Pariwara
HEADLINE NEWS

Maha Karya NUSA Diapresiasi, Diskusi Publik Sukses Digelar

FOTO BERSAMA: KI-KA: Kepala Bappeda Nasir Andi Baso, Direktur Kendari Pos La Ode Diada Nebansi, Kadis Perumahan Rakyat M. Efendi Patulak, Kadis Cipta Karya, Tata Ruang dan Jasa Konstruksi Pahri Yamsul, Rektor UHO Prof Muh Zamrun, Direktur Pascasarjana IAIN Kendari Dr. Suprianto, Kadis Perhubungan Hado Hasina, Rektor Unsultra Prof Andi Bahrun, dan Plt Kadis Sumber Daya Air dan Bina Marga Prov Sultra Rundubeli Hasan pose bersama usai diskusi publik di Grand Clarion Hotel Kendari, Kamis (25/1).

KENDARIPOS.CO.ID — Maha karya Nur Alam-Saleh Lasata selama 10 tahun memimpin Sultra dikupas tuntas dalam diskusi publik, kemarin (25/1). Lima narasumber menjelaskan secara gamblang tentang semua capaian yang sudah dilakukan pasangan berakronim NUSA itu selama satu dekade, khususnya di bidang infrastruktur. Mereka adalah Kepala Bappeda Sultra Nasir Andi Baso, Kadis Perhubungan Hado Hasina, Kadis Cipta Karya Tata Ruang dan Jasa Konstruksi Prov Sultra Pahri Yamsul, Plt Kadis Sumber Daya Air dan Bina Marga Prov Sultra Rundubeli Hasan, dan Kadis Perumahan Rakyat M. Efendi Patulak.

Forum diskusi berlangsung menarik. Banyak peserta yang memberikan argumen terhadap pemaparan para narasumber terkait hasil pembangunan yang sudah dilakukan NUSA. Meski ada sedikit masukan dan kritikan, namun mayoritas sepakat bahwa NUSA sukses membangun Sultra. Hasil karya mereka patut diapresiasi.

Apresiasi itu setidaknya disampaikan oleh tiga pimpinan perguruan tinggi di Sultra yang memang sengaja diundang menjadi penanggap. Mereka adalah Rektor UHO Prof Muh Zamrun, Rektor Unsultra Pro Andi Bahrun dan Rektor IAIN Kendari yang diwakili Direktur Pascasarjana IAIN Kendari Dr. Suprianto. “Desainer maha karya NUSA harusnya hadir di tengah-tengah diskusi ini. Karena itu cara terbaik untuk membalas jasa Nur Alam adalah dengan mendoakan kesehatan dan kekuatannya menjalani proses hukum yang dihadapi saat ini,” ungkap Dr. Suprianto saat memberikan tanggapannya.

Menurutnya, NUSA telah melampaui konsep pembangunan infrastruktur keagamaan. “Ini sangat jarang dipikirkan kepala daerah lain. Seperti hadirnya Masjid Al Alam. Ini menambah kebanggaan masyarakat muslim di Sultra. Kalau ada tamu dari luar daerah, saya sering ajak mereka melihat masjid itu. Itulah ikon kita, dan akan menjadi karya yang bernilai pahala luar biasa Insyaallah,” katanya.

Lanjut dia, karya NUSA sudah sangat komplit, sehingga penerusnya nanti tinggal menyempurnakan dan membuat program baru sesuai visi misinya. “Kalau pembangunan dasar, saya pikir sudah lengkap. Tinggal dilanjutkan saja,” jelasnya. Rektor Unsultra, Prof Andi Bahrun menyebut Nur Alam dan Saleh Lasata sebagai tokoh inspiratif. Menurutnya, kebijakan keduanya selangkah lebih cepat dari pada pemerintah pusat yang dinakhodai Jokowi-JK. Misalnya soal percepatan dan pemerataan infrastruktur ke wilayahan. “Jokowi-JK memprioritaskan itu setahun setelah NUSA sudah memulainya. Contohnya Pelabuhan Bungkutoko, jembatan Teluk Kendari dan masih banyak sekali yang tidak bisa saya sebutkan. Dan saya harus akui kalau bapak Nur Alam dan Saleh Lasata adalah tokoh inspiratif yang mampu membangun daerah dengan perencanaan yang matang,” pujinya.

Pemimpin selanjutnya masih kata Andi Bahrun tinggal melanjutkan saja apa yang sudah diletakkan dasarnya oleh NUSA. “Sekarang infrastruktur dasarnya sudah ada. Tantangan ke depan tinggal infrastruktur milenium, itu tugas pemimpin selanjutnya,” terangnya. Rektor UHO, Prof Muh Zamrun mengapresiasi diskusi publik yang diinisiasi oleh media terbesar di Sultra, Kendari Pos. Menurutnya, Kendari Pos sudah berpartisipasi dalam pembangunan daerah melalui kegiatan semacam itu. “Saya berpikir hal semacam ini jangan hanya ada ditingkat provinsi. Para bupati dan wali kota juga memiliki kewajiban yang sama untuk membeberkan karya mereka di akhir jabatannya,” katanya.

