang hidup di tengah masyarakat, termasuk pemikiran organisasi keagamaan, golongan, dan pemerintah.

Perpindahan seorang politisi dari partai yang satu ke partai lain tanpa melalui sistim kaderisasi partai biasa disebut “kutu loncat”. Mereka yang direkrut tanpa pengaderan partai. Sementara politisi yang konsisten dengan partainya, tidak pindah partai meski tak ikut bursa bacaleg itu yang dimaksud loncat kutu (jalan di tempat). Kutu loncat memiliki dua makna. Bisa makna kias, juga bisa makna sesungguhnya. Tapi kutu memang suka meloncat-loncat. Pindah dari tubuh yang satu dan menjadi benalu di tubuh yang lain. Kutu juga melambangkan sesuatu yang kotor, hina, tidak beretika. Kutu loncat sebagai wujud inkonsistensi.

1 of 2

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: [email protected] Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778