Pariwara
Kolom

Hormon Endorfin dan Kebahagiaan, Oleh: Prof Hanna

Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Perjalanan menuju Lahat, salah satu Kabupaten di Sumatera Selatan (Sumsel) yang kaya dengan Tambang Batu Bara penuh inspirasi. Perjalanan itu memang sangat melelahkan, karena harus menggunakan Kereta Api dengan jarak tempuh 4 – 5 jam dari Palembang.

Melelahkan, karena saya mengambil perjalanan langsung pulang pergi. Banyak teman menyarankan menggunakan Kereta Api, karena khawatir terjebak macet. Banyak truck pengangkut batu bara yang parkir di pinggir jalan karena belum diperbolehkan memasuki Palembang sebelum pukul 18.00 Wita. Kebijakan ini bukan karena pelaksanaan Asian Games tetapi sudah berlangsung sejak beberapa tahun silam.

Perjalanan yang melelahkan itu terasa nyaman dan membahagiakan. Sebab, dilakukan dengan keikhlasan. Dalam beberapa referensi didapatlan bahwa kalau kita ikhlas maka akan membuahkan kebahagiaan. Hal ini karena, kita tidak memiliki beban yang bisa mempengaruhi hormon kebahagiaan manusia.

Dalam perjalanan itu, saya membaca postingan teman-teman melalui whatshapp (WA) tentang hormon kebahagian, dan beberapa postingan lain melalui media social. Hormon yang saya maksudkan itu disebut Homon Endorfin. Dalam beberapa referensi saya baca, Hormon Endorfin adalah salah satu hormon yang dikeluarkan oleh tubuh yang membuat bahagia, dan menambah daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Nama zat endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan menambah kekebalan tubuh. Endorphin diproduksi oleh tubuh kita (kelenjar pituitary) yaitu pada saat kita merasa bahagia (tertawa) dan pada saat istirahat cukup. Endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia. Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis.

Hormon Endorfin terdiri dari neuropeptida opioid endogen. Kata Endorphin terdiri dari dua kata: endo dan -orphin; yang merupakan bentuk singkat dari kata-kata endogen dan morfin. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa neuropeptida ini bekerja seperti zat morfin, namun berasal dari dalam tubuh. Hormon ini seperti obat tidur yang diproduksi secara sehat oleh tubuh dan disebut-sebut juga sebagai penghilang rasa nyeri. Bahkan, jauh lebih kuat dari banyak obat sekalipun.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana hormon endorfin ini diproduksi dalam tubuh kita. Dalam berbagai literatur diperoleh pengetahuan bahwa hormon endorfin ini diproduksi ketika kita berfikir positif, berperasaan (emosi) positif, dan juga bertindak positif. Demikian juga saat kita bersyukur, secara otomatis tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin.

Intinya bahwa semakin kita berpikiran baik, positif, tersenyum, berbahagia dalam hidup, akan lebih banyak hormon endorfin yang keluar. Oleh karena itu, kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan memproduksi hormon endorfin ini dengan cara membangun pemikiran positif terhadap perilaku orang lain. Hal ini disebabkan karena saat pikiran dan hati kita positif, maka tubuh akan menghasilkan hormon kebahagiaan lebih banyak.

Kelebihan Hormon Endorfin dapat menghasilkan perasaan euforia yang sangat mirip dengan yang dihasilkan oleh opioid lainnya. Namun, apabila kadarnya terlalu banyak, maka dalam waktu yang lama dapat menyebabkan seseorang selalu merasa tersudutkan atau terancam, dan memicu refleks cemas dan ketakutan untuk setiap hal kecil. Hal ini terjadi karena tubuh yang dibanjiri endorfin akan secara alami mengasumsikan bahwa akan datang sesuatu yang menyakitkan.

Pada autisme diduga terjadi kekurangan enzim yang memetabolisme endorphin. Kelebihan endorfin juga diduga berperan dalam gangguan depersonalisasi. Hal ini terlihat dari adanya perbaikan terhadap pasien gangguan depersonalisasi setelah mendapatkan pengobatan dengan antidotum opiat naloxon ataupun naltrekson.

Oleh karena itu, yang perlu dilakukan dalam hidup ini untuk menuju sehat adalah keseimbangan hormon endorphin dalam tubuh. Caranya, pertama dengan membangun persepsi dan berpikir positif. Kedua, hindari berpikir negatif. Karena pikiran negatif akan menjadi negatif pula dampaknya. Akhirnya, timbul rasa marah, kesal, dan juga menyesal. Ketiga, agama selalu mengajak kita untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Keempat, bangun perasaan emosi positif yang senantiasa mencintai dan ikhlas mengerjakan sesuatu. Kelima, lakukan kebaikan setiap saat dimanapun berada. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download Aplikasi Epaper Kendari Pos

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top