Suasana peserta Diskusi

Kata dia, itu sebagai bentuk pertanggungjawaban publik terhadap kinerja mereka selama lima tahun atau 10 tahun memimpin. Sebab, selama ini laporan semacam itu hanya sampai di meja DPRD. “Cara ini (diskusi publik,red) bisa dilakukan juga oleh pemerintah di daerah,” ucapnya. Sama halnya kedua koleganya, rektor muda multitalenta ini juga mengakui kesuksesan NUSA dalam membangun Sultra. “Untuk infrastruktur dasar, saya juga melihat begitu banyak perubahan semasa kepemimpinan Nur Alam dan Saleh Lasata. Yang masih kurang hanya kerja sama dengan perguruan tinggi. Selama ini Pemda lebih banyak bekerja sama dengan kampus luar. Sementara UHO hari ini sudah bisa menjadi mitra yang baik, itu mungkin yang bisa dipertimbangkan oleh gubernur selanjutnya,” katanya.

Beberapa peserta juga memberikan pandangannya. Salah satunya, Ketua Kadin Sultra, La Mandi. Secara umum, dirinya mengapresiasi capaian pembangunan selama 10 tahun kepemimpinan Sultra. Banyak infrastruktur yang dibangun dan nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sultra. “Harus diakui banyak hal yang sudah dilakukan keduanya (NUSA,red),” ujarnya.

Menurutnya, kalau mencermati paparan dari nara sumber, maka bisa dikatakan sekitar 75 persen pembangunan di Sultra sudah tuntas dikerjakan. Sisanya, berhubung masa pengabdian keduanya akan segera berakhir, sehingga tinggal dilanjutkan gubernur selanjutnya. “Ini kesuksesan yang luar biasa. Pemimpin Sultra ke depan tinggal melanjutkan saja,” ungkapnya.

Kendati begitu, dia punya harapan ke depan gubernur bisa lebih konsen lagi dalam hal pengembangan ekonomi daerah. Dia mencontohkan soal pengelolaan tambang. Harusnya tidak mesti datangkan perusahaan dari luar. “Kalau mau berdayakan masyarakat, harusnya perusahaan lokal yang dimanfaatkan. Kalau tidak mampu, pakai saja perusahaan daerah. Ini mungkin masukan, supaya ekonomi masyarakat lebih hebat lagi,” harapnya.

Sebelum diskusi dimulai, sebenarnya ada sesi dimana Plt. Gubernur Sultra, HM. Saleh Lasata didaulat untuk menjadi keinospeaker. Namun karena berhalangan hadir, sehingga diamanahkan kepada Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sultra, Muh Nasir Andi Baso sebagai penggantinya.

Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Provinsi Sultra Rundubeli Hasan saat memaparkan keberhasilan pasnagan NUSA.

Nasir mengungkapkan, selama duet kepemimpinan Nur Alam dan Saleh Lasata, Sultra sudah menunjukan progres pembangunan yang signifikan. Sejak periode pertama, sudah menggariskan satu visi luhur yakni Mewujudkan Sultra yang sejahtera dan berdaya saing. Dijelaskannya ada lima misi untuk mengejewantahkan visi itu. Pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ini ditekankan agar masyarakat Sultra bisa mengelola dan menikmati sumber daya alamnya sendiri melalui perencanaan dan pengembangan yang matang. Kedua, revitalisasi penyelenggaraan pemerintahan. “Dulu banyak sekali desa yang tidak ada kantor kepala desanya, makanya lahir kebijakan Rp 100 juta perdesa. Ini sukses meningkatkan peran aktif pemerintah desa,” jelasnya.

Misi ketiga yakni membangun perekonomian daerah. Kemiskinan di Sultra diawal kepemimpinan NUSA mencapai 21 persen. Kini setelah 10 tahun sudah menurun menjadi 12 persen. Pemerintah masih menargetkan ada dibawah angka dua digit. Keempat yakni membangun kebudayaan dan pariwisata, point ini sudah terlihat pada penyelenggaraan Halo Sultra yang memberi ruang promosi bagi pariwisata dan kebudayaan Sultra. “Kelima itu soal pembangunan infrastruktur wilayah, ini sudah bicara karya fisik dan bisa kita lihat sendiri,” katanya.

Masih kata mantan Kepala Inspektorat Sultra itu, peningkatan anggaran Sultra dari tahun ke tahun juga menjadi capaian yang luar biasa. Sebab jika bukan NUSA tentu hasilnya akan berbeda. APBD Sultra tahun 2007 lalu hanya senilai Rp 700 miliar. Kini sudah mencapai Rp 3,5 triliun. “Biaya pembangunan itu mahal. Kita tidak bisa bertumpu pada APBD saja, harus ada model pembiayaan lain seperti sharing dengan pemerintah pusat. Makanya ada itu jembatan teluk, bendungan pelosika dan ladongi, kalau mau andalkan APBD maka anggaran kita habis untuk itu saja,” paparnya.

Sebagai tambahan, dalam diskusi tersebut, hampir semua elemen diundang. Mulia dari kalangan pengusaha, seperti Kadin, Iwapi, Ipemi dan lainnya. Ada juga dari anggota DPRD Sultra, DPRD kabupaten/kota, pemerintah daerah, tokoh masyarakat hingga mahasiswa. Seribuan orang hadir dalam diskusi tersebut. Semakin semarak karena dipandu wartawam senior yang juga menjabat Direktur Kendari Pos, La Ode Diada Nebansi dan didampingi Biro Direksi, Sawaluddin Lakawa. (b/ely/ing)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

loading...

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: [email protected] Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kendari1/public_html/wp-includes/functions.php on line 3778